Selasa, 02 Agustus 2011

Tawadhu: Manifestasi dan Keuntungannya

Keteraturan dalam hidup merupakan fitrah manusia. Jika nilai-nilai robbani yang tersurat dalam al-Qur’an sekali saja dilalaikan, maka akan timbul kerusakan. Salah satu contohnya adalah sifat kebohongan yang tersurat dalam kisah nabi Yusuf a.s. Sekali saudara-saudara nabi Yusuf a.s. melakukan kebohongan kepada orang tuanya, maka menyebabkan perbaikan-perbuatan buruk lainnya , yakni penganiyaan bahkan pembunuhan.
Salah satu sifat lain yang termaktub dalam al-Quran untuk menciptakan keteraturan hidup manusia adalah Tawadlu. Yakni perasaan rendah hati yang lahir dari perasaan seorang hamba bahwa Alloh SWT maha besar, mulia, dan agung. Dalam al-Qur’an, sifat ini diungkapkan dalam kalimat “Wahfiz Janaahaka…”, yang berarti rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman. Manifestasi sifat ini dalam kehidupan, ditunjukkan oleh pola hidup yang selalu melihat kebaikan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Tidak boleh merasa diri lebih baik dari orang lain.
Pola hidup lain adalah selalu ingat kematian dalam setiap sisi kehidupan kita. Anak dan harta tidak melalaikannya, sehingga terhindar dari sifat orang yang merugi. Pada dasarnya semua yang kita punya adalah milik Alloh SWT yang dititipkan kepada kita, sehingga tidaklah pantas untuk menyombongkan apa yang kita miliki. Lebih lanjut, kita bisa mencontoh sifat rosululloh saw yang selalu duduk bersama dengan orang miskin, buta, jompo, dan sakit. 
Jika sifat ini, benar-benar kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya Alloh SWT akan memuliakan orang tersebut dan mengangkat derajatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar