Minggu, 24 Juli 2011

Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Bidang Seni Budaya

Oleh:
Nurul Arifin1

Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi.2
Kini istilah globalisasi telah mencakup pengertian yang menggambarkan suatu proses atau gerakan multi-dimensi yang bersifat simultan, terutama dalam bidang ekonomi, politik dan budaya. Proses globalisasi memang seimbang dengan kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia, memang selalu terdapat upaya manusia untuk mendekatkan diri antara satu sama lain dan mencari titik persamaan. Jadi globalisasi memang mengakibatkan dunia semakin menyatu dan membawa dampak positif dan juga dampak negatif bagi kemanusiaan. Dampak positif globalisasi seperti misalnya hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang memungkinkan perkembangan teknologi dan industri yang mempermudah kehidupan umat manusia. Nilai positif dari arus globalisasi adalah kita harus mampu memberdayakan diri kita dengan mengasah kemampuan kita sehingga mampu bersaing di dunia global. Namun demikian ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya, khususnya bagi negara dan masyarakat yang belum siap menghadapi globalisasi. Kita melihat dampak negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Dampak negatif lain dari globalisasi salah satunya adalah pornografi, hedonisme dan kekerasan yang menyusup melalui jaringan komunikasi dan informasi di televisi, media massa maupun internet. Jadi dampak globalisasi ini bisa menyentuh berbagai aspek kehidupan; politik, sosial, ekonomi, juga seni dan budaya karena di sepanjang 30 tahun terakhir, negara-negara Barat berusaha memaksa masyarakat dunia untuk menerima nilai-nilai Barat secara mutlak.
Dampak Globalisasi terhadap Seni Budaya dan Perempuan
Globalisasi juga telah menimbulkan masalah kepada aspek kehidupan di bidang seni dan budaya karena berusaha memaksakan satu budaya, yaitu budaya barat agar diterapkan kepada semua bangsa-bangsa di dunia, yang jelas berbeda satu sama lain. Itu artinya kebudayaan lokal bangsa-bangsa itu menjadi tersingkir dan proses ini akan menyebabkan hegemoni Barat dan Amerika terhadap negara-negara tersebut.
Globalisasi dalam aspek yang positif justru akan merangsang berbagai budaya dan nilai-nilai budaya di mana setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Globalisasi dalam aspek yang positif bukan bermakna penguasaan atas seni. Seorang seniman dan sebuah aliran seni sama sekali tidak pernah melahirkan karya seni dengan tujuan untuk menguasai orang lain, melainkan berusaha mengajak para penonton atau pembacanya agar memasuki dunia seni itu sendiri dan mengapresiasikannya secara personal. Seni berusaha untuk menjelaskan suatu objek secara transparan dan mengurangi jaraknya dengan penonton. Tapi globalisasi saat ini justru memberi dampak pada fenomena manusia berhadapan dengan seni yang digunakan untuk menguasai suatu kelompok atau suatu bangsa. Contohnya,melalui seni peran dan perfilman, industri perfilman Hollywood memproduksi kurang lebih 700 film dalam setahun dan memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. Melalui pengusaan marketing dan modal, maka industri ini mampu menarik penonton dalam jumlah besar di seluruh dunia sehingga secara praktis film Hollywood telah berubah menjadi sarana penguasaan Amerika.
Jadi globalisasi mungkin saja mendatangkan musibah kepada seni budaya kita, karena ia dapat mencabut akar budaya sebuah bangsa. Hal ini tidak akan terhindarkan dalam era globalisasi ini, di mana bangsa-bangsa harus memproduksi karya-karya seni budaya yang sesuai dengan tuntutan pasar dunia, yaitu seni budaya yang seragam dan berkiblat pada seni budaya barat. Namun di sisi lain, globalisasi sebetulnya bisa memberikan kesempatan istimewa untuk bangsa-bangsa yang kaya dengan seni budaya nya. Mereka tinggal memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing sehingga seni budaya yang dimiliki kokoh dan terpelihara. Para budayawan maupun seniman juga harus menggali  dan menemukan keistimewaan-keistimewaan budayanya masing-masing, lalu memperkenalkannya kepada bangsa-bangsa lain Dengan demikian, globalisasi memberikan kesempatan seni budaya kita tersebar ke luar batas negara dan memberikan pengaruh kepada dunia. Sejarah menyaksikan bahwa seni budaya dari Iran, India, dan Italia berkembang sampai ke negara-negara yang jauh secara gemilang. Karena itu, bangsa Asia yang percaya kepada kekuatan akar budaya mereka tidak perlu takut pada pengaruh asing. Kita harus berusaha untuk memahami bagaimana seni dan budaya justru bisa menjadi tameng pertahanan nilai dan tradisi lokal. Oleh karena itu masyarakat Dunia Ketiga haruslah melepaskan diri dari sikap pasif dalam menghadapi globalisasi. Mereka haruslah berupaya secara aktif untuk menemukan kekuatan akar budaya, memberdayakan diri untuk melestarikannya dan mengenalkan kekayaan seni budaya tersebut di dunia global.
Akibat globalisasi bagi perempuan Indonesia khususnya juga memiliki dua akibat, negatif dan positif. Akibat negatifnya adalah dalam era globalisasi ini, masyarakat umum dan khususnya perempuan akan menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang semakin kuat dalam menjalankan usaha dan upaya memperbaiki kehidupannya, khususnya di bidang ekonomi karena perempuan memiliki keterbatasan dan diskriminasi dalam akses kesempatan kerja maupun pinjaman modal. Akibat positifnya adalah adanya re-interpretasi pada sistem nilai dan budaya patriarki yang telah melekat dari generasi ke generasi di Indonesia yang menyubordinatkan perempuan di bawah superioritas laki-laki. Dahulu perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah dan perlu diajari, dibimbing, dan diamankan. Semua itu menjadi pembenaran perempuan tidak bisa berperan di ruang publik, diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya, dan berkonsentrasi di wilayah domestik semata. Re-interpretasi terhadap nilai-nilai patriarkhi ini mengakibatkan munculnya kesempatan bagi perempuan untuk bekerja di berbagai bidang pekerjaan serta mengenyam pendidikan tinggi menjadi semakin terbuka. Bahkan kesempatan ini menandai kebangkitan perempuan-perempuan kreatif yang berusaha mendobrak kungkungan patriarkhi dalam bentuk budaya yang membatasi kreatifitas dan imajinasi perempuan untuk berkarya.
Tidak mengherankan jika kemudian semakin banyak muncul perempuan yang berprestasi dan memberikan inspirasi bagi kaumnya. Oleh karena itu keberhasilan perempuan di bidang pendidikan, seni budaya, sosial, ekonomi membuktikan bahwa apabila potensi perempuan diberdayakan secara optimal maka perempuan akan mampu menjadi sosok yang berkualitas, profesional, mandiri, produktif, dan bisa ikut serta memberikan kontribusi bagi Negara.

Bangsa Indonesia yang tengah menghadapi berbagai beban dan masalah mencoba menyandarkan harapannya kepada perempuan. Karena sejarah sudah membuktikan ketika krisis moneter terjatuh dan terjadi masalah sosial ekonomi yang luar biasa, maka keluarga Indonesia masih mampu berdiri tegak karena perjuangan kelompok perempuannya. Oleh karena itu dalam kondisi bagaimanapun dan tantangan ke depan yang semakin kompleks di tengah arus globalisasi, Bangsa Indonesia membutuhkan energi baru yang mampu mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Perempuan Indonesia merupakan momentum berharga dan penting untuk mengawal upaya perbaikan dan peningkatan kualitas bangsa dan negara agar dapat bersaing di era globalisasi. Salah satu upaya yang dapat segera dilakukan adalah menumbuhkan kembali semangat kebangsaan bagi seluruh sumber daya manusia, baik laki-laki maupun perempuan; memperbaiki etos kerja, menemukan dan memperkuat akar budaya bangsa sehingga bisa menjadi negara yang bermartabat di dunia internasional.
Kebangkitan nasional dan kebangkitan seni budaya perempuan
Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo [1908] dan Sumpah Pemuda [1928]. Momentum 100 tahun kebangkitan nasional saat ini merupakan saat untuk mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, khususnya kebangkitan perempuan dalam berbagai bidang termasuk seni dan budaya yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa. Semangat itulah yang diharapkan senantiasa ada dan terus digalakkan untuk mengingatkan semua pihak, bahwa kaum perempuan mampu menjalankan perannya di domestik maupun publik sebagai subyek pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.
Kebangkitan perempuan di bidang seni dan budaya diawali oleh sebuah fenomena paling menonjol dalam dinamika seni dan budaya di akhir 1900-an dan tahun 2000-an dengan munculnya generasi muda seniman dan sastrawan perempuan. Penulis dan pengamat seni rupa yaitu Carla Bianpoen dalam berbagai publikasinya mencatat kebangkitan perempuan dalam seni yang sampai 1990-an kurang mendapat perhatian dari para kritikus seni. Dalam pameran KIAS di Amerika Serikat, tahun 1990-1992, hanya ada empat karya seni perempuan yang dipilih untuk dipamerkan di antara 60 karya pelukis dari Indonesia. Ketika negara-negara Islam seperti Pakistan dan Turki mengikutsertakan perupa perempuan dalam pameran Modernities and Memories pada tahun 1997, tidak ada perempuan perupa dari Indonesia yang terseleksi. Sedikitnya jumlah perempuan yang menjadi seniman atau budayawan memang merupakan konsekuensi dari masyarakat Indonesia dan sistem yang masih patriakis. Dominasi maskulin sangat terasa diberbagai hal. Untuk menjadi seniman, atau budayawan perempuan perlu usaha lebih keras dibandingkan lelaki. Seniman perempuan cenderung dianggap kurang serius dan dimarjinalisasi.
Oleh karena itu, perubahan di akhir 1990-an dan terutama di awal 2000-an terjadi kebangkitan perempuan untuk menghasilkan karya seni dan budaya dari perspektif perempuan. Atau dengan kata lain partisipasi seniman maupun budayawan perempuan mulai meningkat secara mencolok di berbagai forum seni. Arus globalisasi memang mengakibatkan perempuan memiliki keberanian dan kesempatan untuk mengekpresikan dirinya melalui berbagai bidang seni dan budaya. Bahkan ekspresi tersebut bukan saja semata-mata sebagai produk karya seni dan budaya, namun juga sebagai bentuk pemberontakan terhadap sistem patriarkhi yang mengikat selama ini.
1. Seni Sastra
Pemikir feminis, seperti Helene Cixous, misalnya, dalam tulisannya yang revolusioner, ”The Laugh of the Medusa”, menganjurkan direbutnya dunia ’menulis’ dari penjajahan patriarki dan dikembangkannya suatu gaya penulisan yang lahir dari pengalaman khas perempuan dalam hidupnya.3 Karena penulis perempuan memiliki cara pandang sendiri terhadap suatu masalah. Penggambaran perempuan berubah total oleh para penulis perempuan seperti NH Dini. Karya NH Dini adalah karya-karya yang sangat representatif bagi banyak persoalan perempuan yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. NH Dini adalah salah seorang penulis pertama yang mengetengahkan pengalaman perempuan Indonesia secara terbuka ke dalam tulisan. Seperti novelnya yang berjudul Pada Sebuah Kapal (1973) yang menerima banyak protes dari laki-laki yang mengatakan bahwa bukunya tidak pantas diterbitkan karena bercerita tentang cerita seks saja. Padahal dalam waktu bersamaan banyak juga perempuan yang mengirim surat kepada NH Dini yang berterima kasih karena buku tersebut betul-betul mengungkapkan pengalaman dan perasaan mereka sebagai perempuan.4
Pencitraan perempuan yang dimunculkan oleh NH Dini adalah sebuah upaya untuk mencermati pola-pola perlawanan (resistensi) perempuan sebagai strategi untuk melakukan tawar menawar terhadap pemaksaan patriarkhis yang cenderung merugikan pihak perempuan. Selain itu, pembaca diajak secara jeli melihat kemungkinan terjadinya dialog yang lebih luas mengenai perilaku perempuan di tengah pluralitas kehidupan masyarakat. Bagaimanapun, kehidupan dan persoalan yang dihadapi perempuan lebih banyak menghamparkan pilihan-pilihan yang tidak semata-mata bisa dihentikan dengan menciptakan stereotip atau memproduksi stigma yang hanya mengukuhkan dominasi patriarki.
Karya NH Dini juga sepatutnya diresapi sebagai sebuah karya yang lugas tapi berani memberikan penjelasan mengenai berbagai ekspresi perempuan seperti keinginan perempuan dari segi seksualitasnya wilayah yang dianggap tabu berusaha dikritisi oleh NH Dini, dengan secara implisit mengatakan bahwa norma yang ada di masyarakat tidak lebih dari konstruksi yang diciptakan, dipelihara, dan direproduksi secara terus menerus. Di tengah-tengah hamparan konstruksi inilah perempuan diupayakan semakin mengerti bahwa posisi mereka memang selalu rawan digempur oleh berbagai hegemoni yang terkadang halus, tak tampak, tapi bisa dirasakan.5
Nampaknya kebangkitan perempuan di bidang sastra tidak terbendung lagi bahkan muncul wacana bahwa masa depan sastra terletak di tangan perempuan. Saat ini semakin banyak penulis dan penyair perempuan bermunculan dengan karya yang mampu melampaui karya penulis dan penyair laki-laki. Seperti Nawal el-Sadawi, seorang sastrawan wanita Mesir yang karya-karyanya telah mampu menembus batas-batas dunia bisa menjadi inspirasi kekuatan sebuah karya perempuan. Tulisan-tulisannya sebagian besar mengangkat persoalan-persoalan perempuan (feminis) dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Seperti Perempuan di Titik Nol, yang berkisah tentang perempuan bernama Firdaus, perempuan yang hidup dalam kungkungan patriarkhi yang kental, khas dunia timur. Perjalanan hidupnya tak jauh dari perjalanan dirinya sebagai korban kekerasan seksaul. Firdaus sudah menjalani kehidupan yang diskriminatif terhadap perempuan sejak ia masih kanak-kanak. Sejak dia tidak mengerti sama sekali tentang kenikmatan seks, dirinya sudah di jadikan budak seks oleh keluarganya. Inti kisah ini adalah bagaimana Firdaus mencoba mengenali dirinya dan tubuh perempuannya, menggugat lingkungan partiakhi yang membelenggunya dan mencoba mencari penyelesaian terhadap masalahnya itu.
Penulis perempuan muda di Indonesia seperti Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Dewi Lestari merupakan kemajuan yang luar biasa bagi karya perempuan dan mereka patut dicatat telah melahirkan karya-karya sastra penting. Tak heran jika menurut Gadis Arivia, para penulis perempuan seperti mereka berhasil mendobrak keterkungkungan nilai-nilai patriarkis lewat ekspresi, bahasa, dan gaya mereka.6 Keberanian mereka memang terlihat ketika mereka mengeksplorasi secara terbuka tubuh dan seksualitas dalam karya-karya mereka sehingga membangkitkan kontroversi, karena mendobrak tabu-tabu yang tersisa.
Padahal menurut Djenar Maesa Ayu, seks adalah sesuatu yang ”tidak mewah-mewah amat.” Ia bisa dengan santai dan bebas membicarakan seks bahkan dengan kedua orang tuanya karena seks adalah bagian yang tak terpisahkan dari realitas keseharian hidup manusia. Apa yang dituliskannya, dengan kata lain, tidak terletak di luar realitas sehingga semestinya tidak perlu diributkan. Reaksi keras atas tulisan-tulisannya yang diperolehnya dari pembaca justru mayoritas datang dari pembaca perempuan. Akibatnya, timbul pertanyaan dalam diri Djenar apakah perempuan begitu sulit untuk sampai pada pengalaman bahwa ”seks itu indah”, sehingga ketika tema ini diangkat dalam tulisan, ia disikapi dengan sangat negatif. Ini memperlihatkan bahwa memang pengalaman perempuan dengan seks pun secara cukup nyata dipengaruhi oleh wacana dominan tentang seks yang dikedepankan oleh patriarki.7
Ayu Utami, dengan novelnya Saman yang memenangkan sayembara DKJ, menembus konvensi tiras buku sastra, yang sebelumnya hanya dicapai oleh penjualan novel Pramoedya Ananta Toer. Bukan itu saja, novel Saman memenangkan pertandingan kesusasteraan yang diadakan oleh Jakarta Arts Council pada tahun 1998 dan sesudah itu mendapatkan penghargaan Prince Claus Award dan terjual 55.000 eksemplar. Ini adalah fenomena baru dalam kesusastraan Indonesia bahwa karya sastra yang biasanya identik dengan ”bacaan berat” bisa laku secara komersil dan disukai pembaca umum.
Fenomena kebangkitan penulis perempuan lainnya adalah karya Dewi Lestari atau Dee, yang mendanai secara mandiri novel-novelnya. Karya perdananya berjudul Supernova dan laris manis penjualannya bak kacang goreng nampaknya membawa misi melebarkan pada ”bacaan serius’ ke khalayak yang lebih luas. Supernova adalah novel yang mencampur science, social culture, psikologi umum, humanisme, sejarah pengetahuan dunia dan tentu saja, romantisme cinta dalam kehidupan. Hal yang paling menarik dari novel ini karena mengandung banyak filsafat, baik dinilai dari segi agama maupun sosial kemasyarakatan. Supernova jelas bukan tipe bacaan yang menjual mimpi melalui cerita-cerita cinta obralan, tetapi novel yang lebih bertujuan menyadarkan manusia akan pentingnya arti kehidupan. Novel Supernova telah memperlihatkan sisi lain dari kejeniusan penulis perempuan yang mendobrak standar kualitas penulis bahwa penulis laki-laki lebih baik dari pada penulis perempuan.
2. Seni Tari
Retno Maruti, seniman yang terkenal memiliki daya cipta tinggi sehingga dinobatkan sebagai maestro tari Jawa klasik sangat kreatif mengembangkan tari Jawa klasik yang dianggap kuno menjadi memukau selera penonton modern dalam beberapa pagelaran monumental. 8 Apa yang dilakukan Retno merupakan sebuah bentuk kesiapan menghadapi arus globalisasi yang membawa pengaruh seni budaya barat dengan deras. Tari jawa Klasik yang merupakan salah satu akar budaya bangsa Indonesia bisa dinikmati sebagai karya seni di era modern.
Selain mampu menampilkan seni tradisi dengan suatu kedalaman rasa secara kreatif, Retno juga berhasil melahirkan seniman dan penari klasik muda. Sebagai koreografer dan penari, dia memelihara kejujuran dalam berkarya. Dengan kejujuran dan kreativitas itu pula dia menghasilkan beberapa karya komposisi tari yang memadukan unsur klasik, tradisi, dengan selera penonton modern. Apa yang dilakukan oleh Retno Maruti merupakan sumbangan berarti bagi kiprah perempuan di bidang seni tari karena Retno tidak hanya menjalankan aktivitanya sebagai seniman saja tetapi ia menghasilkan terobosan-terobosan baru di bidang seni tari sehingga seni tari klasik Jawa tetap menjadi karya seni yang bisa bersaing merebut penikmat seni di era globalisasi.
Menurut Retno, seni harus bermanfaat dalam kehidupan, dan manfaat ini tidak harus berbentuk dalam materi. Manfaat ini bisa berbentuk ketentraman batin. Mungkin orang asing lebih bisa merasakan hal ini karena mereka diasah untuk mengenal, memahami dan melakukan aktivitas seni. Padahal untuk menjadi manusia industri yang produktif, kebutuhan batin tidak bisa diabaikan.9
3. Seni Suara
Waldjinah, adalah seorang perempuan berprestasi dalam seni musik. Waljinah dihargai sebagai seniwati pelestari musik keroncong yang selalu mengenakan kebaya dan kain. Kekhasan suaranya yang
mampu mencapai lengkingan tinggi menjadi salah satu ciri khas Waljinah. Waljinah mengawali kariernya sebagai penyanyi keroncong dan langgam Jawa lebih 30 tahun silam, hingga kini namanya tetap eksis di hati para penggemar dan menjadi ikon sebagai penyanyi keroncong yang tidak lekang oleh jaman. Bahkan Waljinah sempat ikut berkolaborasi bersama Chrisye yang beraliran pop modern. Bahkan Waljinah bisa menyanyi dengan instrumen apapun. Orkestra, gamelan atau campursari. Waljinah akhirnya menjadi tolok ukur, dari sisi suara, cara bernyanyi dan bagaimana penampilan ketika bernyanyi. Waljinah mencoba mempertahankan itu di mana pun dia diajak menjadi bintang tamu penyanyi keroncong, Waljinah pasti akan bertahan dan memakai sanggul.
10 Kiprah Waljinah ini menjadi bukti lagi bahwa kreativitas seni dari perempuan Indonesia ternyata sudah mencakup tanggungjawab seniman untuk siap menghadapi arus globalisasi. Waljinah tidak ingin merubah pilihan aliran musiknya, yaitu keroncong, tetap menggunakan kebaya dan sanggul. Atribut tersebut dianggap Waljinah sebagai akar budaya bangsa sehingga patut dilestarikan. Bahkan ia tidak peduli dengan anggapan kuno.
Selain Waldjinah, sekarang ini banyak juga musisi perempuan yang berusia lebih muda namun prestasinya bisa dibanggakan seperti Melly Goeslaw. Melly adalah satu dari sekian penyanyi sekaligus pencipta lagu yang produktif di Indonesia. Terbukti dengan lagu-lagu yang dihasilkannya dalam album Potret pertama berjudul "Terbujuk",(1996) album kedua "potret II," (1997) dan beratus lagu yang dinyanyikan orang lain maupun dirinya sendiri dalam album singlenya. Berbeda dengan lagu-lagu lain, lagu-lagu yang diciptakan Melly bersifat unik, bahkan terkadang menyimpang, keluar dari pakem. Dalam lagu-lagunya Melly berani bertutur dan mencitrakan perempuan yang berani. Seperti lagu Bunda, bercerita tentang cinta terhadap ibu. Lalu lagu Diam tentang protes terhadap kekerasan pada perempuan. Melly juga memiliki banyak prestasi. Antara lain Juara Asia Bagus, Cipta Pesona Bintang, Bintang Radio dan Televisi dan lain-lain. Kehadiran Melly sebagai pencipta lagu yang produktif merupakan pendobrakan dari dominasi pencipta lagu laki-laki.
4. Seni Acting dan Perfilman
Sebagai bagian dari produk kesenian, perfilman memiliki bentuk yang khas yang membedakannya dari cabang seni lainnya. Terdapat suatu proses psikologis yang menarik dalam sebuah film: ada identifikasi optis, yaitu visualisasi/gambar-gambar yang tertangkap oleh mata: kandungan emosi, yaitu ada kesedihan, kebahagiaan, kemarahan atau bentuk-bentuk emosi lainnya; dan bayangan imajinatif, seperti bagaimana alur cerita akan terjadi, dan bagaimana cerita film tersebut akan berakhir.11 Proses psikologis ini dapat mempengaruhi persepsi akhir yang dialami penonton, sehingga pemahaman baru terhadap persoalan-persoalan kehidupan dapat muncul.
Sementara proses sosiologis dalam film adalah ketika nilai-nilai kehidupan yang terpapar di film akan tersosialisasi dengan efektift. Ketika film memperlihatkan nilai tentang kesetaraan gender atau penghormatan terhadap perempuan, maka nilai-nilai tersebut akan tersosialisasi kepada masyarakat. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, maka bisa dipastikan pula bahwa nilai-nilai patriarkhi akan semakin kuat melekat pada masyarakat. Jadi film sebagai produk seni menjadi sebuah karya seni yang bisa mempengaruhi penontonnya sedemikian rupa.
Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan oleh bintang film Christine Hakim bahwa dunia film itu sarat dengan ilmu pengetahuan – tidak seperti pandangannya sebelumnya yang pada awalnya mengira bahwa dunia perfilman itu hanya dunia glamor. Sebetulnya film itu dunia yang penuh dengan hal-hal tentang kehidupan – dunia film itu seperti perpustakaan. Secara teknis memang sifatnya precise, tapi kalau kita bicara tentang film, film itu menggambarkan kehidupan, dan kehidupan itu beragam.12
