Selasa, 26 Juli 2011

Membangun Fondasi Keuangan yang Kuat dalam Keluarga

Jangan Sampai Uang Jadi Masalah

Kalau kita mau renungi, kita akan sadar bahwa uang itu adalah alat tukar yang sebetulnya hanya benda mati. Memang, uang memang ada ukurannya,dari mulai seribu, sepuluh ribu,sampai seratus ribu rupiah.Namun,berapa pun nilai uang, yang menjadi pengendalinya tetap manusia, kita sendiri, benda hidup, punya jiwa.Artinya, kalau ada yang sampai harus berpisah / bercerai karena uang, yang perlu dipikir, kenapa kita mau dikendalikan oleh benda mati?

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan supaya fondasi keuangan agar keluarga bisa jadi kuat, yaitu penghasilan, pengeluaran, menabung & berinvestasi. Mari kita bahas satu per satu.

Penghasilan

Pertama-tama, sebuah keluarga harus punya penghasilan. Saya tak akan bicara tentang pekerjaan apa yang sebaiknya dilakukan seseorang supaya keuangan dalam keluarga jadi bagus.Tapi yang saya maksud di sini adalah, pekerjaan dengan karakter penghasilan seperti apa yang perlu dimiliki oleh setiap keluarga. Profesi yang memberikan gaji tetap misalnya, tentu kita bisa liat sendiri, seperti apa karakter penghasilannya. Anda akan mendapatkan penghasilan itu tiap bulan, dengan kenaikan sekitar 10% per tahun sesuai inflasi, sekali-sekali mungkin dapat bonus, dan begitu terus.

Pengeluaran

Fondasi keuangan kedua yang harus dipelajari adalah pengeluaran. Sebuah keluarga dan semua anggota keluarga di dalamnya sebaiknya tahu tentang bagaimana mengatur uangnya supaya cukup untuk membayar semua pengeluarannya. Ada tiga macam pengeluaran: wajib, butuh, dan ingin. Memprioritaskan untuk membayar hal-hal yang memang wajib dan butuh serta mengebelakangkan yang ingin adalah keharusan kalau sebuah keluarga ingin bisa mengatur pengeluarannya dengan baik. Tidak,tidak,saya tidak sedang mengajak Anda untuk jadi orang kikir.Saya malah percaya kalau kikir cuma membuat kehidupan kita jadi serba nggak enak, rezekinya tak berkah.

Maksudnya adalah, mengatur pengeluaran lebih kepada bagaimana kita bisa mengeluarkan uang yang tidak lebih banyak daripada yang seharusnya.Itu saja kok. Yang penting juga adalah, perhatikan bahwa banyak sekali iming-iming penjualan di sekitar kita yang memanggil-manggil kita seolah minta didatangi.Apa yang bisa dilakukan adalah dengan kembali ke pemikiran awal,bahwa jangan sampai kita terjerat dalam sifat konsumtif.Apalagi kalau konsumtifnya itu pakai utang.

Menabung dan Berinvestasi

Apa beda menabung dan berinvestasi? prinsipnya sebetulnya sama, bahwa kita menyisihkan penghasilan untuk diputar dan bisa memberikan hasil untuk masa depan. Hanya saja bahwa kata menabung lebih sering digunakan untuk menyimpan dana untuk kita pakai di waktuwaktu mendatang untuk bisa mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti beli rumah, beli mobil, sekolah anak, dan sebagainya. Sementara “investasi” adalah menyisihkan dana untuk bisa diputar dan memberikan hasil di masa mendatang. Kuncinya di sini sederhana, bahwa penghasilan yang kita dapatkan, harus bisa digunakan untuk membayar pengeluaran kita saat ini, dan masa depan.

Nah, untuk membayar pengeluaran kita di masa depan itulah perlunya kita menabung dan berinvestasi. Tentunya,penting buat kita untuk tahu apa saja alternatif-alternatif menabung dan berinvestasi yang ada di luar sana. Ibaratnya, kalau kita naik mobil dari Jakarta menuju Surabaya, kita bisa lewat jalur Pantai Utara.Tapi kalau jalur Pantai Utara macet, kita bisa memotong ke bawah lewat Pantai Selatan. Nah, tentunya akan lebih enak kalau kita tahu seluk beluk jalur Pantai Selatan itu seperti apa, bukan begitu?

Oke, sekarang, dengan memperhatikan ketiga hal tersebut,mengenali sumber penghasilan dan karakternya, belajar mengatur pengeluaran, dan tahu alternatifalternatif produk tabungan dan investasi, mudah-mudahan kita bisa memiliki fondasi keuangan yang kuat dalam kehidupan keluarga kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar