Salah satu suku di Desa Weluli, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, memiliki tradisi unik. Mereka memberi makan sumber mata air dengan cara mempersembahkan sejumlah hewan ternak. Suku Marae, begitulah mereka dipanggil, menyakini mata air memiliki penunggu, yang tak lain adalah leluhur mereka sendiri. Suku ini berdiam di perbatasan NTT-Timur Leste, jarak permukiman mereka sekira 65 kilometer dari Kota Atambua.
Anggota suku ini percaya akan dapat hidup tenteram, sejahtera, serta dijauhkan dari segala mara bahaya apabila menghormati sumber air. Mata air diyakini menjadi sumber mala petaka apabila tidak dirawat dengan cara diberi makan.
Menurut mereka, semakin sering memberi makan pada mata air maka segala usaha yang dilakukan untuk kelangsungan hidup di muka bumi ini bakal terus dikabulkan. Ketua Suku Adat Weluli, Simon Loe menjelaskan, leluhur sukunya berasal dari Timor Leste yang kini menjadi sebuah negara sendiri.
Ritual memberi makan mata air diawali dengan mendatangi mata air Weluli, salah satu sumber air dari puluhan mata air di perbatasan Timor Leste dengan Indonesia. Kemudian pemimpin upacara menyembelih seekor ayam jantan merah. Selanjutnya darah ayam dialirkan ke sumber mata air. Tak hanya itu, seekor babi juga ditusuk dengan sebilah pisau. Darah babi lantas dioleskan pada dahi dan leher keluarga yang melakukan ritual.
“Seluruh proses ini menjadi cermin akan pelestarian budaya. Kehadiran seluruh anggota keluarga, terutama yang berusia di bawah 20 tahun untuk menyaksikan ritual harus diupayakan agar tradisi ini terus lestari,” tandas Simon. (okezone)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar