PPC Iklan Blogger Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

The Power Of Positif Thinking (Husnuzhon)

THINKING (FIKIRAN)

* 2juta informasi masuk ke otak kita perdetiknya
* akal kita mampu berfikir 60.000 fikiran setiap harinya, baik yg positif maupun negatif
* Setiap doa yg kita ucapkan bersumber dari fikiran, berarti setiap fikiran merupakan DOA
* setiap DOA pasti dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun yang negatif (Ud'uni astajib lakum)
* Hidup kita yang sekarang kita jalani, ternyata hasil proyeksi dari akal fikran kita sendiri

Jadi berhati2lah mengolah fikiran kita, hiasilah selalu fikiran kita dgn positif thinking, karena setiap fikiran kita merupakan DOA, yg pasti akan dikabulkan oleh Allah, maka senantiasalah berfikir positif agar POSITIVE hidup kita, yg merupakan hasil proyeksi dari akal kita.

JAUHKAN SU'UDZON (BURUK SANGKA)
Baik pada orang lain, pada diri sendiri, maupun pada Allah, sehingga kehidupan nyata kitapun jauh dari KEBURUKAN.

CARA MENGHILANGKAN SU'UDZON :
* Paksakan diri untuk berhusnudzon (berbaik sangka) sampai 72x
jadi misalnya : saat kita mengundang orang lain disuatu pesta & org tsb tidak datang, paksakan diri kita untuk mencari kesimpulan brupa kata "MUNGKIN" dgn baik, misalnya : mungkin dia ada halangan, mungkin dia ada acara lain, mungkin dia lupa & mungkin2 lainnya sampai 72 x, baru ke 73X nya kita boleh berfikir negatif.... kenapa? karena saat kita mencari kata "MUNGKIN" ke lebih 30x otak kita sudah terlanjur lelah sehingga tdk ada kesempatan utk berfikir negatif lagi.

*Sebisa mungkin kurangi asupan persepsi negatif (baik yg bersumber dari TV, majalah, radio, apalagi yg mengandung gosip, gibah & lainnya)
karena dgn semakin dikit info buruk yg masuk ke otak kita, makin sedikit kita berfikir negatif

*Hiasi fikiran kita dengan Nama2 baik Allah/Asmaul husnah, sehingga hasil proyeksi hidup kitapun InsyaAllah menjadi baik.

*Nikmati sholatmu & Dzikirmu, ajaklah hati, jiwa & fikiranmu saat melakukan sholat & zikir, karena doa kita yg berada dlm fikiran kitapun akan diaminkan para malaikat.

*Ubah cara bertanya pada diri, jgn katakan Why (kenapa) tapi ubahlah menjadi How (bagaimana). karena kata2 Why, mengandung makna penyesalan, putus asa & cenderung menyalahkan orang lain. sedangkan kata How, mengandung pemikiran yg menantang, kreatif (thinking out of the box) misalnya :

kita sering bertanya kenapa saya miskin? kenapa saya yg dikasih musibah ini? kenapa bukan saya yg berhasil?
tapi cobalah kita ubah pertanyaan tsb menjadi.... Bagaimana caranya supaya saya tdk miskin? bagaimana agar saya tdk dikasih cobaaan berat ini? bagaimana saya bisa berhasil? apa yg harus saya lakukan?

Jadi ubahlah cara bertanya pada diri kita sendiri.

*Melatih Kata- Kata.
sering kali otak kita, salah menerjemahkan kata2 kita, sering kali otak men "delet" sebagian kata2 yg kita ucapkan.
misalnya : kita disuruh "Jangan tengok kebelakang" apa yg ada dipikiran kita? memang kita tdk nengok kebelakang, namun tak dipungkiri, otak kita berreaksi sebaliknya & kembali bertanya? ada apa dibelakang? kenapa saya tdk boleh tengok kebelakang, sehingga "hasrat keinginan kita justru menjadi ingin menengok kebelakang. karena otak berusaha mendelet kata2 "jangan", sehingga menjadi "tengok kebelakang" tdk jarang sebagain besar manusia, malah memilih "menengok kebelakang" dari pada "Jangan tengok kebelakang".

Tahukan anda apa kesalahan terbesar Nabi Adam AS, hingga diturunkan kebumi? Jawabannya ternyata kesalahan "Fikiran" Nabi Adam AS diperintah Allah untuk "Tidak memakan buah Quldi & Jangan dekati buah Quldi" dari larangan Allah tersebut, Malah terbesit didalam fikiran Nabi Adam AS sebuah pertanyaan "Mengapa Allah melarangku mendekati atau memakan buah Quldi?" lalu apa yg dilakukan Nabi Adam AS? beliau justru mencari "buah yg dimaksud oleh Allah" yg dilarangnya tersebut, memang maksud Nabi Adam AS, untuk mengetahui buah yg mana yg harus dijauhi? tapi apa kenyataannya? Nabi Adam AS, malah terpelosok kelubang larangan tersebut. Ini artinya betapa bahayanya "Fikiran" tersebut, jika kita tak bisa mengelolahnya.

KEKUATAN KHUSNUDZON
* bayangkan jika 60.000 fikiran kita perharinya seluruhnya Positive Thinking? Subhanwllah yg terjadi adalah "The Power Of Positif Thinking" yg dapat merubah hidup kita menjadi Wujud kehidupan nyata yg Positif (Bahagia, Senang, tenang, damai, tentram)

*Magnet Low of Attaction (LOA) - "Fokus Kita" dapat menentukan arah hidup kita. Jadi usahakan agar kita selalu Fokus kepada kebaikan2 saja & usahakanlah untuk membayangkan dalam benak kita tentang hal2 yg baik2 saja & yakini sebagai kenyataan yang akan terwujud, karena tak ada yg tak mungkin bagi Allah (Kun fayakun)

*"Harapan Anda" adalah daya pikat yg kuat, semakin besar harapan kita, semakin mudah tuk terwujud menjadi nyata, hanya tinggal kita"nya saja yg pandai2 memilihnya. Yg pasti Harapan Positif menarik Wujud Positif & Harapan Negatif akan menarik Wujud Negatif.

Dibawah ini adalah Rujukan Ilahi tentang "Fikiran"

1. inni Inda Dzhonni 'abdi bi... sesungguhnya aku menuruti PERSANGKAAN umatku. (hadist Qudsi HR Bukhori Muslim)

2. ...dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yg dimuka bumi ini, niscahya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti "PERSANGKAAN" belaka & mereka tdk lain hanyalah berdusta terhadap Allah (Qs 6 :116)

3. Sesungguhnya sebagian dari PRASANGKA itu dosa (QS 49 : 12)

Kamis, 10 Februari 2011

Cintailah Mesjid…

Dalam QS At-Taubah 107, Alloh SWT berfirman:
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu.  Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)”.
Ayat ini menjelaskan rencana dan taktik orang-orang munafik pada zaman nabi. Mereka mendirikan mesjid yang bertujuan untuk menimbulkan mudharat dan memecah belah umat islam. Mesjid ini dibangun atas inisiatif seorang pendeta sebagai lambang kekuatan munafik untuk menghancurkan kaum muslim. Mereka menawarkan kepada nabi agar melaksanakan shalat di mesjid itu. Namun dengan wahyu Alloh SWT, nabi dilarang untuk melaksanakan shalat di mesjid itu,sebagaimana terdapat dalam ayat berikutnya:
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.
Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil Dari Ayat Ini?
Berdasarkan keterangan ayat di atas, kita bisa melihat bahwa upaya orang munafik untuk menghancurkan umat islam sangatlah indah. Mereka membangunkan mesjid sebagai simbol ibadah bukan dengan cara melakukan perang secara frontal.  Namun di balik itu semua, yang mereka harapkan justru mengalihkan fungsi mesjid yang sesungguhnya yakni melemahkan ruh jihad islam, memecah belah kaum muslimin, dan menurunkan semangat belajar keislaman.
Kita harus berwaspada bahwa memang akan ada upaya-upaya melemahkan umat islam dengan cara membangun mesjid. Untuk itu kita harus memahami fungsi mesjid yang sesungguhnya sebagaimana diajarkan nabi saw yakni  sebagai sentral dalam memperkuat tauhid, meningkatkan ukhuwah & persatuan umat, mendamaikan sesama muslim dan menggerakan ekonomi umat.
Dari mesjid banyak lahir pejuang-pejuang islam yang tangguh seperti Usman bin Affan, Abu Bakar Sidiq, dan lain sebagainya. Mereka adalah kader mesjid yang menjadi pemimpin umat. Maka musuh-musuh islam sangat menginginkan kekuatan mesjid ini dilemahkan. Mereka menyadari kalau mesjid difungsikan secara maksimal, maka umat islam akan kuat dan lahir kader-kader islam yang istiqomah dan berpihak kepada islam.
Di ujung ayat di atas Alloh SWT mengatakan bahwa Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri”. Jadi orang yang senang masuk mesjid pasti pribadinya akan  hanif, beres, dan istiqomah karena ia terbiasa membersihkan dirinya.
Oleh karena itu, mari kembalikan fungsi strategis mesjid yang sesungguhnya. Jadikan diri kita sebagai bagian yang berkontribusi untuk memakmurkan mesjid. Cintai mesjid untuk membersihkan jiwa dari noda dan dosa, memperkuat habluminalloh, dan memperkokoh aqidah kita.

Selasa, 08 Februari 2011

Adab dan Etika di Mesjid

Mesjid memiliki fungsi sentral dan strategis dalam ajaran Islam. Mesjid tidak hanya sebagai pusat beribadah namun juga sebagai pusat pembinaan IMAN setiap muslim. Mesjid disebut Baitulloh atau ‘Rumah’ Alloh SWT. Rahmat Alloh SWT yang disediakan di bumi adalah di mesjid. Begitu pentingnya peran dan fungsi mesjid, saat nabi berhijrah ke Medinah, bangunan yang pertama kali beliau bangun ialah mesjid bukan rumah.
Sejatinya, mesjid adalah tempat khusus yang diperuntukkan untuk beribadah, berdzikir, dan kegiatan lain yang termasuk kategori ibadah. Mesjid adalah tempat turunnya malaikat yang membawa rahmat bagi yang ada di dalamnya. Tidak ada sebuah pertemuan di mesjid yang di dalamnya terdapat dzikir dan membaca alquran, kecuali malaikat turun memberi rahmat.
Dalam QS Jin ayat 18, Alloh SWT berfirman,
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa yang membangun mesjid meskipun kecil, semata-mata mengharap ridho Alloh, maka Alloh akan memberinya rumah di surga”.
Alloh SWT berfirman dalam QS al-Baqoroh 114,
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”
Alloh berfirman juga dalam QS Attaubah 18, “Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Karena mesjid memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia seperti dijelaskan dalam ayat dan hadits di atas, maka menyikapinyapun haruslah penuh dengan tata krama dan aturan. Tidak sembarang orang bisa masuk mesjid dan menyikapi mesjid apa adanya.
Berikut adalah adab dan etika saat kita menuju dan berada di mesjid.
  1. Saat hendak ke mesjid, hendaklah membersihkan tubuh dengan cara berwudhu dan berpakaian dengan pakaian yang bagus dan rapi. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid…” (QS. Al-araf 31)
  2. Saat berangkat dari rumah mulailah melangkah dengan kaki kanan
  3. Ketika mau memasuki, melangkahlah dengan kaki kanan, lalu berdoa untuk minta ampunan dan dibukakanlah pintu rahmat Alloh
  4. Saat masuk mesjid, janganlah langsung duduk kecuali sholat 2 rokaat (Tahiyyatul masjid)
  5. Selanjutnya duduk, dan lakukan 2 hal yakni berdikir atau membaca alquran. Kalau hendak sholat lakukanlah seolah-olah ‘berbicara’ dengan Alloh. Barang siapa yang duduk di mesjid, maka ia duduk dengan Alloh. Janganlah bicara kecuali yang baik-baik saja
  6. Berhati-hatilah untuk membicarakan urusan dunia (ekonomi praktis) saat berada di mesjid. Nabi pernah bersabda, “Akan datang akhir zaman, dimana orang masuk mesjid tidak berdzikir dan membaca al-quran, kecuali berkumpul membicarakan masalah dunia”. Jadi berhati-hatilah, jangan sampai membicarakan urusan dunia di mesjid, karena Alloh tidak membutuhkannya.
  7. Bertanggungjawablah jika membawa anak-anak ke mesjid. Hindari mengotori kesucian mesjid dengan buang air kecil atau besar anak-anak. Awasi anak agar tidak membuat gaduh dan berisik saat melakukan sholat. Jangan membuat anak kesel lalu berdiri, dan berlari-lari sehingga mengganggu ke-khusyuan sholat kita dan orang lain.
Demikian ulasan seingkat mengenai adab dan etika mesjid. Semoga kita dan keluarga diberikan kecintaan yang dalam terhadap mesjid dan konsisten memakmurkan mesjid dimanapun kita berada.

Senin, 24 Januari 2011

Rumah Tinggal yang Seperti Kuburan

Tempat tinggal yang nyaman merupakan idaman setiap orang. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mewujudkan rumah idaman. Namun, pernahkah kita membayangkan bahwa rumah idaman tersebut diibaratkan sebuah kuburan yang sunyi dan sepi?  Tentu jawabannya TIDAK, bukan? Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan agar tempat tinggal kita tidak seperti kuburan, yakni rumah yang sepi dari alunan ayat-ayat al-Qur’an. Al-Quran, memiliki istilah AR-RUH. Ia bagaikan pelita yang mampu ‘menerangi’ kehidupan seseorang. Saat hidup tidak dihiasi dengan Quran maka hidup itu akan terasa ‘mati’ meskipun hakikatnya masih hidup. Alloh SWT menyatakan hal ini dalam QS, Almaidah 15- 16,
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.”
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.
Sejarah membuktikan, al-Quran mampu mengubah peradaban yang asalnya jahil menjadi ’sangat beradab”. Kesuksesan generasi sahabat menaklukkan Persia dan Romawai, tidak lain karena mereka mencintai, akrab, dan mengamalkan al-Quran dalam hidup kesehariannya.
Keberkahan hidup, rumah tangga, dan sosial kita ditentukan sejauh mana kedekatan kita dengan al-Quran. Sejauh mana nilai-nilai al-Quran menghampiri urusan rumah tangga, ekonomi, sosial, politik, dan aspek hidup kita lainnya. Waspadalah!! saat diri kita dan keluarga jauh dari al-Quran. Rosululloh pernah mengingatkan bahwa suatu saat akan terjadi fitnah (krisis multi dimensi) menimpa umat manusia. Sahabat Ali r.a. bertanya,  apa solusinya ya Rosul? Rosulpun menjawab, “Kitabulloh”.
Manusia terbaik bukanlah yang paling tinggi gelar atau banyaknya harta, namun yang terbaik adalah mereka yang mau belajar dan mengajarkan al-Quran. Beruntunglah kepala rumah tangga yang mengkondisikan anggota keluarganya dekat dengan al-Quran. Di akhirat kelak, akan ada sekelompok orang tua yang diberi penghargaan istimewa oleh Alloh SWT. Orang tua ini terkaget-kaget, kenapa ia diberi penghargaan itu. Ternyata hal ini dikarenakan usahanya dalam mendidik anak yang menjadi cinta al-Quran.
Semoga kita menjadi ahli al-Quran. Memiliki program peningkatan pemahaman al-Quran. Mengajak keluarga, saudara, teman dan tetangga terdekat untuk mencintai al-Quran. Sehingga bisa mengangkat keluarga dan masyarakat dari krisis hidup serta menggapai kabahagiaan dunia dan akhirat.
Khususnya bagi kepala keluarga, hiasilah tempat tinggal dengan alunan al-Quran, agar ia tidak seperti kuburan…..

Perbedaan Iman kepada al-Quran dan Kitab Sebelumnya

Dalam agama islam, iman (keyakinan) memiliki posisi yang strategis dan prinsipil. Iman merupakan fondasi atas segala-galanya. Seluruh perbuatan islam harus ditegakkan atas dasar iman. Betapapun baiknya suatu perbuatan, jika dibangun bukan atas dasar iman, maka semua amalan itu akan tertolak di sisi Alloh SWT. Salah satu iman yang harus tertanam dalam diri seorang muslim adalah iman kepada kitab-kitab Alloh. Beriman kepada kitab-kitab Alloh merupakan salah satu kriteria seorang muslim bertaqwa sebagaimana digambarkan dalam bagian awal surat al- Baqoroh.
Kitab sebelum al-Quran sangatlah banyak. Ada yang berupa lembaran milik nabi Ibrahim, lembaran milik nabi Musa, dan lembaran sebelum Ibrahim dan Musa. Ada juga kitab Zabur yang diturunkan kepada nabi Daud, kitab Taurat kepada nabi Musa, dan kitab injil kepada nabi Isa as. Dan, diantara kitab dan lebaran-lembaran yang diturunkan Alloh ini, yang terbesar ialah al-Quran.
Bagaimana cara kita beriman kepada kitab Alloh? dan apa bedanya beriman kepada al-Quran dibanding kitab lainnya?
Iman kepada al-Quran haruslah meliputi tiga dimensi yakni lisan, hati, dan amal perbuatan. Saat hati berkata yakin, maka lisan dan perbuatan haruslah selaras dengan apa yang dikehendaki al-Quran. Orang yang hatinya iman sementara lisan dan perbuatannya tidak mencerminkan keimanan, maka orang tersebut termasuk golongan FASIQ. Sebaliknya jika lisan dan perbuatannya iman, semantara hatinya tidak, maka orang seperti ini termasuk golongan MUNAFIQ.
Sementara itu, iman kepada kitab selain al-Quran hanya meliputi dua dimensi saja yakni hati dan lisan, tidak dalam hal perbuatan. Secara lisan dan hati kita diwajibkan berikrar iman kepada kitab Injil, Taurat,  Zabur, dan kitab lainnya. Namun dalam hidup keseharian,  kita tidak dibolehkan tunduk dibawah kemauan Zabur, Taurat, dan Injil.
Jangankan kita, umat pengikut Injil, Zabur, dan Taurat-pun, ketika al-Quran turun wajib hukumnya bagi mereka tunduk kepada al-Quran. Seandainya nabi Musa, Isa dan Daud masih hidup, merekapun wajib tunduk kepada al-Quran. Maka dari itu, kita tidak dibenarkan untuk tunduk dibawah injil dan taurat, sekalipun kitab ini masih asli. Apalagi pada saat ini, kitab Injil dan Taurat sudah tidak asli lagi karena telah mengalami perubahan dan rekayasa pengikutnya.
Keimanan ini haruslah kita jaga dan pelihara dengan penuh perjuangan dan kegigihan. Bentengi diri dan keluarga dari rongrongan yang berpotensi menguras bahkan menghapus iman dari kehidupan kita. Pengaruh-pengaruh luar yang bertujuan menarik menjadi komunitasnya akan selalu dihembuskan para outsider (non muslim), baik secara halus maupun kasar. Hal ini, selain bisa kita saksikan dalam kenyataan hidup, juga sudah diberitahukan dalam QS Al-Baqoroh 120; “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka“.
Mereka, kaum Yahudi dan Nasrani, tidak akan pernah rela selama-lamanya jika sikap hidup, pola pikir dan suara batin orang-orang Islam belum mengikuti ajaran mereka. Maka dari itu, bentengilah aqidah diri dan keluarga dari pengaruh-pengaruh luar. Tidak ada kata KOMPROMI dalam hal Aqidah dengan orang non muslim. Belajarlah dari sikap nabi Ibrahim as yang  tegas dalam mempertahankan aqidah Islam, sebagaimana terdapat dalam QS. QS Al-Mumtahanah 4;
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja… “

Kamis, 13 Januari 2011

Bisnis’ Menguntungkan Bersama Al-Quran

Saat kita berbicara bisnis atau perniagaan, maka kita akan dihadapkan dengan dua kemungkinan yaitu untung atau rugi. Namun tahukah anda, bahwa ada satu perniagaan yang tidak akan rugi, malah memberikan keuntungan selamanya? Ya, perniagaan itu adalah  perniagaan dengan Alloh SWT. Perniagaan yang selalu memberikan keuntungan tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat.
Salah satu perniagaan itu adalah dengan membaca al-Quran. Ingin tahu rahasianya?, Ini dia QS Al Fatir ayat 29:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu MEMBACA KITAB ALLOH dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan PERNIAGAAN YANG TIDAK AKAN MERUGI, (QS. 35:29)

Setiap orang muslim, sejatinya meng-IMANI bahwa al-Quran adalah firman Alloh SWT. Wujudnya, ia akan senantiasa membaca dan mempelajari al-Quran dengan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Menjadikan al-Quran sebagai pedoman utama (WAY of LIfE) dalam menjalani kehidupannya.
Apakah kita sudah menjadikan al-Quran sebagai Way of Life?  Jawabannya mungkin IYA atau TIDAK. Bagi yang IYA berarti anda akan mendapatkan perniagaan yang tidak merugi, namun bagi yang BELUM mari kita berjuang bersama-sama, tiada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.
Saudara-saudaraku se-IMAN,
Kalau kita mengamati realitas yang ada, disadari atau tidak, sedikit-demi sedikit sebagian generasi kita telah jauh dari al-Qu’ran.  Hal ini kita bisa dilihat dari pengamatan penulis saat ini dengan sekitar 10 – 15 tahun yang lalu. Pada zaman dahulu, setelah maghrib dan subuh, banyak terdengar bacaan al-Quran yang dikumandangakn di rumah dan di surau / mushola. Namun sekarang waktu itu banyak digantikan dengan tontonan TV dan bacaan lainnya. Sangat sulit mendapatkan anak-anak atau orang tua yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an, baik di desa maupun di perkotaan.
Berhati-hatilah dengan kondisi ini, karena kondisi inilah yang diinginkan oleh orang-orang kafir. Mereka bersekongkol ingin menjauhkan umat islam dari al-Quran. Jangankan mendalaminya, membacanya pun tidak bisa atau jarang dilakukan. Alloh SWT secara tegas menggambarkan keinginanan orang kafir ini dalam QS al-Fushilat 26:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).”
Untuk itu, janganlah kita menjadi orang yang meninggalkan al-Quran seperti yang diinginkan orang kafir. Sebaliknya, jadikanlah diri kita dan keluarga sebagai generasi yang gemar membaca al-Quran kapan dan dimanapun berada. Rosulullah bersabda, “Janganlah engkau jadikan rumah seperti kuburan”. Rumah yang sunyi senyap dari kalimat Alloh SWT.
Banyak sekali hadits yang memotivasi kita agar gemar membaca al-Quran, satu diantaranya sebagai berikut: “Bacalah al-quran karena al-Quran ini akan datang di hari qiamat, sebagai safaat bagi pembacanya”. “Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan al-Quran”. “Barangsiapa membaca al-Quran baginya diberikan pahala, dan setiap pahala dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan”. dan lain sebagainya.
Bagi yang belum lancar membaca al-Quran, janganlah berkecil hati. Orang yang bisa membaca al-Quran dengan baik maka ia  bersama malaikat yang baik, dan bagi yang terbata-bata maka baginya dua kebaikan yakni pahala membaca dan susahnya membaca al-Quran.
Di zaman yang serba modern ini, tidak ada alasan untuk tidak bisa belajar al-Quran. Fasilitas pendukung yang memudahkan belajar sudah ada dan mudah didapatkan. Bandingkan dengan 15 abad yang lalu, saat ilmu dan teknologi belum maju, para sahabat dengan kemampuan otak yang sama sudah bisa menghafal keseluran al-Quran. Bahkan kalaupun panca indera yang jadi halangan, kita harus malu dengan banyaknya orang buta yang bisa menghapal al-Qur’an.
Marilah kita bertekad untuk membaca, belajar, mengamalkan dan mengajarkan al-Quran. Agar kita senantiasa memperoleh keuntungan selamanya…

Senin, 03 Januari 2011

Menghadirkan Dzikir Dalam Keseharian

Setiap kita, tentu telah mengetahui bahwasanya Islam menganjurkan pemeluknya untuk berdzikir kepada Alloh SWT dimana dan kapan pun berada. Agar kita diberikan keringanan untuk mengamalkan dzikir tersebut, mari kita pahami sedikit ilmu seputar dzikir.
Kata ‘dzikir’ memiliki banyak arti tergantung dari media yang digunakan. Media tersebut bisa berupa hati/pikiran, lisan, atau perbuatan. Saat hati/pikiran yang dijadikan media, maka dzikir bermakna mengingat Alloh SWT. Saat lidah yang dijadikan media, maka dzikir bermakna menyebut nama dan sifat yang indah/terpuji serta kalimat-kalimat dzikir lainnya yang ada dalam al-quran dan hadits. Sementara itu, kalau anggota tubuh yang dijadikan media, maka dzikir berarti ketaatan terhadap Alloh dan rosulnya.
Setiap media tersebut, kalau dilakukan dengan penuh keikhlasan, maka darinya akan mendapatkan kebaikan. Namun yang lebih utama adalah mengintegrasikan ketiga media tersebut, yakni hati/pikiran dan lisan serta bermuara pada ketaatan yang konsisten. Saat keseharian hidup kita difokuskan  untuk mengerjakan ketaatan, maka secara tidak langsung kita sedang mengingat-Nya (dzikir). Rosululloh bersabda, “Barang siapa yang taat kepada Alloh, maka sungguh ia sedang dzikir kepada Alloh”.
Banyak kalimat dzikir yang diajarkan dalam islam misalnya Subhanalloh, Alhamdulilah, Allohu akbar, Laa ilaha illalloh dan lain sebagainya. Kalimat ini sangatlah ringan diperbuat namun banyak menuai pahala.
Saat kita berdzikir, sesungguhnya kita tidak melakukannya sendirian. Melainkan ditemani semua makhluq yang di alam semesta. Dikatakan dalam al-quran, semua makhluq memuji kebesaran tuhan, akan tetapi kita tidak memahami bahasa yang mereka gunakan. Salah seorang ulama mengatakan, boleh jadi saat kita membuka pintu dan terdengar suara pintu. Itu adalah bagian cara dia bertasbih kepada Alloh. Begitu pula dengan suara kilat, petir, sungai, awan, angin, dan lain sebagainya.
Saat kita berdzikir dengan lidah, maka hati dan pikiran haruslah mengawalnya. Agar dzikir yang dilakukan tidak kosong atau ngelantur. Berusahalah konsentrasi dan fokus untuk mengawal perjalanan dikir yang kita lakukan, dan yakinlah Alloh maha mendengar dan akan merespon apa yang diucapkan.
Dzikir utama yang diajarkan Islam adalah membaca alquran. Al-Quran akan datang memberikan pertolongan kepada orang yang membacanya. Untuk itu berkomitmenlah untuk tidak melewatkan sehari semalam tanpa membaca al-Quran meskipun minimal satu ayat. Al-Quran adalah  penawar hati dan pikiran, serta obat secara fisik. Ia memberi kesembuhan sekaligus rahmat bagi orang muslim.
Dengan memperbanyak dzikir kepada Alloh, maka kelak di yaumul akhir kita akan mendapatkan syafa’at karenanya. Saat berada di padang mahsyar, manusia akan berada dalam rasa panik dan mencari perlindungan. Pertama tama manusia ’mengemis’ kepada nabi nuh untuk meminta sya’faat. Namun, nabi Nuh tidak bisa memberikannya, malah ia menganjurkan meminta kepada nabi Ibrahin.
Saat menemui Nabi Ibrahim, beliau pun tidak bisa memberikan syafa’at, dan menganjurkan meminta kepada nabi Musa. Begitu pula nabi Musa. Ia tidak bisa memberikan syafa’at dan menganjurkan meminta kepada Isa.  Seperti halnya nabi sebelumnya, nabi Isa pun tidak bisa memberikan syafa’at dan dia menyarankan meminta kepada nabi Muhammad.
Sampailah manusia menemui nabi Muhammad, dan beliau bersabda, “Saya tidak berhak memberi pertolongan kecuali atas izin Alloh”.  Selanjutnya Alloh berfirman, “Berikan syafa’at kepada siapapun yang berhak mendapatkannya, kecuali orang yang rajin membaca Laa ilahaillalloh, karena Aku-lah yang langsung memberi syafa’at kepadanya”.
morzing.com dunia humor dan amazing!