Kiprah perempuan lain yang juga terlihat di cabang perfilman adalah Nan T Achas, Nia Dinata, lola Amaria dan Sekar Ayu Asmara memecahkan kebekuan dalam dunia perfilman Indoesia melalui karya-karya mereka yang inovatif. Film yang pernah dibuat oleh Nan T Achas pada tahun 2001, film garapannya "Pasir Berbisik" masuk kompetisi "New Currents". Film ini mengisahkan kehidupan seorang gadis, Daya (Dian Sastrowardoyo) yang hidup bersama ibunya, Berlian (Christine Hakim), seorang wanita yang menyambung hidupnya dengan menjual jamu. Film Nan Achas yang pertama ini memperoleh Best Cinematography Award, Best Sound Award dan Jury's Special Award For Most Promising Director untuk Festival Filem Asia Pacific 2001. Selain itu, Pasir Berbisik meraih penghargaan Fipresci Award di 12th Films From the South Festival di Oslo, NETPAC Special Mention Award di Brisbane International Film Festival 2002.13
Selain itu, kita bisa lihat karya Nia Dinata dengan filmnya Berbagi Suami yang menceritakan tentang tiga perempuan dari kebudayaan berbeda namun sama-sama mempunyai suami yang melakukan poligami. Dalam proses pembuatannya, film ini melalui proses observasi dan riset. Film ini adalah kisah poligami dari sudut pandang perempuan. Dan film ini terpilih sebagai Movie of The Year pada pergelaran MTV Indonesia Movie Awards (MIMA) 2006 dan Nia Dinata juga berhasil meraih juara dengan kategori sutradara terpilih dan film terbaik dalam Festival Film Jakarta. Dan film ini juga menjadi Film Terbaik 26th Hawaii International Film Festival..14
Film lain yang dibuat Nia Dinata yang dikerjakan bersama-sama tiga rekannya yang lain juga merupakan karya yang menarik yaitu Perempuan Punya Cerita. Film ini merupakan sebuah produksi yang unik karena ini adalah sebuah film antologi yang terinspirasi dari berbagai masalah yang menyelimuti kehidupan perempuan Indonesia. Film antologi ini terdiri dari empat film pendek yang berbeda, diikat bersama oleh satu premis, yaitu permasalahan perempuan. Empat sutradara perempuan menyutradarai film ini adalah: Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony. Perempuan Punya Cerita mengambil filosofi hidup bunga teratai sebagai dasar untuk tema film. Sebagai bunga, teratai tumbuh dengan keanggunan dan harga diri di tengah-tengah lingkungan yang kotor dan penuh lumpur. Ini seperti gambaran dari para perempuan di dalam tiap film pendek, mereka harus mempertahankan harga diri mereka bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Perempuan Punya Cerita adalah respon yang tajam dan serius atas keadaan banyak perempuan di Indonesia. Keempat cerita tersebut mengangkat tema-tema perempuan mulai dari kesehatan (kanker, HIV/AIDS), perdagangan anak, hingga aborsi dan seksualitas (kesadaran akan tubuh dan kesehatan reproduksi). Film ini dibuat memang dengan tujuan untuk membangkitkan kesadaran akan isu-isu perempuan.
Bicara tentang kebangkitan seniman film, tidak bisa dilupakan kiprah Mira Lesmana, seorang sutradara dan produser film. Mira berhasil kembali mengangkat dan membangkitkan lagi perfilman di Indonesia yang sudah tidur lama. Keberanian Mira untuk membuat film Indonesia Petualangan Sherina di saat perfilman sedang mati suri merupakan pendobrakan yang luar biasa, termasuk bahwa karya nya ini merupkan terobosan baru dalam tema film yang mengangkat anak-anak.
5. Seni Teater
Berbeda dengan fenomena seniman perempuan di atas, salah satu cabang seni yang belum banyak menunjukkan perubahan dalam keseimbangan gender adalah seni teater. Cok Sawitri dan Ratna Sarumpaet adalah dua dari segelintir perempuan sutradara dan penulis perempuan yang bertahan dalam cabang seni teater, yang nampaknya secara sosial masih memberikan banyak kendala bagi partisipasi perempuan.
Cok Sawitri adalah seorang aktivis teater, Cok juga menulis beberapa artikel, puisi, cerita pendek dan juga aktif dalam aktifitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali ditahun 1997 dan Kelompok Tulis Ngayah ditahun 1989. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang perempuan dan kemanusiaan sampai grup-grup teater di Bali.15
Ratna Sarumpaet adalah seniman Indonesia yang banyak mengeluti dunia panggung teater. Ratna juga dikenal sebagai aktivis organisasi sosial dengan mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Centre. Karya Ratna terkenal dengan pementasan monolog Marsinah Menggugat, Marsinah adalah buruh perempuan menghadapi perlakukan perusahaan yang tidak adil dan tidak manusiawi terhadap pekerja. Kemarahan Marsinah semakin memuncak, ketika 13 orang kawannya yang terlibat dalam unjuk rasa keesokan harinya di PHK. Dan proses PHK itu dilakukan di kantor Kodim setempat. Kemarahan dan kegigihan Marsinah dalam memperjuangkan nasib kawan-kawannya inilah yang membuat Marsinah akhirnya tak bisa menghindar dari ancaman kematian.16 Dalam Marsinah Menggugat, Ratna berperan sebagai arwah Marsinah, yang gelisah, marah, histeris, namun tetap tegar.17
6. Seni Rupa
Seniman perupa, khususnya perempuan masih sangat sedikit jumlahnya karena dominasi seniman laki-laki di bidang seni rupa. Namun demikian bukan berarti tidak ada sama sekali. Bahkan perupa perempuan yang ada telah banyak melahirkan karya seni yang sangat feminis. Arahmaiani, misalnya, perempuan perupa ini sangat menyadari keterbatasan seniman perempuan yang seringkali dianggap lemah dan dimarjinalkan. Untuk mengatasinya, Arahmaiani memilih untuk melawannya dengan akal dan budi serta kerja keras dalam menghasilkan karya. Perlawanannya terlihat dalam karyanya yang berjudul "Etalase" (1994-1997). Karya itu termasuk yang kontroversial karena memasukkan lambang-lambang agama sejajar dengan sekaleng cola dan kondom. Bukan bermaksud merendahkan agama, tetapi ia justru melemparkan kritik dan peringatan bahwa masyarakat beragama menjadi lupa tentang ajarannya. Begitu juga karyanya berjudul "Dayang Sumbi" yang mengambil tokoh perempuan dalam legenda Sunda sebagai ikon subordinasitas kaumnya. Dalam karya itu, dia memakai kebaya modern dengan potongan lahak di punggung dan dada di depan ratusan penonton. Dia kemudian membuka kebayanya dengan hanya menyisakan sarung, stagen, dan bra. Dia meminta penonton untuk memperlakukan tubuhnya sekehendak mereka dengan menggunakan tiga spidol besar. Dalam karya ini, dia "menyuguhkan" tubuhnya sebagai "medium" bagi penonton untuk memikirkan kembali arti ketelanjangan dan seksualitas tubuh perempuan.18 Keberanian Arahmaiani ini memperlihatkan originalitas kreativitas perempuan berdasarkan pengalamannya sebagai perempuan. Melalui karya seni, Arahmaiani mencoba menggugat ketidakadilan gender.
1 Untuk dipresentasikan dalam Talk Show, “Kebangkitan Perempuan Indonesia dalam Rangka Mengangkat Potensi Lokal”, Hotel Inna-Garuda Yogyakarta, 31 mei 2008.

2 Theodore Levitt, “The Globalization of Markets,” Harvard Business Review, May-June 1983.
3 Manneke Budiman, “Ketika Perempuan Menulis” dalam Srinthil Edisi 8, Depok: Kajian Perempuan Desantara dan The Ford Foundation, 2005, hal. 10.
4 Philip Yampolsky, ed. Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Ford Foundation dan Equinox Publishing Indonesia, 2006, hal. 201
5 Adi Setijowati, “Resistensi Citraan Perempuan” dalam Srinthil Edisi 8, Depok: Kajian Perempuan Desantara dan The Ford Foundation, 2005, hal. 126
6 Prolog untuk Jurnal Perempuan Edisi 30, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003, hal. 5
7 Manneke Budiman, “Ketika Perempuan Menulis” dalam Srinthil Edisi 8, Depok: Kajian Perempuan Desantara dan The Ford Foundation, 2005, hal. 33.
9 “Retno Maruti, “Tidak Perlu Memperuncing Jarak Antara Yang Tradisional dan Yang Modern” dalam Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Ford Foundation dan Equinox Publishing Indonesia, 2006, hal. 142
10 Wawancara dengan Waldjinah dalam Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Ford Foundation dan Equinox Publishing Indonesia, 2006
11 Nurul Arifin, “ Pengalaman Menjadi Bintang” dalam Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Ford Foundation dan Equinox Publishing Indonesia, 2006, hal. 4

12 Wawancara dengan Christine Hakim dalam Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi dan Profesi, Jakarta: Ford Foundation dan Equinox Publishing Indonesia, 2006, hal. 13
13 Sinar Harapan, 24 Oktober 2002
14 Sinar Harapan, 16 September 2006
16 Pengantar Ratna Sarumpaet dalam Marsinah Nyanyian Dari Bawah Tanah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1997.
18 Suara Pembaharuan, 16 Mai 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar