PPC Iklan Blogger Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Martir Revolusi

Svetlana bangkit, dan membuka pintu yang sebelumnya sempat ada uluk salam dari orang di baliknya. Mereka berbincang sebentar dengan memakai pintu sebagai tabir kemudian laki-laki itu pergi. Svetlana masuk dan menemui empat perempuan yang berkerudung dan berjilbab duduk mengelilingi meja.
“Kalian harus segera pulang sekarang. Halaqah kali ini ditiadakan.” Dengan sigap Svetlana mengemasi kitab-kitab kajian di meja. Bahkan ia tak sempat lagi untuk menutup forum kajian kali itu.
“Aparat Karimov mulai digerakkan untuk menggerebek kumpulan muslim atau pun muslimah yang mengkaji kitab kebangkitan,” Svetlana menjelaskan sambil tangannya terus bergerak merapikan meja.
Empat perempuan yang berkedurung dan berjilbab itu dengan sigap juga ikut merapikan kitab dan segera mengambil mantel masing-masing yang tersampir di kursi.
“Pulang berpencar. Dua-dua, Anisah dengan Fatimah. Aida dengan Zainab. Hati-hati, Allah melindungi kalian dan kita semua yang berusaha mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah kaum muslimin.” Mereka pun berpisah setelah saling bersalaman dan berpelukan untuk mengeratkan ukhuwah.
Sepeninggal mereka, Svetlana masuk ke dapur dan membuka sebuah bilik kecil yang sekilas tak ada bedanya dengan tembok di sekelilingnya. Kitab-kitab untuk membangkitkan umat disimpannya dengan rapi di sana, setelah sebelumnya dibungkus dengan kertas-kertas lusuh bekas. Setelah ditutupnya dengan pelan, Svetlana masuk kamar dan mulai menyalakan komputer. Dial up internet dinyalakannya, beberapa e-mail ada yang masuk. Sambil menunggu download sampai selesai, Svetlana membaca beberapa e-mail yang sudah masuk ke inbox-nya.
Dua email dari temannya di London dan satu e-mail dari temannya di Indonesia. Menarik ketika email dari cyber friend-nya itu ada sepotong puisi dalam bahasa Indonesia. Svetlana sedikit bisa berbahasa melayu untuk jaga-jaga bila rezim di negerinya semakin represif dan ia tak aman lagi berbicara dalam bahasa Uzbek atau pun Inggris.
Di-print-nya puisi itu. Lalu dibacanya sekali lagi. Svetlana membayangkan akan membacakannya di depan umat bila kondisi memungkinkan nanti, tentunya setelah diterjemahkannya dalam O’zbek tili* agar bisa dipahami masyarakatnya. Puisi ini jauh lebih indah dan membangkitkan semangat revolusi damai daripada mayoritas Chaghatai* yang ada di Uzbekistan.
ooOoo
Ini adalah minggu ketiga Svetlana meliburkan halaqah. Kondisi tidak memungkinkan bagi mereka untuk membawa kitab kebangkitan itu. Tapi syukurlah masih ada kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang lain demi menjaga komunikasi dan koordinasi. Dan tepat pada tanggal 13 Mei nanti, setelah sholat Jum’at akan diadakan masirah atau unjuk rasa besar menentang kezaliman rezim Karimov terhadap rakyat negeri ini.
Svetlana cukup sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai menghubungi para muslimah di rumah mereka satu demi satu karena ketatnya pengawasan terhadap adanya kerumunan, hingga membantu menyebarkan bendera al-Liwa dan ar-Roya. Bendera dengan dasar hitam dan putih bertuliskan kalimat syahadat inilah nanti yang akan mereka bawa, bukan biru putih hijau dengan bulan sabit dan 12 bintang. Bendera Uzbekistan yang menandakan nasionalisme.
“Svetlana, ada telpon dari kakakmu, Usmanov,” Aisyah, teman Svetlana yang kebetulan ada di rumahnya membantu menyiapkan perlengkapan masirah.
Diambilnya gagang telepon itu setelah sebelumnya mengucap terima kasih.
Hanya sesaat Svetlana berbicara dengan kakaknya yang juga merupakan koordinator lapangan bagi pelaksanaan masirah.
“Masiroh dipindah ke Andijan, tidak jadi di Tashkent,” Svetlana memberitahu Aisyah.
“Kenapa?”
“Entahlah, itu keputusan para ikhwan. Mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apabila pelaksanaan ada di kota Taskent. Karimov akan mempunyai banyak alasan untuk membungkam kita dengan alasan demi keamanan ibu kota.”
“Baiklah, aku pamit dulu. Perubahan ini harus segera kuberitahukan kepada yang lainnya.”
Mereka berpelukan sebelum berpisah.
“Hati-hati, ya ukhti. Jaga kerahasiaan, intel Karimov ada di mana-mana,” Svetlana mengingatkan Aisyah. Aisyah mengangguk terharu.
“Allah pasti akan memenangkan dakwah ini. Allahu Akbar. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam wr.wb.”
ooOoo
Andijan, pagi hari 13 Mei 2005. Langit mendung memayungi sebagian wilayah Uzbekistan. Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Yang pegawai kantor tetap berangkat kerja ke kantor, yang guru tetap mengajar, yang dokter tetap mengobati pasien, yang pedagang pun juga tetap berjualan.
Suasana mulai berubah menginjak siang. Ketika mayoritas dari laki-laki yang ada di Uzbek menghadiri sholat Jum’at yang didahului dengan khutbah. Seluruh masjid di Andijan dan kota-kota sekelilingnya berisi tema yang sama. Bahwa kekufuran dan kezaliman tak bisa dibiarkan merajalela. Betapa azab Allah akan menghampiri mereka yang tak mau menerapkan hukum Allah dalam segenap aspek kehidupannya. Sudah waktunya rakyat bangkit. Perubahan tak akan terjadi tanpa mereka punya semangat dan kemauan untuk berjuang ke arah yang lebih baik.
Tak ada wajah kuyu dan mengantuk dalam mendengarkan khutbah Jum’at. Mereka semua teraliri semangat para Khatib yang berkhutbah bahwa Islam saja sebagai solusi. Dalam sujud mereka kali itu, Jum’at di siang mendung itu, mereka merasakan kekuatan mahadahsyat untuk bergerak. Wangi minyak kesturi, yang biasa hadir menyambut jasad para syuhada, dengan pelan dan lembut menyelinap dalam shaf-shaf sholat itu.
Usai munajat panjang para jamaah sholat, diumumkan akan ada masirah besar di Andijan. Diharapkan segenap masyarakat hadir dan mendukung tuntutan agar Karimov mundur dan mengakhiri rezim zalimnya. Tak diduga, sekitar 3000 lebih muslim berkumpul. Terlihat juga barisan muslimah yang ikut hadir dan mendukung masirah menuntut diakhirinya rezim tiran dan menawarkan syari’ah sebagai solusi.
“Ya ukhti, jaga barisan. Tetap di posisi masing-masing, intel Karimov mudah sekali menyusup bila kita tak hati-hati,” Svetlana sibuk mengatur barisan dan menjaganya agar tak ada pihak perusuh yang menyelinap. Tangannya sibuk menyebarkan ikat kepala putih dengan tulisan syahadat bertinta hitam. Lautan manusia terus berdatangan memberi dukungan pada aktivitas siang itu. Jarak yang mereka tempuh pendek karena memang yang lebih difokuskan adalah orasi membuka kedok bobrok Karimov. Masyarakat sudah memberi dukungan penuh untuk meminta Islam saja sebagai solusi.
Orasi dilakukan bergantian oleh para ikhwan. Hingga pembicara ketiga, Usmanov, kakak laki-laki Svetlana, seorang revolusioner Islam yang rindu syahid, maju. Setelah mengucap salam, tahmid dan sholawat, ia pun mulai berbicara.
“Revolusi adalah sebuah kepastian, saudaraku. Revolusi damai tanpa kekerasan. Umat sendiri yang menuntut rezim tiran Karimov untuk mundur. Tanpa Islam, Karimov dan antek-anteknya tak akan pernah mampu membawa umat ini pada kebangkitan. Hanya Islam saja yang mempunyai solusi atas semua masalah-masalah yang dihadapi negeri ini. Jangan bersedih saudaraku, kita mempunyai banyak saudara lain di belahan bumi sana, di jengkal mana pun ada tanah untuk berpijak di sanalah dakwah Islam digemakan. Saya tak akan berorasi kali ini, tapi akan membacakan sebuah puisi indah dari saudara kita di Indonesia, yang juga sedang mengupayakan kebangkitan hakiki.” Usmanov mengambil kertas dari sakunya dan mulai membacakan puisi yang sudah diterjemahkan adiknya dalam O’zbek tili.

Tolong jangan salahkan aku tentang matahari
Bagaimana aku tahu engkau akan terbakar?
Dan tolong jangan salahkan aku tentang bulan
Bagaimana aku tahu bahwa kamu akan membusuk?
Aku tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama
Lain waktu, aku bangun sebuah adidaya
Aku yakin kita dapat berbincang panjang lebar

Tolong jangan salahkan aku tentang dunia
Bagaimana aku tahu semua ini akan memburuk?
Dan tentu aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama
Lain waktu aku bangun sebuah adidaya
Aku yakinkan kau berpartisipasi di dalamnya
……
Usai membaca puisi itu, Usmanov melanjutkannya dengan pekikan pengobar semangat.
Ya saudaraku, kita akan bangun sebuah adidaya dengan Islam, Allahu akbar!
Dan pastikan kita berpartisipasi di dalamnya, Allahu Akbar!
Sungguh, tak ada kemuliaan tanpa Islam, Allahu akbar!
Sungguh, tak ada Islam tanpa syariah, Allahu akbar!
Sungguh, tak ada syariah tanpa Khilafah, Allahu akbar!
Salam kehancuran bagi kedigdayaan semu Kapitalisme, Allahu Akbar!
Pekik takbir Usmanov turut digemakan seluruh peserta masirah dengan semangat. Tiba-tiba dari seluruh penjuru mata angin tetetetetetetetetetetet….suara tembakan beruntun menerjang peserta unjuk rasa siang hari itu. Dalam sekejap mata, darah di mana-mana. Tubuh-tubuh berjatuhan, tergeletak tak berdaya tanpa perlawanan sedikit pun. Barisan muslimah di belakang segera semburat berlarian menyelamatkan diri. Beberapa jatuh dan syahid di tempat, memperjuangkan Islam sebagai ideologi.
“Ayesha, lari ke sebelah sini, sist,”teriak Svetlana pada Ayesha yang sedang menggendong bayinya berumur 9 bulan.
“Aishah, Fatimah, Zahrah, Habibah, lari ke masjid!” Svetlana terus berusaha menyelamatkan para muslimah yang bingung arah dalam berlari. Suara tembakan semakin sering dan dekat.
Dalam langkah larinya, Svetlana teringat abangnya. Usmanov masih di podium kecil meneriakkan takbir ketika tembakan terdengar. Tanpa terasa ada air mata menggenangi pipinya. Camcorder mungil yang selalu ada di tasnya, dirabanya dan ia pun merubah arah larinya.
“Svetlana, berlindung sist. Jangan ke arah podium, di situ pusat tembakan terjadi,” brother Hasyim berteriak mengingatkanya. Svetlana hanya melambaikan tangannya dan bergegas menuju arah yang dilarang itu.
Svetlana, gadis lincah bernyali baja, berjalan dengan mengendap-endap. Ditahannya nafas dan juga sesak yang membuncah di dadanya. Bukan sesak karena tak ada udara, tapi sesak karena kemarahan yang menggelora. Tubuh-tubuh para mujahid dakwah itu bergelimpangan di tanah. Brother Alimov, Husain, Kaparov, dan banyak brother lain yang ia tahu sebagai teman-teman abangnya dalam berdakwah, syahid.
Tak pernah Svetlana melihat mayat sebanyak ini. Masirah di Andijan menjadi ladang pembantaian para pengemban dakwah yang berusaha mengembalikan kekhilafahan di muka bumi. Karimov laknatullah! Svetlana begitu geram hingga hampir-hampir ia tak mendengar suara lars sepatu militer berjalan ke arahnya. Allah bersamanya. Ia segera melompat dan bersembunyi di dalam bak sampah besar yang ada di dekatnya. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Dengan hati-hati, berusaha diintipnya lewat celah kecil di bak sampah. “What the hell they’re doing?” batin Svetlana geram. Tentara-tentara Uzbek itu meletakkan senapan di tangan para brothers.
Dengan sigap, dipasangnya camcorder untuk menangkap momen itu. Tak henti bibir dan batin Svetlana terus mengumandangkan asma Allah, ayat kursi dan doa mohon perlindungan dari dajjal-dajjal berbentuk manusia ini.
Beberapa kali diambilnya adegan para tentara yang berusaha memfitnah para brothers itu dengan kamera videonya. Di-zoom-nya sehingga tampak begitu jelas. Ya Allah, bantu aku menyampaikan kebenaran ini pada dunia. Svetlana terus berdoa. Dan Allah menjawab doanya.
EPILOG
Usmanov syahid bersama mayoritas muslim lainnya yang ada di lapangan Andijan. Kelompok Islam tertentu menjadi kambing hitam Karimov atas kebrutalannya. Ia menyebutnya sebagai kerusuhan yang disebabkan oleh para teroris. Dengan pongah, Karimov menunjukkan foto brothers yang syahid memegang senjata rekayasa yang diletakkan oleh tentara-tentara suruhannya dan menuduh mereka adalah para teroris.
Svetlana selamat. Dunia boleh tertipu oleh ulah Karimov. Tapi rekaman video kecil ini dan sejumlah foto yang diabadikannya akan menjadi saksi tak terbantah bahwa pernyataan Karimov palsu. Dengan mata nanar, Svetlana menatap foto Presiden negerinya itu dengan penuh kemarahan. Kemenangan Islam tak lama lagi, Karimov, batin Svetlana geram. Tunggu saat pembalasan dari semua kekejian yang telah kamu lakukan terhadap kaum muslimin.
Pada saat yang bersamaan, video dan rekaman amatiran dari camcorder Svetlana terus digandakan. Terus dan terus. Tanpa ada hak cipta kecuali kebenaran itu sendirilah yang bakal tercipta.
Sementara itu, bumi Andijan masih basah oleh darah. Belahan bumi yang lain masih terus menggelorakan semangat perubahan dan kebangkitan hakiki. Tiran terus menghantam, pengemban dakwah terus maju berjuang. Hingga saatnya nanti, Hidup mulia dengan syariah dan Khilafah atau berkalang tanah sebagai syuhada. ALLAHU AKBAR!
—-
Teiring cinta berbalut duka untuk Andijan, Uzbekistan.

Kamis, 11 Agustus 2011

Reruntuhan

John tersenyum puas dan mematikan kameranya. Michael selalu bisa mendramatisir suasana, menambah manisnya komoditas mereka.
“Aku hanya dapat mencium aroma uang dari sini. Kau tahu jurnalis tidak boleh berbohong, kan?” canda Jhon. Michael tersenyum samar menatap ke arah reruntuhan yang melapang di depannya.
“Hei, kau tidak berpikir mau jadi sukarelawan kan?” John masih bercanda.
“Entahlah,” jawab Michael pelan.
“Kamu masuk angin?” Jhon dengan mimik serius. Michael menggeleng kaku.
“Jhon, cerita penderitaan dan kehancuran di sini dalam waktu singkat akan memenuhi semua media cetak dunia. Kau yakin kita tidak mendapat berita basi?” John tercenung. Tidak ada stasiun televisi yang akan mau membayar mahal untuk cerita yang akan dimiliki semua orang. Kalau rencana liburan ke Hawaii masih mau dilanjutkan, mereka harus mencari sisi lain. Terlalu sayang pengorbanan mengarungi perairan yang baru terkena tsunami, bila hanya memperoleh sedikit imbalan.
“Apa usulmu?” John membayangkan malam gelap yang mereka lewati di atas perahu nelayan tempohari.
“Kau ingat aturan pertama jurnalis mendapatkan berita?” cetus Michael.
“Kita tidak boleh pasif menunggu berita!” Jhon asal, perutnya mulai berkeruyuk minta isi.
“Tepat sekali! Selain karena tsunami, apa yang membuat daerah ini terkenal?” Michael dengan semangat menohoknya.
“Tariannya?” Otak Jhon agak macet kalau sedang lapar.
“Kita buat saja liputan konser tarian daerah di wilayah bencana. Itu pasti akan menjadi berita yang sangat menarik!” Michael mendengus kesal. Ia paling tidak suka apabila idenya dibuat bercanda.
“Oke, serius! Apa kaitan GAM dengan tsunami?” Jhon semakin tak fokus, karena perutnya mulai menjerit.
“Ingatkan aku mengganti kameramenku setelah mencapai peradaban! Sepertinya otakmu jauh menurun sejak pertama kali datang ke tempat ini,” Michael memasang wajah kecewa. John memukul tangan Michael dengan keras, walaupun sambil tersenyum.
“Kita meliput suasana tegang GAM dengan TNI setelah bencana?” Pemandangan yang ia lihat lumayan mengurangi nafsu makannya. Mayat seorang ibu yang sedang memeluk anaknya, berusaha melindungi sampai saat terakhir. “Tepatnya, kita buat ketegangan GAM dengan TNI setelah bencana. Kita satu-satunya yang berhasil meliputnya, lengkap!”
“Oke, tiga-dua kali ini. Kau hampir menyusul kepiawaianku, Nak,” John seketika tersenyum, duduk di sebuah bangku yang dihanyutkan banjir.
“Tiga-dua mimpimu! Aku jelas sudah lebih piawai daripada siapa pun, sejak dulu!” sentak Michael sombong.
“Yang di Irak, itu kan ideku!” mereka terus bertengkar sambil bercanda di atas sebuah rumah besar yang hampir roboh. Dan mayat-mayat tersangkut di jendela lantai bawahnya.
“Ngomong-ngomong, kita malam ini tidur di sini?” keluh John memandang enggan ke arah mayat-mayat.
“Yah, kamu sudah siapkan maskernya kan?”
John melongo sebentar. “Oh iya, masker! Di mana?” Kali ini Michael menonjok tangan John dengan sungguh-sungguh.
ooOoo
Irak, Somalia, Filipina, hanyalah sebagian kecil dari petualangan mereka. Dua nama yang mulai melegenda di kalangan jurnalis internasional. Bagaimana mereka merekayasa situasi, membuat konflik yang direkam dan jual dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada yang mengetahui nama asli John dan Michael. Mereka bekerja lebih mirip mafia daripada jurnalis. Koneksi dan jaringan yang luas di kalangan preman, pengedar obat bius, tentara berbagai negara, membuat mereka mudah mengatur rekayasa. Mulai dari demonstrasi mahasiswa dan para buruh yang berkembang menjadi kerusuhan, kebakaran pasar, hingga pemberontakan dan kudeta di suatu negara.
Kini mereka berdiri di depan sebuah benteng, lebih mirip perkampungan yang dikelilingi pagar bambu.
“Kau yakin ini tempatnya?” Michael ragu. Tas yang disandangnya mulai terasa berat.
“Kenapa? Memang mirip benteng!”
“Terlalu mirip, terlalu mencolok! Hebat sekali kalau belum pernah digerebek,” Michael sinis.
“Entahlah, tapi begitulah menurut si Rizki. Sekarang di mana lagi bajingan itu? Katanya ia mau menemui kita,” umpat John. Mereka menunggu hampir setengah jam. Seorang lelaki kerempeng, berwajah licin muncul bersama lelaki yang berpakaian mirip tentara dan berwajah berwibawa.
“Ini orang yang saya ceritakan, Teuku. Mereka bilang ingin meliput para pengungsi yang datang ke perkampungan ini.”
Lelaki berwibawa memandang John dan Michael secara seksama sebelum berkata tegas kepada temannya, “Kamu tidak bilang mereka orang asing! Bagaimana kalau mereka mata-mata?”
John mengulurkan tangan sambil menyerahkan kartu pers. “John dan Michael, kami memang wartawan. Kantor kami tertulis di kartu ini. Silakan hubungi mereka kalau Anda tidak percaya.”
“Kalian bisa berbahasa Indonesia! Kenapa kalian ngotot bicara bahasa Inggris kemarin?” tuntut lelaki berwajah licin bernama Rizki itu.
“Kami sempat tinggal di Bali hampir setengah tahun,” jawab Michael sambil teringat pengalaman pahit mereka, melacak jejak pemboman Bali.
“Mengenai kemarin, kamu sendiri yang pertama-tama sok jago bisa bahasa Inggris?” John tersenyum geli.
Lelaki berwibawa hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Ia meneliti kartu pers yang diberikan John, seakan berharap menemukan tanda-tanda pemalsuan.
“Baik, saya Sayed pimpinan di sini. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya harap Anda tidak mengambil gambar apapun di sini,” kata Sayed sambil berjalan terlebih dahulu memasuki perkampungan.
ooOoo
“Seharian menunggu apa hasilnya?!” teriak Michael. John hanya terdiam. Ia sama kecewanya dengan Michael. Sayed merasa memanfaatkan momentum bencana untuk menyerang pemerintah. Sangat tidak berperikemanusiaan. Mereka bahkan dipersilakan untuk meninggalkan perkampungan.
“Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Jelas-jelas ini kesempatan yang sangat bagus. Daerah tanpa pemerintahan dengan akses militer asing yang terbuka, bodoh!”
“Satu berita tercoret dari daftar. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita? akhirnya terpaksa meliput segala tetek-bengek penderitaan after disaster?” Michael memandang John menuntut jawaban.
“Tunggu, biarkan aku berpikir dulu,” gumam John menunduk, gayanya bila mencari ide. Michael menunggu sambil berharap. Ia sudah kehabisan akal mencari bahan liputan yang bisa dijual mahal.
“Ingat awal karir kita? Merekam film dokumenter kehidupan suku terasing di Papua,” cetus Jhon tiba-tiba.
“Ya, lantas?”
“Kita bisa memakai taktik dulu. Membayar orang untuk menimbulkan masalah, memicu peperangan, kemudian mendokumentasikannya,” John tersenyum, merasa perjalanan mereka tidak sia-sia.
Wajah Michael berbinar mendengar usul John. Kini mereka tinggal menemukan sekelompok orang yang mau melakukan apapun untuk uang. Dan di daerah korban bencana? Itu adalah hal paling mudah untuk dilakukan!
ooOoo
“Ssst…? Siap John?” ?bisik Michael kepada John yang sedang duduk di atas sebuah pohon, agak jauh dari jalan raya. Jhon mengangguk sumringah.
Rencananya akan ada pencegatan bantuan pangan oleh sekelompok orang yang mengaku GAM. Tindakan itu pasti akan memicu reaksi dari pemerintah. Kelak akan banyak pertempuran yang dapat direkam. Bahkan si pengecut Sayed itupun tidak akan dapat menghentikan bergulirnya bola api!
Iring-iringan truk pengangkut barang mulai terlihat. Dikawal jeep berisikan beberapa anggota TNI. Michael memberi isyarat pada beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Tak berapa lama kemudian terdengar letusan ban. Jebakan yang mereka pasang pasti mengenai sasaran. Iring-iringan itu berhenti, terhalang mobil jeep TNI yang kini bergeming.
Orang-orang suruhan itu berlompatan dari balik pepohonan sambil menodongkan senjata. Beberapa orang terlihat langsung melompat ke dalam truk terdepan, menodongkan senjata tepat di leher pengemudi. Setelah beberapa patah kata yang menunjukkan ‘identitas’ mereka sebagai anggota GAM, para ‘perampok’ itu mengeluarkan semua pengemudi, membawa lari empat truk yang penuh dengan makanan dan pakaian.
“Militer tak mengira ada serangan di kawasan parah itu!” Jhon tergelak penuh kemenangan.
ooOoo
Hampir tengah malam, mereka, kedua lelaki itu berjalan gontai, setengah mabuk, di tengah reruntuhan sebuah perkampungan dekat Meulaboh. John membawa kameranya. Walaupun hanya bisa dijual murah. “Tak bakal sakit mengumpulkan receh,” menurut pepatah John.
Mereka dikejutkan oleh suara isakan dari tengah reruntuhan. Tidak seperti orang Indonesia yang cenderung berpikir horor, mereka malah penasaran mencari arah suara aneh. John mulai mempersiapkan kameranya untuk men-shoot kejadian apapun.
“John, di sana!” bisik Michael sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil yang terisak di reruntuhan. Anak kecil itu menutup matanya dengan sebelah tangan yang berlumuran darah kering, ketika senter Michael mengarah padanya.
“Apa yang sedang ia tangisi?” John sambil mulai merekam, sementara Michael mengedarkan senter mencari penyebab tangis anak tersebut.
“Ada tangan menyembul keluar!” seru Michael menyorotkan senternya ke sebuah tangan. “Mungkin itu mayat ibunya, Jhon!”
Senyuman John mulai merekah. Kejadian apa yang lebih mengiris hati daripada pemandangan seorang anak menangisi mayat ibunya yang tertimpa reruntuhan di tengah malam? Kejadian tragis bernilai mahal!
John merekam pemandangan itu dari berbagai sudut. Saat itulah, tanpa John sadari, pandangan Michael mulai berkaca-kaca. Ia mendekati reruntuhan.
“Michael, mau apa kamu? Nanti saja kita panggil bantuan!”
Tanpa menggubrisnya Michael mulai mengangkat balok yang menimpa ibu si anak.
“Ugh, mayat ini pasti sudah membusuk lebih dari seminggu,” John mencium bau menyengat.
Masih tanpa berkata-kata, Michael mulai melakukan hal yang terlihat mustahil bagi John! ?Ia mengangkat mayat itu!
“He, apa yang kau lakukan? Nanti kamu terkena cairan busuk mayat!”
Michael tak menyahut, memanggul mayat itu diikuti si anak menuju posko bantuan. Meninggalkan John yang masih keheranan dengan kelakuannya.
Sebulan sejak kejadian malam itu, tangan kanan Michael diamputasi terkena infeksi berasal dari cairan busuk mayat yang digotongnya. Sebelumnya memang sudah ada luka menganga di bahu Michael. Pertolongan pertama yang diberikan di posko bantuan jelas sangat tidak memadai.
“Aku bahagia sudah melakukannya,” jawab Michael pendek.
Infeksi yang terus menjalar itu melemahkan paru-parunya, sehingga berbicara merupakan siksaan tersendiri baginya. Di luar tim medis internasional menunggu bersama sebuah helikopter. Mereka akan memindahkan Michael ke rumah sakit di Singapura. John masih tidak mengerti waktu tim medis mulai menggotong Michael ke helikopter. Ketika membereskan barang-barang Michael, John menemukan sebuah buku kecil.
ooOoo
“Aku masih belum bisa mengerti jalan pikiranmu!” gerutu John di hadapan sebuah makam, sepulangnya dari Hawaii. Nama Imam Ahmadi tertera di sana, nama Michael setelah ia mengucap ikrar syahadat di tengah sakit yang menyerangnya.
John berdiri di tengah hujan. Di tangan kanannya ada catatan harian Michael. Catatan yang menceritakan renungan-renungan Michael akan semua tindakannya, tujuan hidupnya, dan penyesalannya. Catatan yang menceritakan gejolak batin Michael selama menjadi jurnalis yang menghalalkan segala cara untuk mendapat berita. Catatan yang membuat John termenung hebat

Rabu, 10 Agustus 2011

Surat Terakhir dari Ancone

Dear Friend,
Bagaimana kabarmu beserta keluarga, keponakan-keponakanmu yang lucu, dan teman-temanmu dalam Islam? Aku harap mereka semua baik-baik saja. Dan bagaimana pula dengan ujian akhirmu? Sebagaimana yang kau tulis di suratmu yang lalu tentang perasaan sedihmu akan meninggalkan masa-masa di Senior High yang penuh keakraban terutama dengan siswa-siswa baru yang mulai berkenalan dengan cahaya baru Islam yang kau bilang namanya hidayah. Aku ingat ketika kulontarkan kata-kata kebencian ketika aku mengetahui agamamu, dengan sabar kamu berusaha meluruskan persepsiku.
Ah….forget it friend. Aku malu bila mengingat apa yang sudah kutulis padamu. Padahal tahun pertama persahabatan kita begitu manis. Aku masih ingat ketika membuka e-mail pertama darimu di sebuah box surat dalam dunia maya. Kau ceritakan siapa dirimu, hobimu, dan dari mana kamu tahu e-mail addressku. Aku begitu terkesan dengan cerita-ceritamu tentang negeri dengan hawa tropis di sana, Indonesia. Kau ceritakan pula tentang kota tempat tinggalmu Surabaya, yang akan menjadi kota metropolitan kedua setelah ibu kota Jakarta. Kedatangan e-mailmu seakan-akan kiriman Tuhan dari langit karena begitu tepat momentnya, tatkala aku begitu butuh seorang teman untuk berbagi cerita.
Ngomong-ngomong mengenai Tuhan, aku tidak begitu peduli dengan-Nya. Aku percaya bahwa Tuhan ada tapi tentang keterlibatan-Nya dalam urusan dunia, nanti dulu. Paham sekuler yang ditanamkan sejak dini itu begitu kuat di kepribadian kami, anak-anak Eropa. Biarlah Tuhan mengurusi persoalan di langit. Tentang urusan dunia, biarkan kami anak-anak Tuhan yang menanganinya. Ditambah lagi pelajaran agama tidak pernah ada di sekolah-sekolah umum, kecuali sekolah biara tentunya. Jadilah kami generasi yang begitu bangga pada kemampuan otak dan kreativitas. Dad pernah menyekolahkanku di sekolah biara dengan paket khusus liburan musim dingin beberapa tahun lalu. O ya, Dad berasal dari England, negerinya si cantik Lady Diana. Makanya aku memanggilnya lain dari anak Perancis umumnya. Dad begitu ingin aku mengikuti jejaknya, mengabdikan diri pada Tuhan dan menghindari urusan dunia yang tidak abadi, katanya. Tapi aku bukanlah Melville, abangku yang mengikuti jejak Dad. Melville yang memutuskan masuk biara setelah Nicole, pacarnya lari dengan laki-laki lain. Dad semakin bangga dengan anak laki-laki satu-satunya itu. Di tengah kekalutannya, dia memilih biara sebagai pelarian. Mungkin menurut Dad itu lebih baik daripada Mary, si bungsu yang saat ini tak ketahuan rimbanya setelah menggugurkan kandungan di usianya yang masih 15 tahun itu. Hanya akulah harapan Dad yang masih tegar dan suci, sesuci keperawanan Bunda Maria. Tapi Dad pun tahu bahwa aku tidak tega menjadikan biara sebagai pelarian dari semua masalah, terutama mereka yang patah hati. Kasihan Yesus yang menderita karena dosa manusia dan menjadikan biara dan gereja hanya sebagai tempat penampungan bagi mereka yang putus asa dan merasa hidupnya tak berarti lagi. Hampir semua yang menjadi pastor dan biarawati adalah mereka yang telah pernah melakukan seks di luar nikah. Bahkan yang membuatku kecewa tidak itu saja. Suatu malam aku memergoki seorang suster dan pastor melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya mereka lakukan. Aku tahu, sebetulnya aku tidak boleh mengetahui apa yang mereka lakukan. Tapi rasa ingin tahuku mengalahkan segalanya. Semalaman aku tidak bisa tidur dan harus kembali merenungi kata-kata dalam suratmu sebelumnya. Menikah adalah sesuatu yang alami pada manusia untuk mengendalikan diri dari perilaku-perilaku yang menyimpang. Kamu menyebutnya fitrah. Di lain pihak segolongan orang melakukan penyimpangan sehingga terlalu bebas atau free sex, sedangkan sebagian yang lain pura-pura sok suci dan berusaha lari ke biara-biara untuk menghindari sesuatu yang menurut mereka kotor dan menjijikkan. Tapi mereka munafik, toh mereka lakukan juga walaupun dengan sembunyi-sembunyi.
Banyak hal yang membuatku semakin bingung, ketika aku berusaha memperdalam agama ini. Tentang prinsip tiga dalam satu, penebusan dosa, ataupun yang lain. Kami di sini tidak diperbolehkan untuk bertanya atau menyangkal tapi hanya diajar untuk menerima tanpa bantahan. Karena pernah suatu kali aku mencoba menanyakan kedua hal di atas dan aku pun masih ingat bagaimana merahnya wajah pastor pengajar. Kemudian salah satu suster mendekatiku, memintaku keluar kelas dan memintaku beristirahat. Dianggapnya aku sakit dan sedang mengigau. Semakin kupikirkan ini semakin pening rasa kepalaku. Kuputuskan untuk tidak mengikuti bahasan selanjutnya tentang trik-trik untuk menjadi misionaris yang efektif. Aku tidak berminat lagi. Aku sudah cukup muak dengan itu semua. Menarik orang-orang awam, miskin dan bodoh dengan iming-iming uang dan makanan. Dan bukannya dengan argumentasi dan intelektualitas logis yang bisa dipertanggungjawabkan untuk mencari kebenaran. Satu hal lagi, tingkah lakuku semakin diawasi sejak kulontarkan pertanyaan tempo hari. Untunglah ada seorang biarawati yang baik dan memohon suster kepala untuk menyerahkan pengawasanku padanya. Suster Antoinette namanya. Dia begitu memahami tentang kebingunganku terhadap prinsip-prinsip unlogical yang kuterima. Bahkan dia mendorongku untuk mempelajari berbagai agama lain. Aku masih ingat salah satu kata-katanya, “Islam adalah salah satu agama besar di dunia dan identik dengan terorisme. Tapi bukan mustahil kebenaran ada di dalamnya.” Aku langsung teringat dirimu yang juga berpakaian rapat seperti Suster Antoinette.
Kota ini terlalu kecil bagiku untuk mendapatkan sepercik embun pada dahagaku, haus akan kebenaran. Minggu depan umurku genap delapan belas tahun, usia kebebasan yang bahkan orang tua pun tidak berhak melarang atau menyuruh apa pun pada anaknya. Lucu bila mengingat di negaramu sana umur tujuh belas tahun biasa dirayakan dengan meriah bagi mereka yang mengagungkan peradaban barat dengan anggapan mereka sudah dewasa. Di sini kedewasaan itu tidak diukur dengan pesta meriah tapi bukti seratus persen harus sudah lepas dari tanggung jawab orang tua. Benar-benar hidup mandiri. Aku harus ke Paris, suatu kota yang kata orang the most romantic city in the world. Yah, aku ke sana memang mau mencari cinta, tapi bukan cinta semu yang diobral sepanjang Mouff distrik, atau pun dari Place de la Contrescarpe dan sepanjang the Rue Mouffetard. Yang kucari adalah cinta hakiki, yang akan memberi kedamaian di hati. Yang akan menjawab semua pertanyaan besarku tentang dari mana aku berasal, untuk apa sebenarnya aku hidup di dunia ini, dan setelah semua ini berakhir, kemanakah aku kan pergi.
Paris di malam hari. Cukup indah dengan segala lampu kota menghias di tiap sudut jalan dibandingkan dengan kota kecil Ancone yang bernuansa pedesaan. Toko-toko berjajar, orang-orang berjas dan berdasi hanya untuk makan malam, diskotik, pub dan hotel penuh orang. Tapi bukan itu tujuanku kemari. Kulangkahkan kaki menuju museum kota tempat perpustakaan dan literatur tentang segala agama berada. Tidak banyak yang kudapatkan unutk memuaskan dahagaku tentang kebenaran dan konsep hidup yang benar. Kulangkahkan kaki menuju Cancale, pantai Brittani yang terkenal indah. Kebetulan di bulan September ini cuaca sangat cerah, summer season. Matahari lambat terbenam sehingga aku masih sempat menyaksikan sinar indahnya di hampir tengah malam ini. Kutarik nafas dalam dan tak henti memandang keindahannya. Pastilah ada Yang Mahaindah di balik itu semua. Seperti yang pernah kau kutipkan dari kitab sucimu Al Kur’an bahwa dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi mereka yang mau berpikir.
Hari mulai gelap dan aku tak ingin menghentikan kembaraku. Kubiarkan kaki melangkah sekehendak hati hingga tibalah aku di depan Masjid Hammam atau orangbiasa menyebutnya Hammam of the Paris mosque. Entah kenapa ada kerinduan menyeruak kala terdengar seruan dari dalam yang nantinya aku tahu bernama adzan. Sebuah panggilan merdu untuk beribadah yang bernama sholat. Di tengah ketertegunanku ada seorang muslimah berbaju rapat mengingatkanku akan suster Antoinette yang hanya terlihat muka dan telapak tangan. Dia menyapaku ramah dan mengajakku ke ruangan teduh yang merupakan sekretariat muslimah. Di situlah untuk pertama kalinya aku menangis setelah semua pertanyaan yang mengusikku terjawab dengan sangat memuaskan. Tentang dari mana aku berasal, untuk apa aku hidup di dunia ini, dan ke mana aku akan kembali setelah kematian menjemput. Aku merasa seperti terlahir kembali dan menemukan diriku yang sama sekali baru. Betapa ada Yang Maha Segalanya di balik manusia, alam dan kehidupan ini, ada Yang Maha menciptakan dan dia juga Maha pengatur. Karena? tidak ada yang Maha memahami manusia selain pencipta itu sendiri. Betapa naif bila kehidupan yang sedemikian rumit diserahkan ke akal manusia yang terbatas dengan konsep trial and error. Harus ada aturan pasti tentang semua hal itu. Dan konsep kebaikan akan ada pahala sedangkan kejahatan akan ada balasan tidak hanya setelah mati kelak tapi juga di dunia sebagai ganjaran untuk pemelihara hidup dan kehidupan. Benar-benar suatu konsep hidup yang amazing, luar biasa. Betapa sejak mula kita bangun tidur hingga semua aktifitas sehari-hari dilakukan hingga tidur lagi ada semua aturan yang begitu sempurna. Baru kali ini aku menemui suatu agama yang tidak hanya berdimensi spriritual an sich, tapi dimensi politik untuk mengurusi kehidupan semua lapisan masyarakat pun terbahas dengan sempurna dalam agama samawi terakhir ini, Al-Islam.
Akhirnya segala jerih payahku terbayar lunas. Tidak pernah aku sebahagia ini. Tapi di saat bersamaan ada terbersit khawatir di hati apabila Dad mengetahui tentang keislamanku. Dad orang yang keras, dia tidak segan-segan menghajar anaknya yang dianggap tidak patuh. Itu sebabnya Mary memilih lari dari rumah dengan perut buncit akibat pergaulan bebasnya. Ah, betapa rindunya aku dengan saudaraku itu. Ingin rasanya kubagi kebahagiaan ini dengan orang-orang terdekatku. Aku harus pulang.
Seperti yang pernah kutulis padamu, Dad orang yang keras. Tubuhku penuh bilur akibat siksaan dari kemarahannya setelah tahu tentang keislamanku. Aku tidak bisa menahan rasa hatiku untuk tidak memberitahunya. Walaupun sesungguhnya Tuhan, kita menyebutnya Allah membolehkan kita menyembunyikannya apabila situasi tidak memungkinkan. Tapi aku memilih jalan ini. Akan kutanggung semua konsekuensi dari keimananku. Karena di sinilah aku merasakan secara nyata lezatnya beriman dalam Islam.
Kutulis paragraph terakhir dari surat pertamaku ini untukmu, my dearest friend. Betapa tak henti kagumku dengan teknologi yang membikin dunia seperti sebuah desa informasi. Ketika internet bagai pisau bermata dua, maka aku telah menggunakan sisi baiknya. Sedikit banyak kamu telah membantuku menemukan muara dari kembara ruhaniku. Kamu yang hadir di belahan bumi sana dan tak pernah kugenggam erat genggam hangat persahabatanmu selain hanya sebuah image foto yang kita kirim satu sama lain, tapi hati kita nyata dalam balutan kasih Ilahi. Doakan aku, karena doa itulah kekuatan kita yang terpisah beribu-ribu mil jauhnya. Bukan good bye karena ini bukan perpisahan, tapi I’ll see you soon karena kita akan bertemu, Insya Allah. Bila tidak di dunia ini, biarlah di akhirat nanti. Salam sayangku selalu untukmu dan semua orang-orang yang kau kasihi dan juga muslim sedunia. Semoga Allah memberiku kekuatan dalam menjalani ini semua.

Love for thee

Laura Rotchild.
Aka Fathimah
PS: Douce France, doux pays de mon enfance. Sweet France, sweet land of my childhood. Aku terlahir di sini, dan biarlah kututup mataku di sini pula.
* * * * *
Kubaca tiap kata dari surat pertama dan terakhir Laura dengan hati berkecamuk antara bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Selamat datang saudaraku, selamat datang dalam iman dan Islam. Aku tidak tahu apakah pantas aku mengucapkan good bye dan saatnyakah kulakukan sholat gaib untukmu? Aku begitu mengenal tulisanmu dan gaya bertuturmu. Terlihat di surat terakhirmu kalau kamu begitu kesakitan sehingga sering tulisanmu melewati garis, naik turun tidak beraturan. Dari gayamu bercerita pun aku tahu kamu menyimpan luka baik fisik atau pun psychologis yang dahsyat. Kamu selalu tidak ingin berbagi kesedihanmu dengan orang lain. Tapi tiga tahun berteman di dunia maya cukup bagiku untuk mengenali dirimu dan berusaha merasakan kepedihanmu. Walau mungkin itu tak sebanding dengan apa yang kamu rasakan sendiri. Kamu mungkin tidak sadar kalau di ujung lembaran suratmu ada warna merah kehitaman membeku sehingga membuatku yakin kalau kondisimu jauh lebih parah dari isi suratmu yang hanya menggambarkan bilur di tubuh.
ooOoo
Laila Putri mengambil air wudhu dan menunaikan sholat sunnah untuk mendoakan sahabatnya itu. Tak ingin meyakini dirinya untuk melakukan sholat ghaib tentang kondisi terakhir Laura yang memilih nama Fathimah sebagai nama hijrahnya. Sahabat yang terasa begitu dekat tapi jauh secara materi. Pertemanan yang terjalin lewat dunia maya sebatas e-mail akhirnya harus ditutup dengan sepucuk surat nyata berbilur lara dan darah. Allah selalu bersamamu ya…ukhti.
(Teruntuk teman dunia mayaku, kapankah kalian menemukan muara bahagia itu?)

Selasa, 09 Agustus 2011

Satu Hari Bersama Kimong

Buat banyak orang punya keponakan itu menyenangkan. Tapi barangkali juga nggak, buat sebagian yang lain. Hm, itu yang tahu kamu sendiri jawabannya. Tergantung kesiapan diri kamu dan juga…si keponakan sendiri; cute, imut atau amit-amit.
Itu yang bakal dialami Eri. Weekend yang rencananya diisi belanja buku baru jadi gagal gara-gara ia disuruh maminya ngejagain Kimong, anak tantenya. Ceritanya Paman Tono dan istrinya naik haji. Selama mereka berhaji, anak mereka si Kimong dititipkan ke nenek Eri. Cuma, khusus minggu ini, Mami Eri kebagian ngejagain Kimong. En, karena Mami dan Abi ada undangan pernikahan teman pengajian maka tugas itu jatuh ke tangan Eri. So, Eri pun manyun. Kalau saja nggak inget ini adalah amanah, lagian ngejaga keponakan sendiri, Eri milih lari sejauh-jauhnya. Eh, nggak ding takut kejauhan nanti keabisan ongkos repot deh.
Kimong sebenarnya lucu. Mukanya yang innocent alias kagak punya dosa bikin gemes siapa aja yang ngeliat. Apalagi Kimong udah pinter ngomong walau umurnya baru lima tahun. Cuma, buat Eri apa enaknya ngejagain anak kecil. Gimana kalo ngompol en ??, siapa yang nyebokin? Bersihin kandang burung jalak punya abi aja Eri jijay, apalagi nyebokin anak orang. Hueks!
Belum lagi kelakuannya yang Eri kagak tahan. Suka malu-maluin. Pernah waktu jalan-jalan bareng keluarga ke pasar, Kimong minta dibeliin anak monyet. Mending monyet-monyetan, ini sih monyet betulan yang kebetulan lagi atraksi nge-dance ala Justin Timberlake di pentas topeng monyet. Terang aja Tante Vina, maminya, kesel. Biar udah diomongin kalau monyet itu nggak dijual, eh Kimong ngotot minta dibeliin. Cerita selanjutnya seperti bisa kamu tebak anak itu nangis sekenceng-kencengnya di pasar. Whuaaa…
Tante Vina, Mami, dan Eri yang lagi nenteng belanjaan terang aja jadi mokal abis. Berbagai bujukan dipake kagak mempan. Ditawari es krim coklat, permen, martabak, mie ayam, Kimong tetap setegar baja [superman kaleee!]. Untung aja nggak ditawarin kartu kredit, ril estat, atau ponsel.
“Udah Kimong, jangan nangis, daripada beli anak monyet mendingan maen PS ama Om Eri di rumah, ya?” Eri akhirnya turun tangan ngebujuk keponakannya itu.
Kimong menatap Eri sejenak, en…nangis lagi dengan amplitudo suara yang sama.
“Nggak mau, Kimong pengen anak monyet. Om Eri jelek, cakepan anak monyet. Om Eri nggak ada buntutnya, nggak kayak anak monyet,” kata Kimong asal. Eri jadi kecut. Sementara orang-orang yang merhatiin adegan tadi jadi mesem-mesem. Merasa iba sama Eri yang kalah menarik ama anak monyet.
Itu kenangan pahit yang diingat Eri sewaktu jalan bareng Kimong. Tapi apa boleh buat, pagi itu abi udah ngejemput Eri dari rumah nenek. Beberapa menit lagi anak itu bakal landing di rumah. Entah kekacauan macam apa yang bakal terjadi.
Suara Vespa abi udah terdengar di pintu gerbang. Itu berarti Kimong sudah datang. Bener aja, suara anak itu udah mendahului mukanya yang imut.
“Om Eriiii…assalamu ?alaykum!” teriaknya lantang. Eri yang lagi nyantap bubur ayam buru-buru keluar dari ruang tamu. Begitu keluar Kimong udah menyergapnya dari depan. Buk! Perut Eri kesundul kepala Kimong. Eri jadi mual.
“Om Eri sakit ya? Makanya kalau jalan liat-liat Om, kalau nggak nanti tabrakan,” kata Kimong. Sambil nyengir nahan sakit Eri ngangguk-nganguk. Huuh, ini anak! Belum apa-apa udah nyulut api kerusuhan.
“Kalau sakit makan aja dulu Om. Nah, itu ada bubur. Buat Kimong ya, Om?” celoteh Kimong sambil tau-tau udah mengangkat mangkok bubur ayam. Tanpa perasaan dosa langsung saja suap demi suap bubur ayam itu meluncur ke mulutnya. Tapi begitu suapan ketiga, aksi ini terhenti. Muka Kimong ngedadak jadi merah, mulutnya manyun dan…whuaaa!
Eri nyengir puas. Siapa suruh makan bubur punya orang, emang enak kepedesan! Sementara Kimong nangis, Eri megang perut nahan ketawa.
“Om Eri jahat! Om Eri jahat!” teriak Kimong. Abi dan Umi yang mau ke undangan berlarian ke ruang tamu.
“Kenapa, Mong?” tanya Mami panik sambil meluk Kimong.
“Buburnya dikasih sambel sama Om Eri,” Kimong ngomong sambil sesenggukan. Air matanya meleleh, antara nangis ama nahan pedes.
“Eri, kamu ini gimana sih? Jangan ngasih makanan pedes dong sama anak-anak. Kalau nanti sakit perut gimana?” Yee mami, kok jadi ngebelain Kimong. Gimana sih?
Setelah minum segelas susu baru deh tangis Kimong berhenti. Dengan wajah kesel ia menatap Eri. Yang ditatap cuma mesem-mesem sambil agak bete mikirin jatah bubur ayamnya yang berkurang.
Nggak berapa lama abi dan mami berangkat ke undangan. “Ati-ati di rumah, Ri. Jagain Kimong, jangan diusilin!” pesen Mami sebelum berangkat.
“Tenang aja, Mi. Kalau Kimong nangis, entar Eri kirim aja via sms ke Arab Saudi biar ketemu tante Vina,” jawab Eri. Maminya melotot. Eri menatap vespa yang membawa Abi dan Mami ke undangan. Oh, I wish I can go there with them. Eri membatin. Kebayang makanan undangan yang yummi. Tapi sekarang ia ada di rumah harus nemenin anak kecil. Moga-moga aja kagak rewel. Ya, Allah moga-moga aku selamat berada di rumah sampai ortuku pulang, doa Eri.
ooOoo
Hehehe…ternyata Kimong emang ujian dari Allah buat Eri. Beres nonton film kartun di tivi, ia udah kesel. Pengen jalan-jalan.
“Om Eri, Kimong pengen jalan-jalan,” Kimong udah merengek. Eri males-malesan menghampiri anak itu.
“Kita dengerin kaset Om Eri aja, ya?” bujuknya.
“Kaset apa Om? Lagu dangdut ya? Kimong seneng lagunya Uut Pematasari, Putri Panggung. Om Eri punya kan?”
Ya ampun, ini anak seleranya parah amat. Ini pasti korban tivi dan salah gaul.
“Om nggak punya lagu kayak begitu. Lagian itukan lagunya nggak bagus. Nggak baek buat anak-anak,” kata Eri.
“Nggak mau, pengen lagu itu!” Wah, mulai deh cengengnya kumat, Eri membatin.
“Dengerin aja dulu kaset Om Eri, Kimong entar suka deh.” Eri masukkin kaset Neoshalawat Snada ke tape componya. Kimong diem aja begitu dengerin nasyid koleksi Eri. Mukanya nunjukkin kalau ia nggak suka, tapi Eri cuek aja. Tapi, lama kelamaan Kimong nangis.
“Pengen ke Mama,” katanya disela-sela tangis. Eri mulai panik.
“Mamanya lagi naik haji, Kimong. Nanti juga pulang.” Sia-sia. Tangis Kimong makin kenceng. Ditawarin susu, snack, Kimong tetep nangis. Eri kebingungan. Gimana nih, please somebody help me! Save me! Save Our Soul! Ia muter otak nyari cara untuk nenangin ponakannya itu. Akhirnya ia nelepon Dado, sohibnya. Alhamdulillah, Dado sendiri yang ngangkat telepon.
“Do, gue mo konsultasi nih,” langsung aja Eri ngomong terus terang.
“Boleh, konsultasi apa? Asmara? Kesehatan? Keuangan? Asal jangan Feng Shui, itu haram,” jawab yang ditanya sekenanya.
“Gue serius, tau! Gimana sih cara bikin anak kecil berhenti nangis?” tanyanya dengan kesel.
“Oh, itu sih gampang. Lu ajak nyanyi, atau ajak ngeliat cicak. Biasanya ibu-ibu suka ngajak anaknya merhatiin cicak,” jawab Dado.
“Ah gua kagak bisa nyanyi. Kalo liat cicak sih boleh, tapi kenapa sih mesti cicak?” tanya Eri bingung.
“Iya dong, kalau disuruh liat gajah kan susah, kudu ke kebon binatang dulu. Mending liat cicak, di rumah kan banyak. He…he…” Idih, kok jadi tebak-tebakkan.
“Afwan gue becanda, Ri. Gimana kalau lu ajak jalan-jalan aja tuh anak?”
Jalan-jalan? Ok juga tuh. Sekalian beli buku , nih. Setelah ngucapin terima kasih dan salam. Konsultasi konyol ama Dado pun berakhir.
“Kimong, kita jalan-jalan, yuk?” bujuk Eri. Bener aja, begitu denger kata ?jalan-jalan’ tangisnya mulai surut. Yes, yes!
“Ke mana?” ia penasaran.
“Ke mall.”
“Nanti beli es krim ya?” pinta Kimong.
“Iya, tapi Kimong jangan nangis lagi ya?” Eri mengangguk. Kimong girang banget.
Nggak berapa lama keduanya udah berada di mikrolet. Sepanjang jalan Kimong nyanyi melulu. Lagu apa aja ia nyanyiin. Nggak peduli syairnya bener atau nggak.

Kring kring
ada sepeda
di atas genteng
Tuh, kan lagunya ngelantur kemana-mana. Tapi ia cuek aja. Eri juga bangga, soalnya secara nggak langsung ia jadi perhatian para penumpang. Ibu-ibu, akhwat yang berjilbab, semuanya ngeliatin Kimong. Aih, om-nya jadi ge-er.
“Berapa tahun?”
“Pinter, ya, udah banyak hapalan lagunya,”
“Anak ke berapa, Pak?” Wah kalau yang ini Eri jadi sebel. Masak tampang imut begini disangka udah beranak pinak. Kira-kira dong kalo nanya.
Hebatnya, Kimong udah bisa berdialog interaktif ama para penumpang. Ia ngejawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu semua. Ada yang bener ada juga yang ngawur. Ya, namanya juga anak-anak.
“Tante, kok tante make kerudung sih?” tanyanya pada seorang penumpang yang berjilbab.
“O, Tante orang Islam. Semua orang Islam wajib pake jilbab,” jawabnya. Kimong diem aja. Tau ngerti, tau nggak.
“Kalau Tante yang ini kok nggak pake jilbab, bukan orang Islam ya?” tanyanya pada seorang cewek berkaos ketat. Yang ditanya merah mukanya. Hihihi…kena skak ama anak kecil, emang enak?
Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di mall. Kimong seneng banget. Apalagi waktu diajak naik eksalator [tahu kan? Tangga berjalan tapi nggak ada hubungannya ama berobat jalan]. Ia jingkrak-jingkrakkan. Eri geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan keponakannya itu. Ah, senengnya jadi anak kecil nggak tahu permasalahan dunia. Nggak kayak gue udah banyak pikiran [ceilee sok tua lu, Ri!]. Mikirin ujian, pengajian, mikirin temen-temen, kadang-kadang ia mumet. Sementara anak kecil yang ada cuma maen, jajan en bobok. Tiba-tiba Eri jadi bernostalgia, inget jaman waktu kecil, diajak jalan-jalan ama Mami dan Abi ke Ancol, ke Istiqlal, rasanya seneng banget.
“Kita ke mana, Om?” tanya Kimong.
“Ke toko buku. Kimong boleh maen di sana, tapi jangan jauh-jauh ya?” pesen Eri pada Kimong.
Begitu masuk ke tempat toko buku Kimong udah lari-larian. Eri ngikutin dari belakang sambil ngelirikin buku-buku terbaru. Ada novel-novel Islam yang ia belum punya, buku-buku dakwah juga banyak. Ia jadi ngiler inget duitnya yang terbatas. Paling banter ia cuma bisa beli satu buku. Mumpung kagak disegel, baca dulu ah, Eri kegirangan. Buru-buru ia comot satu novel anyar. Matanya mulai asyik menyimak baris demi baris novel itu. Seru banget nih! Bab demi bab mulai ia lahap dengan serius.
Nggak kerasa satu novel itu udah ampir abis ia baca. Ih, ampe lupa waktu. Eh, ia juga jadi inget sesuatu…Kimong! Astagfirullah, ke mana dia? Kok gue teledor banget, lupa ama keponakan!
Eri mulai panik. Kepalanya celingukan mencari-cari Kimong. Nggak ketemu. Ia mulai jalan menyusuri barisan rak-rak buku. Di tengah-tengah kerumunan anak-anak yang lagi asyik baca komik matanya jelalatan, mencari Kimong. Nihil. Ia muter lagi dengan harap-harap cemas. Tapi Kimong tetep nggak ada. Eri mulai keringet dingin. Aduh, gimana kalau Kimong sampai nggak ketemu, atau diculik? Ah, ia buang jauh-jauh bayangan itu.
Satu-satunya harapan adalah mendatangi tempat informasi. Dengan lemas Eri menyebutkan ciri-ciri Kimong pada petugas informasi untuk diumumkan. Nggak berapa lama petugas itu mengumumkan berita kehilangan anak. Eri duduk dengan pasrah di bangku petugas.
“Tenang aja, Mas. Insya Allah ketemu, kok. Ini minum dulu,” kata petugas itu ramah sambil memberikan segelas air mineral.
“Makasih, Pak,” jawab Eri sambil mengambil air itu.
Tiga kali pengumuman diudarakan tapi belum ada hasil. Udah jam satu. Berarti sejam lebih Kimong nggak ada kabar berita. Penyesalan mulai merayap dalam hati Eri.? “Ya Allah, kenapa gue teledor.”
Tapi tiba-tiba ia mendengar suaranya dipanggil. Masya Allah, itu kan suara Kimong.
“Om Eri!” teriak Kimong. Eri girang banget mendengar suara cempreng itu lagi. Alhamdulillah, Kimong selamat. Seorang ibu berkerudung dengan anak kecil mengantarkan Kimong ke pusat informasi.
“Adik kakaknya?” tanya ibu itu.
“Bukan, saya saudaranya, om-nya,” jawab Eri grogi.
Ibu itu bercerita kalau ia melihat Kimong sedang nangis di tempat mainan anak-anak. Kimong ingin naik bom bom car. Karena kasian ibu itu mengajak Kimong bermain di sana bareng cucunya. Ternyata mereka berdua main asyik banget, sejam lebih. Makanya pengumuman kehilangan Kimong yang berulang-ulang tidak tersimak. Baru setelah mereka mau pulang, Kimong nangis lagi karena pengen balik bareng Eri.
“Ati-ati ya, Nak. Jagain Kimong baik-baik,” ibu itu ngasih nasihat sebelum pergi meninggalkan Eri dan Kimong. Eri mengiyakan sambil berkali-kali ngucapin terima kasih pada mereka. Kimong juga ngucapin terima kasih sambil melambaikan tangan pada cucu ibu itu.
“Aduh Kimong, Om Eri kangen banget ama Kimong,” sambut Eri sambil memeluk Kimong erat-erat. Yang dipeluk diem aja.
“Om Eri sih nggak ikut maen mobil-mobilan, seru lho, Om” jawab Kimong tanpa perasaan bersalah atau takut.
“Oh, iya, maapin Om Eri, ya. Om Eri nggak ngejagain Kimong,” kata Eri masih sumringah. Girang bisa kembali ketemu ponakannya.
“Sekarang kita pulang, yuk! Nanti Om Eri beliin es krim yang enak,” ajak Eri. Kimong menatap Eri. Bola matanya berbinar menandakan senang. Ah, Kimong kamu emang keponakan yang lucu.l

Nek Karim

“Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!”
Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.
“Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?”
“Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara….”
“Bunda…Bunda…jangan biarkan ini terjadi….Bunda….kita harus bertindak.”
“Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.”
Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.
Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk rumah sakit milik sebuah yayasan nasrani.
Kupandangi dengan sedih tubuh kurus Nek Karim dengan berbagai selang yang melilit. Mata Nek Karim yang mengatup, tak sedetik pun terbuka. Syukurlah, dengan begitu, Nek Karim tak perlu menatap salib yang tergantung tepat di depan ranjang, yang akan segera tertangkap penglihatan, andaikan mata tua itu terbuka. Hatiku menjerit. Nek Karim muslim, mengapa harus berada di ruangan ini? Mengapa benda itu harus tetap tergantung di hadapannya?
Bunda membisikkan sesuatu yang menggetarkan hati. “Perasaan Bunda, Nek Karim tidak sakit biasa, Rika.”
Aku memandang Bunda dengan sorot mata penuh sejuta tanya.
“Bunda sering menemani akhir hidup orang-orang yang hendak menghadap Allah. Sepertinya….”
Bunda memang tidak melanjutkan kalimatnya. Namun aku sudah sangat paham ke mana arah pembicaraan itu. Nek Karim tidak pernah mengeluh sakit. Pagi hari sebelum terkulai pingsan pun beliau masih sibuk memasak makanan kesukaan suaminya.
Nek Karim. Keluargaku tak ada hubungan darah dengannya. Namun pertalian iman memang fondasinya lebih kuat dibanding pertalian berdasarkan ikatan kekerabatan. Nek Karim adalah seorang muallaf. Sementara kelima putranya semua penganut Trinitas.
Belum genap sepuluh tahun Nek Karim bersama suaminya mengucapkan syahadat. Namun demikian, percepatan yang Nek Karim perlihatkan sungguh menakjubkan. Beliau seringkali bertindak lebih islami dibandingkan dengan orang yang memeluk Islam sejak kecil. Ghiroh-nya untuk berjuang di jalan Allah seringkali mendecakkan kagumku atas kuasa-Nya. Subhanallah! Untung saja, kelima putranya bukan termasuk nasrani yang taat, sehingga mereka tidak pernah mengusik keberagamaan orang tuanya. Lagi pula, hanya satu yang tetap tinggal sekampung dengan Nek Karim.
Sekarang Nek Karim sakit. Sakit yang tidak biasa. Sakit yang Bunda perkirakan hanya sebagai lantaran menghadapnya Nek Karim kepada Allah. Sakit yang sulit dideteksi, sehingga para dokter pun angkat tangan. Tapi mengapa, Nek Karim masih dipertahankan untuk dirawat di rumah sakit? Untuk apa? Berbagai praduga buruk pun lantas berseliweran di kepalaku. Cerita tentang orang meninggal yang diperebutkan cara perawatan jenazahnya karena keluarganya berbeda agama membuatku bergidik. Nek Karim muslim, apakah ada yang hendak memalingkannya dari kebenaran agama tauhid?
“Bunda, kenapa Nek Karim dibiarkan sendirian bersama pastur itu? Bagaimana jika nanti Nek Karim dikafirkan?” Aku nyaris terisak. Aku tak melepaskan mataku pada Pastur setengah tua yang sedang membelai-belai tubuh Nek Karim yang terbungkus selimut. Samar-samar, karena gorden jendelanya pun diturunkan. Ini tak boleh dibiarkan. Ini harus dihentikan! Aku tak rela Nek Karim dikembalikan kepada agamanya semula. Beberapa kali kusaksikan hal-hal yang mengkhawatirkan bagi iman Nek Karim di rumah sakit ini.
“Ustadz, kalau Nek Karim sampai berhasil dikafirkan menjelang ajalnya, kita turut bertanggung jawab.”
“Pak, sesama muslim itu bersaudara. Kita harus menyelamatkan Nek Karim!”
“Ayah kan pandai melobi, bergerak, dooong!!”
Aku terus bicara, pada Ayah, pada Pak Kadus, pada Pak RT, kepada kakak, dan pasti juga Bunda. Akidah Nek Karim harus diselamatkan!
ooOoo
Sore itu. Sinar sang mentari sudah tidak menyengat, udara berangsur dingin. Aku menarik nafas lega ketika menyaksikan sebuah ambulans memasuki kampungku. Ambulans berisi Nek Karim, yang atas lobi beberapa pemuka kampung diperbolehkan pulang oleh dokter, dan anak-anaknya pun tak bisa berbuat banyak. Namun, bagaimanapun juga aku tahu, perjuangan ini belum berakhir. Kesadaran Nek Karim belum pulih. Seminggu di rumah sakit tidak berpengaruh apa-apa terhadap kondisinya, bahkan kulihat semakin lemah. Tentu saja, karena paramedis di rumah sakit itu memperlakukan Nek Karim sebagai pasien biasa, bukan sebagai orang yang bersiap-siap untuk menghadap Tuhan. Mungkin juga, Nek Karim justru tersiksa berada dalam perawatan orang-orang itu. Orang-orang yang mengajarkan apa-apa yang pasti diingkari oleh nurani Nek Karim. Lagu rohani yang diputar tiap pagi, lonceng kecil yang dibunyikan dua kali sehari……
“Rika, sudah siap?”
Aku merapikan jilbabku dengan cepat. Kuambil Al Qur’an kecil dari meja belajarku. Kuikuti langkah Bunda yang sudah hampir mencapai pintu. Hari ini, aku dan Bunda bersama beberapa teman pengajian Bunda di majelis taklim hendak menengok Nek Karim, sekaligus membacakan surat At Taubah, surat Yasin, dan Ar Ra’du. Agar memudahkan jalan Nek Karim untuk menghadap Allah, ataupun menyembuhkan sakitnya, ataupun menguatkan iman Nek Karim dalam menghadapi musibah sakitnya.
“Puji Tuhan…”
Aku tertegun di depan pintu. Langkah Bunda dan para Ibu juga seketika terhenti. Ada pendeta yang sedang mendo’akan Nek Karim. Hatiku bergejolak. Apa ini maksudnya?
“Assalamu’alaikum.” Aku memberanikan diri. Salam itu kuucapkan pada Nek Karim, entah mengapa aku yakin beliau masih bisa mendengar. Salam itu juga pertanda kehadiranku. Aku ingin agar pendeta itu segera mengakhiri do’anya. Syukurlah, pendeta yang berambut tipis itu cukup tahu diri. Dia segera menurunkan salibnya dari badan Nek Karim, dan segera keluar dari ruangan.
Malam ini gelap gulita. Jika aku berada pada posisi anak Nek Karim, barangkali aku pun akan melakukan tindakan yang sama. Setiap orang yang beragama, pastilah dia meyakini akan kebenaran agama yang dipeluknya. Pastilah anak-anak Nek Karim menganggap bahwa Ibunya akan masuk neraka bila tetap berada dalam iman Islamnya. Hal tersebut tentu tak bisa disalahkan. Upaya mereka untuk mengembalikan Ibunya dalam iman yang ?benar’, kebenaran sejati menurut versi mereka, wajar-wajar saja.
Kupandangi sang purnama yang bersinar bulat. Namun aku sebagai muslim, sebagai orang yang yakin betul akan satu-satunya kebenaran, Islam sebagai jalan keselamatan tunggal, tentu tidak boleh tinggal diam. Bagaimanapun, perbuatan anak Nek Karim bisa dikategorikan tidak fair. Nek Karim sudah dalam kondisi tidak berdaya, bahkan mungkin sudah tidak dalam kesadaran penuh. Ini negara yang menjunjung hak asasi manusia, termasuk di dalamnya kebebasan beragama. Meskipun berstatus anak, tak ada hak sedikitpun dalam diri mereka untuk mengubah keyakinan Nek Karim.
“Rika mau menjaga Nek Karim malam ini, Bunda.”
“Bagaimana kalau anak-anak Nek Karim tidak setuju?”
“Apakah mereka akan berani? Mereka juga kan menjadi Kristen hanya karena korban kristenisasi. Keluarga besar Nek Karim kan mayoritas muslim, Bunda.”
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati membawa diri, jangan membuat masalah. Jangan bersikap keras!”
“Insya Allah Rika sudah paham, Bunda. Islam kan rahmatan lil ?alamin.”
Bunda tersenyum, lantas mengelus kepalaku lembut. Akupun berangkat ke rumah Nek Karim dengan perasaan lega.
Alhamdulillah, pada akhirnya usulku diperhatikan oleh orang-orang yang lebih dewasa dariku. Jangan sampai sedetik pun Nek Karim dibiarkan lengah dari pengawasan saudara seiman. Nek Karim sangat baik, aku berharap akhir hidupnya pun khusnul khatimah. Jadilah Bunda, Ayah, aku, Kak Wita, teman-teman Bunda dan Ayah, para tetangga, bergantian menjagai Nek Karim.
Malam ini sungguh senyap. Aku baru saja menyelesaikan surat At Taubahku. Kuletakkan mushaf di meja samping ranjang. Kucium pipi keriput Nek Karim. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menetes. Kucium lagi pipinya, lalu tangannya. Tangan itu yang sering memberikanku makanan, membuatkan roti bolu kesukaanku. Tangan itu yang melambai-lambai setiap aku berjalan di depan rumahnya. Tangan itu pula yang mengelus pipiku, lalu bibirnya berkata’ “Jadilah cucu Nenek yang sholihat. Do’akan terus kalau Nenek sudah meninggal. Nenek tidak bisa berharap dari anak-anak Nenek, juga dari cucu-cucu Nenek.”
Tak hanya tangannya, kaki Nek Karim pun kupeluk. Kaki itu yang melangkah ke masjid. Kaki itu yang meskipun tertatih, melangkah ke rumahku, ke rumah Bude Sri, ke tempat orang-orang yang disayanginya, untuk menghantarkan makanan, untuk bersilaturrahim. Kaki itu yang terlihat begitu ringan melangkah ke majelis ta’lim, mendatangi orang yang sedang punya hajat, orang yang dirundung duka atas kematian anggota keluarganya. Subhanallah, sepasang kaki yang insya Allah penuh barokah.
Siang itu panas menyengat. Aku berjalan dengan tergesa. Kulihat bendera putih melambai dari perempatan jalan menuju rumah Nek Karim. Apakah….
Pertanyaan di hatiku terjawab, hanya setelah sepuluh menit aku menjejakkan lima belas langkah lebarku. Kulihat Bunda di depan rumah Nek Karim, juga beberapa orang yang sedang sibuk menggelar tikar, mengatur kursi-kursi, atau melakukan pekerjaan lain.
Aku mencium tangan Bunda, Bunda pun memelukku. Kutatap mata Bunda. “Bagaimana?” Aku bertanya dengan suara berbisik.
Bunda tersenyum? dengan sorot mata yang penuh cahaya. “Insya Allah khusnul khotimah, Rika.”
Aku menarik nafas dalam-dalam penuh kelegaan. “Bunda menunggui saat-saat terakhir Nenek?”
Alhamdulilah.”
Dibimbing Bunda, aku menuju kamar di mana jenazah Nek Karim disemayamkan.
Tubuh itu terbujur kaku, tidak bergerak lagi. Aku masih ingin berlama-lama di ruangan ini. Sholat jenazah sudah selesai kutunaikan. Selanjutnya aku masih ingin berdo’a, berdzikir, dan membaca Al Qur’an. Aku tahu Nek Karim sudah tiada, aku sudah tidak bisa lagi mengajaknya bicara, aku tidak bisa lagi mendengar petuah-petuahnya, aku tidak bisa lagi menatap binar rindunya kepada Sang Pencipta, aku tidak bisa lagi merasai lembutnya sentuhan tangan penuh kasih itu. Namun kedamaian saat bersama Nek Karim masih terasa hangat di hatiku.
“Gantian ya, Mbak.”
Suara itu. Hatiku berdesir. Suara anak-anak Nek Karim. Kuberikan seulas senyum. Mungkin mereka juga hendak mendo’akan Ibunya, tentu saja dengan cara mereka.? Kulihat lagi pendeta berambut tipis itu, kali ini dia tidak membawa salibnya.
Aku berjalan keluar. Sesampai di pintu, aku menoleh lagi. Jenazah yang ditutupi kain jarik itu. Nek Karim…akhirnya engkau pergi menghadap-Nya. Satu pelajaran berharga telah kau tinggalkan untukku, Nek. Kau telah banyak berbuat, kau maksimalkan apapun yang kau punya, apapun yang kau bisa, untuk kemanfaatan umat. Sedang aku? Apa yang telah kupersiapkan untuk menyongsong saat yang sudah pasti akan tiba itu?
Nek Karim. Sosoknya kembali nyata di benakku. Air mataku kembali menetes.[]

[diambil dari Majalah PERMATA edisi 09/Tahun VII/Desember 2002]

Rabu, 03 Agustus 2011

Blast From The Past for Wiwid

Punya masa lalu yang kelam bin suram itu nggak enak. Takut ada yang ngungkit-ngungkit, atau keungkit sendiri (dongkrak kalee!). Soalnya itu kan aib bo! Siapa yang jamin nggak bakal terungkap.
Itu juga yang dialamin sama Wiwid. Anak rohis urusan logistik cewek bin akhwat ini punya aib di masa lalu – tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, cukup saya aja yang tahu –. Tepatnya itu terjadi waktu ia masih – you know – jadi seleb. Yup betul, kamu jangan tertipu dengan penampilan Wiwid saat ini. Don’t judge the girl by her jilbab. Siapa nyangka dibalik jilbabnya yang anggun ia mantan vokalis band indies cewek. Bareng temen-temen SMPnya mereka bikin band aliran hitam, eh grindcore dengan nama Kasih Ibu. Lumayanlah, sering dipanggil manggung terutama kalau pas acara sunatan massal atau kenaikan kelas di TK-TK seantero Jakarta Utara. Pamor mereka cuma kalah ama grup tahlil sewaan di acara 40 hari atau 100 hari orang meninggal. Iyalah, mana ada di acara kematian nanggap band, apalagi yang beraliran grindcore.
Tapi aib itu juga belum cukup, bo. Namanya selebritis sekali-kali kesandung juga ama yang namanya jatuh cinta. Wiwid juga ngalamin. Sebagai akhwat yang memiliki naluri mencintai lawan jenis atawa gharizah nau (ciee keluar nih kitabnya) ia juga pernah ngalamin. Ceritanya ketika manggung, ada cowok yang perhatian banget ngeliat penampilan Wiwid yang heboh. Cowok itu keren abis, perpaduan tampang Ari Sihasale dengan Taufik Savalas dan mesin giling (hi…hi…hi…).
Wiwid yang lagi manggung terang aja makin pede. Yeah, steal the show-lah. Ia jadi makin napsu bawain lagu Yamko Rambe Yamko. Sampai lupa kalau ia pake sepatu hak tinggi. Karena terlalu hot jejingkrakan keseimbangannya ilang, ia pun meluncur jatuh. Terjun bebas ke arah penonton. Bukannya panik penonton malah makin histeris. Nyangka kalau itu bagian dari aksi panggung. Mereka nyangka Wiwid lagi meragain moshing pit, ngeluncur di atas kepala penonton. Terus aja mereka ngoper badan Wiwid sampai ke belakang. Paling akhir Wiwid di oper ke bak sampah. Blug! Ia pun terduduk di keranjang sampah bercampur dengan tumpukan sampah yang bau.
Begitu bangun cowok itulah yang menolongnya. “Sakit ya?” tanyanya. Wiwid ngegelengin kepala, “Nggak!”. Emang sih kagak sakit, tapi mokalnya itu, Mas! Belum sempat itu cowok tanya-tanya, Wiwid udah diamanin Pak Hansip yang jadi sekuriti. “Mas, mas kalo minta tanda tangan atau cap jempol nanti aja di kelurahan,” katanya galak. Cowok itu mendelik, emangnya mo bikin KTP. Walhasil perkenalan itu pun tertunda.
Tapi kalau udah ngebet jatuh cinta, pasti ada aja jalan keluar. Love will find away kata grup musik Tesla. Mereka berpapasan waktu Wiwid belanja di mall nyari barang diskonan.
“Hai, ketemu lagi” sapa cowok itu ramah. Wiwid jadi sumringah plus geer.
“Kamu yang nolongin saya ya,” kata Wiwid.
“Iya, kita belum sempet kenalan. Kenalin saya Iip, tinggal di Casablanca,” cowok itu langsung merepet. Wih keren juga nih tinggalnya di kawasan elit Casablanca, pikir Wiwid langsung.
“Jangan salah, Casablanca itu Kampung Sawah Belakang,” kata tuh cowok lagi sambil cengar-cengir. Wiwid ikutan nyengir. Aih, aih, udah keren bisa ngelucu lagi. Wiwid makin seneng aja punya kenalan cowok kayak begini.
“Oh iya, nama kamu siapa?” Aduh kenapa gue jadi terkesima gini sampai lupa nyebutin nama.
“Saya Wiwid, vokalis band Kasih Ibu,” kata Wiwid sambil te-pe, tebar pesona. Cowok itu langsung muji abis penampilan keren Wiwid waktu manggung. Ternyata ia udah sering ngikutin band-nya Wiwid setiap manggung. Mereka pun lalu tuker-tukeran nomor HP. Biar bisa ber-sms ria. Dengan senang hati Wiwid ngasih nomor HP sampai alamat rumahnya yang lengkap plus nama Pak RT dan ayam peliharaannya.
“Yuk, gue cabut ya. Mo jemput Mami yang lagi belanja di pasar belakang. Selamat ngeborong belanjaan,” Iip berpamitan sambil matanya ngelirik ke tangan Wiwid yang lagi pegang barang di keranjang diskon. Wiwid senyum sambil curiga kenapa orang-orang pada ngeliatin? Ya ampun Wiwid nggak nyadar kalo dari tadi ia ngobrol sambil pegang BH diskonan yang mau ia beli. Apalagi ia sempat ngibas-ngibasin tangan. Pantesan orang-orang pada ngeliatin. Gubrag!
Nggak lama mereka pun jadian. Ya, kayak yang lain aja, pacarannya pake jalan-jalan ke Dufan, nonton Charlie’s Angel II: Full Throttle atau pas lagi bokek nonton Ketoprak Humor di rumah Wiwid bareng bokapnya yang fans berat Basuki Srimulat.
Cuma begitu masuk SMA mereka pun bubaran. Iip harus ikut bokapnya yang pegawai negeri pindah ke Irian Jaya. Sementara itu Wiwid kan harus nerusin sekolah di Jakarta. Dua sejoli itu pun terpisahkan oleh jarak dan waktu. Wiwid sempat nangis, malah ia pun nggak makan dan minum selama sebulan…waktu puasa Ramadlan.
ooOoo
Alhamdulillah waktu masuk SMU ia ketemu sama Adit yang tomboy tapi jilbaber. Juga temenan sama …. Singkat cerita ia jadi tersadar kalo selama ini ngejalanin hidup yang kurang sehat. Manggung pake rok mini, jejingkrakan di atas panggung, dan makin semangat kalo udah disorakin ama cowok-cowok yang asyik nonton. Ia nangis waktu tahajud karena ngerasa udah ngelakuin banyak dosa. Ia pengen tobat.
Tapi kemampuan Wiwid ternyata ada manfaatnya. Karena biasa nyetel peralatan band dan tahu banyak soal listrik ama katering, ia pun kebagian urusan logistik di rohis. Jadi seksi sibuk sekale di kegiatan pengajian. Citra Wiwid yang liar macam vokalis Evanescence yang kece pudar ditutup kerudung en jilbabnya yang rapi jali. Sekali-kali aja ia suka muter lagu Bring Me To Life-nya Evanescence. Itupun masih kalah sama puteran kasetnya Ruhul Jadid yang kenceng punya. Teman-temannya nggak ada yang tahu kalau ia punya masa lalu yang lumayan kelam.
Sampai suatu hari di kelasnya muncul seorang cowok yang pernah ia kenal. Pak Zainuddin MG, wali kelasnya nganter itu cowok. “Assalamu’alaykum anak-anak, hari ini ada kalian semua kedatangan seorang kawan baru dari tempat yang jauh. Tepatnya dari Irian Jaya. Coba, nak perkenalkan dirimu sendiri,” Pak Zainuddin ngasih prolog.
“Assalamu’alaykum teman-teman. Perkenalkan nama saya Syarifuddin, boleh juga dipanggil Iip…”
Sampai di situ Wiwid hampir pingsan. Perasaan dosa plus takut masa lalunya terbongkar, campur mirip pecel. Wiwid nggak berani menatap ke depan. Takut ketahuan. Sepanjang hari itu pikirannya jadi nggak konsen ama pelajaran. Kacau beliau lah pikirannya. Pas jam istirahat juga ogah ke kantin, terutama setelah nyadar kalo ia lupa bawa dompet. Ia juga menghindar ketemu ama Iip. Malah pas bubar sekolah ia nunggu paling akhir. Terus celingak celinguk ke luar kelas, baru kalo dirasa aman ia berani keluar kelas en ngibrit sekencang-kencangnya dari sekolahan. Mirip maling ayam diuber FBI.
Tapi sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jadi atlit lompat tinggi, eh jatuh juga. Wiwid ketangkep basah oleh Iip waktu mereka berpapasan di gang sekolah yang sempit. Iip mengenali juga dirinya.
“Lho kamu Wiwid, kan?” Iip curiga. Wiwid jadi grogi. Apalagi waktu Iip ngeliatin dengan gaya AS nginterogasi anak buah Usama bin Laden. Sepatu karetnya yang dipake berjalan jadi keseret-seret ngeluarin suara mendecit-decit ngeluarin mirip-mirip kentut.
“Dee baru ditanya begitu udah kentut segala,” ledek Amri temen sekelasnya. Teman-teman Iip cengengesan. Wiwid makin pengen pingsan. Nggak ngejawab, ia tetep jalan sambil nundukkin kepalanya. Duk! Ya ampun ia nabrak tiang. Bukannya nolongin, anak-anak cowok itu makin ngakak. Lumayan ada lawakan ala Srimulat pagi-pagi, pikir mereka. Wiwid sendiri ngibrit sambil ngusap-ngusap jidatnya yang lumayan nggak mulus alias benjol. Berderai air mata ia masuk ke kelas.
ooOoo
“Gw jadi bingung, tolongin gue dong, Ri,” Wiwid lagi curhat ama sepupunya, Riri yang lagi kuliah di London via chatting.
“Wid, setiap orang kan punya masa lalu. Ada yang bagus, ada juga yang nggak. Ya, itu udah nggak bisa kita lepas karena emang udah terjadi. Kita nggak bisa apa-apa,” bales Riri.
“Terus gw kudu gmn, dong?” Belum ada jawaban dari Riri. Lama.
“Eh, kurang ajar ya, elu diminta tolong malah ngorok? L” Riri ngedumel.
“Afwan en sori, gw ngantuk berat. Abis ujian jadi krg tdr. J”
“Ya, trs gmn dong?”
“Gmn lg. Masa lalu yang jelek kan emang kesalahan kita. Jadiin pelajaran en banyak aja istighfar. Trs jangan prasangka buruk sama orang lain kalau mereka bakal ngungkit-ngungkit masa lalu kita. Iya nggak?”
Bener juga, pikir Wiwid. Kenapa gue jadi su’udzan ama Iip kalo dia bakal ngebongkar masa lalu gue. Belum tentu kan?
“Gmn, udeh puas? Kudu ya? Gw udah ngantuk nih. Besok kita sambung in the same channel and in the same time. Adios amigos parantos permios, assalamu’alaykum” tulis Riri.
“OK deh, thx berat. Sori udeh ganggu istirahat lu. Salam buat Wayne Rooney, jangan belagu mentang-mentang jadi pemain England termuda yang bikin gol di piala Eropa. Wa’alaykum salam.”
Klik. Komputer di kamarnya pun dimatiin. Baru deh Wiwid bisa bobok dengan tenang.
ooOoo
Pagi ini Wiwid udah bangun dengan seger. Ah, enaknya hidup tanpa beban pikiran. Nggak kaya beberapa hari yang lalu ia pusing berat. Hidup itu memang ada masa lalu, tapi kalau kita terus berkutat dengan masa lalu, sekelam apapun, bisa-bisa kita jadi orang yang nggak syukur nikmat dengan hari ini dan masa depan. Dangkal banget kayaknya kalo cuma mikirin masa lalu. Yang penting, semua udah lewat, udah jadi pelajaran berharga yang nggak bakal terulang lagi.
“Eh, tumben nih nasi gorengnya abis nggak kayak kemaren,” tanya Maminya heran. “Alhamdulillah, donk Mi sekarang napsu makan Wiwid udah baekan lagi.”
“Lho emangnya kemarin sempat nggak napsu makan? Kenapa?” Mami curiga.
“Biasa Mi, anak muda, ada aja urusan yang bikin pusing. Jalanan macet, tarif Metro Mini naek, pejabat pada korup, en selebritis kita kawin cerai mlulu. Gimana nggak kepikiran tuh?”
“Duile, kayak Andi Malarangeng aja ngomongnya. Emang mau jadi calon legislatif, Wid?” kata Maminya usil.
“Nggak ah, jadi anggota legislatif nanti dituduh morotin uang rakyat. Kalo Wiwid jadi anggota legislatif bakal sering mangkir atau tidur di ruang sidang. Soalnya kecapean ngurusin suami ama anak-anak di rumah,” timpal Wiwid sambil nyamperin Mami untuk cium tangan en ngucapin salam.
Ya, hari ini Wiwid masuk sekolah dengan perasaan tenang. Nggak takut deh ketemu ama Iip. Pokoknya Iip mau ngomong apa aja terserah, yang penting gue udah berubah. Bukan lagi Wiwid dulu yang metal, yang funky atawa yang suka pacaran.
Baru aja Wiwid nyimpen tas di bangku kesayangannya yang nomor 36 (ceile bangku kereta kali pake nomor), sesosok cowok mendekatinya. Eh, Iip.
“Assalamu’alaykum, Wid,” sapanya sopan. Nggak beda kayak dulu.
“Wa a’alaykum salam,” rada grogi juga tuh Wiwid ngejawabnya.
“Wid, nggak nyangka gue bakal ketemu lagi ama elo. Surprise buat gue,” Iip langsung bicara.
“Apalagi…elu udah pake jilbab kayak begini. Gue kaget banget lo,” Iip terus ngomong. Wiwid diem.
“Gue denger elo juga aktif di pengajian ya? Bener gue kagak nyangka, kalo elo bisa berubah. Ternyata waktu emang bisa bikin kita beda ya, Wid?” Wiwid nggak nanggepin. Still waiting.
“Tapi terus terang gue bangga. Gue mau ngucapin selamat ternyata elo bisa berubah jadi muslimah sejati. Gue juga pengen ngikutin jejak elo, kayak temen-temen yang laen. Ngaji, punya pemahaman Islam yang bener. Sekali lagi, selamet ya Wid,” gitu kata Iip.
Ih, suer Wiwid nggak nyangka ternyata Iip ngomong kayak begitu. Ia jadi terharu. Ternyata kejadiannya nggak seperti yang ia sangka. Ah, jahat betul ia berprasangka yang nggak-nggak sama Iip. Belum sempat Wiwid ngomong bel udah bunyi. Pelajaran bakal dimulai.
Sore itu Wiwid ngirim sms ke Iip bunyinya:
Ip, semua orang bisa berubah jadi baik. Elo juga bisa.
Asal kita mo usaha.
Temen-temen di rohis siap kok ngebantu. Kita tunggu ya?l
[diambil dari Majalah PERMATA, edisi 17/Tahun VIII/Oktober 2003]

Rahasia Pohon Pinus

By: Widuri


Andrian membuka kaca mata hitamnya. Dari kaca spion dilihatnya rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dengan jari tangannya yang putih dan kokoh karena rajin fitness dan angkat barbell, dirapihkannya anak rambut di depan matanya. Sambil tangan kirinya tetap memegang helm arai hitamnya. Dia tidak turun dari motor, dia nampak menunggu seseorang di depan sebuah gedung ruko bertingkat lima. Dilihatnya jam tangan di pergelangan tangan kanannya, tak lama ia bergumam pelan.
“Masih lama.”
Dia mengeluarkan handphone Blackberry dari saku celananya. Mulai asik ber-facebook ria. Dilihatnya setiap status dari teman-temannya, tidak ada yang menarik untuk dikomentari. Gumamnya lagi. Kemudian ia masuk ke profil seorang gadis berjilbab lebar, sahabatnya waktu di kampus dulu. Sahabat yang sama-sama bergabung di Rohis juga.
Dilihatnya sebuah status yang terakhir di update-nya. Sekitar dua minggu yang lalu. Pelan-pelan dibacanya setiap Komen yang ada di bawahnya. Taklama jari tangannya berhenti pada sederet status yang bertuliskan curhatan hati gadis itu.
“Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku. Ketika segala doa Istikhorohku kupanjatkan, aku harus kecewa ketika bayangan yang hadir semakin jelas, bukan bayanganmu.”
Dibawahnya terdapat 15 komen yang menanyakan maksud dari kata-katanya, tapi tidak ada satupun jawaban darinya yang menjelaskan maksud tulisannya.
Dasar gunung es, batin Andrian. Dia tersenyum sedikit. Gunung es adalah panggilan Andrian untuk gadis itu. Seperti tampilan gunung es, ia seolah dingin dan teguh, sementara jauh di dalam jiwanya, ia adalah wanita yang rapuh.
Tiba-tiba hadir pertanyaan yang hampir sama dengan beberapa koment yang bertanya pada statusnya.
“Maksudnya apa yah? Apa mungkin, ah gak mungkin ah..” Hatinya bertanya. Mata Andrian menerawang pada kemacetan lalu lintas di jalan raya, sementara hatinya menjadi tidak jelas. Sepertinya ada sesuatu yang diharapkannya.
Tiba-tiba suara lembut seorang gadis mengejutkannya. Membuyarkan lamunannya.
“Dor…!” Tepukan keras di bahunya hampir menghilangkan keseimbangan kakinya.
Sedikit kesal ia mengomel kearah gadis manis itu.
“Rese.” Andrian cemberut kearahnya. Sementara Chaira, si gadis manis itu hanya membalas dengan senyuman.
“Mikirin apa sih, Mas…?” Chaira mendekatkan wajahnya ke depan wajah Andrian. Andrian sedikit terkejut. Dia menarik wajahnya beberapa senti dari wajah Chaira. Chaira kembali tertawa renyah.
“Kayaknya lagi mikirin yang lain neh. Bikin jelous aja.” Chaira cemberut.
“ga mikirin apa-apa kok. Udah, Mau pulang gak?” Andrian langsung memberikan helm kearah Chaira. Chaira langsung menerimanya, masih dengan ekspresi kesal karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya. Chaira langsung duduk di belakang Andrian, dan memegang pinggang Andrian erat.
Andrian langsung memakai helmnya dan langsung kembali tancap gas menikmati kemacetan daerah Ciputat. Semenjak reunian SMA 2 Mei tahun lalu, tak sengaja mempertemukan Andrian dengan sahabat sekelasnya dulu, Chaira. Sejak itulah kedekatan itu mulai berubah menjadi hubungan yang istimewa antara keduanya. Mestinya Andrian telah wisuda tahun lalu, tapi karena kesalahannya dulu akhirnya ia harus rela menunda setahun masa kuliahnya. Andrian tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di sebuah Universitas di Pamulang setiap hari selalu menjemput Chaira ke  Kantornya yang kebetulan dekat dengan kampusnya di daerah Ciputat, baik dengan motornya atau dengan Honda civic milik kakaknya.
Selama perjalanan, Andrian hanya diam. Chaira pun menjadi tidak semangat untuk menggodanya. Taklama motor Ninja Hitam itu memasuki komplek perumahan elit di Pamulang. Setelah gang kedua, Andrian langsung membelokkan motornya ke kiri dan taklama ia pun berhenti di sebuah rumah minimalis bercat hitam abu-abu.
Tanpa mematikan mesin motor, Chaira langsung turun dari motor Andrian. Baru ia akan mempersilahkan Andrian mampir, Andrian malah langsung pamit pulang. Chaira semakin kesal dan bingung dibuatnya. Dengan mulut yang agak maju lima senti, ia langsung menghambur masuk ke kamar.
Andrian kembali menikmati kemacetan lalu lintas menuju rumahnya. Di bundaran Pamulang depan Kampusnya, ia sedikit ragu. Ada sedikit keinginan untuk mengulang masa lalunya beberapa tahun yang lalu. Saat ia dan gadis itu sama-sama masih berkuliah dan aktif di Organisasi yang sama.
Ia langsung memasuki gerbang kampus, satpam jaga yang baru satu jam yang lalu memberikan kartu parkir padanya sedikit heran. Kesal tepatnya, karena ia harus kembali mencatat nomor motor Andrian di catatan kendaraan masuk.
Setelah memarkir motornya, ia langsung berjalan ke basement mengamati setiap sudutnya. Ia terhenti di depan sekertariat Rohis. Sekarang, hanya UKM ini yang tidak ada penghuninya. Hanya tumpukan debu dan deretan buku-buku agama Islam yang menjadi saksi bisu ketika Ia dan rekan-rekannya membangun Rohis kala itu.
Sekarang Rohis sepi. Semenjak beredarnya isu kalau Rohis di kampusnya beraliran sesat, yang mengharuskan setiap anggotanya membayar infaq yang besar, bahkan tak jarang setiap anggotanya harus berbohong kepada orang tuanya. Bahkan yang lebih parah, Andrian mulai sering meninggalkan sholat. Padahal sholatlah kekuatan seorang muslim dalam berda’wah. Dulu juga ia melakukan itu semua, sebagai bentuk pengorbanan kepada Islam, tapi yang melakukan sebenarnya hanya dia, bukan rohisnya, bukan teman-temannya. Ia yang jahat, karena Ia lah yang menggunakan jabatannya sebagai ketua Rohis untuk mengajak adik kelasnya masuk ke aliran yang dianggap sesat itu. Ada sedikit sesal dalam hatinya. Ia merasa bersalah atas semuanya. Terlebih, kepada Deriska.
Hanya Deriska lah yang tahu semua yang dilakukannya. Karena saat itu, Deriska lah orang yang ingin diajaknya untuk sama-sama masuk ke aliran itu. Tapi Deriska tidak pernah mau, bahkan saat itu dia sendirilah yang mulai menjauhi Deriska, karena menurutnya mengajak orang yang tidak diberikan hidayah oleh Allah hanya akan membuang waktu saja.
Sejak itu Andrian semakin hanyut dalam berbagai pengorbanannya di organisasi itu, ia semakin sering bolos dan membuat semua nilai-nilai kuliahnya anjlok. Bahkan, untuk hitungan mahasiswa yang terbilang cerdas, ia harus menerima IPK 1,7 saat semester enam. Air matanya sedikit menggenang ketika mengingat semua kejadian itu. Ketika hampir membentuk anak sungai di pipinya, tiba-tiba ada sebuah tangan kokoh yang memegang bahunya.
“Belum pulang?” Tanya suara tegas di belakangnya.
Andrian langsung membalikkan badannya memandangi orang yang mengajaknya berbicara.
“Belum, Pak. Masih pengen di Kampus.” Jawabnya dengan sedikit malu.
“Kenapa, ada yang ingin diceritain?” Tanya laki-laki berbadan tegap itu selanjutnya.
Andrian hanya membalasnya dengan sebuah anggukan, dan langkah kaki menuju sebuah kursi panjang. Ia melepas tasnya dan mempersilahkan laki-laki itu duduk di sebelahnya. Laki-laki yang bernama Pak Kuncoro langsung duduk di sebelahnya. Dulu mereka begitu dekat, sebagai ketua dan Pambina Rohis. Selain sebagai pembina Rohis, Pak Kuncoro juga dosen Hukum Bisnis, mata kuliah favoritnya di kampus. Tapi itu dulu sekali, sebelum Andrian memilih pada pilihan yang salah.
“Kadang, saya merasa sangat bersalah Pak, melihat Rohis berhenti tanpa ada kegiatan apa-apa. Mereka takut kalau Rohis itu sesat kan, Pak.” Andrian memulai pembicaraan.
“Yan, terjadi atau tidak terjadinya segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur. Mungkin ini juga ujian dari Allah, bahwa jalan da’wah itu memang sulit. Jalan da’wah itu ibarat sebuah jalan raya pada awalnya, yang ikut pun berbondong-bondong. Tapi kemudian semakin lama akan semakin sempit, bahkan mungkin hanya mampu dilewati oleh satu orang saja. Karena di situlah saringan Allah, yan.” Pak Kuncoro memberikan penjelasan.
Andrian menatapnya dalam. Sorot matanya seolah menggambarkan kesedihan yang dalam. Mungkin ia pula penyebabnya. Dulu, dulu sekali Pembinanya ini pernah sangat berharap kalau Andrian akan menjadi orang yang akan meneruskan langkah Da’wahnya di kampus ini, tapi ternyata, justru ialah yang menghacurkan da’wah di kampusnya sendiri.
“Bapak marah sama saya?” Tanya Andrian kemudian.
“Kenapa saya harus marah sama kamu?” Pak Kuncoro balik bertanya.
Andrian kehilangan jawaban.
“Karena saya sudah menghancurkan harapan bapak ke saya.” Jawabnya pelan.
“Saya tidak pernah merasa seperti itu. Saya bukan Tuhan yang berhak menentukan, bahkan Allah saja memberikan pilihan kepada setiap makhluknya untuk memilih.” Tatapan Pak Kuncoro tajam.
“Saya…” Andrian tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Yan, kalau saya lihat terkadang kamu yang selalu menyalahkan dirimu sendiri.”
“Saya kehilangan banyak, Pak. Kehilangan saudara-saudara saya, kehilangan masa depan saya. Saya…” Andrian memeluk Pak Kuncoro erat. Rasa penyesalannya terlalu dalam.
Pak Kuncoro menepuk-nepuk punggung Andrian berusaha menguatkan. Ia terisak cukup lama. Pak Kuncoro pun menarik nafas berat. Ia pun merasakan kekecewaan yang dalam atas semua yang telah terjadi, tapi inilah yang harus dijalani.
“Sudah, Yan. Semua sudah terjadi. udah bukan waktunya lagi menangisi yang sudah terjadi. sekarang tinggal bagaimana bisa bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi.” Pak Kuncoro mendorong pelan bahu Andrian, berusaha menegakkan dan menegarkan Andrian.
“Pak, boleh Tanya sesuatu?” Andrian bertanya dengan suara parau.
Pak Kuncoro menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Kabar Deriska gimana, Pak.”
“Deriska, Alhamdulillah baik. Emangnya kamu ngga pernah ada kontak lagi sama dia?” Pak Kuncoro tersenyum menggodanya. Ia teringat sesuatu.
“Saya cuma mau minta maaf sama Dia, Pak. Saya dulu hampir menjerumuskan dia dalam keyakinan saya. Untungnya dia punya iman yang lebih kuat dari saya.” Andrian tersenyum kecil.
“Yan, ada amanah dari Deriska. Sepertinya saya memang harus menyampaikannya ke kamu. Sebentar.” Pak Kuncoro mengambil sebuah map biru dari dalam tasnya.
Dipandanginya sejenak map itu, ia Nampak berpikir sejenak. Dan langsung memberikan map itu ke Andrian.
“Apa ini, Pak?” Tanya Andrian penasaran.
“Baca saja sendiri. Saya sekalian pamit yah, sudah malam.” Pak Kuncoro sedikit tersenyum dan langsung berjalan meninggalkan Andrian dan rasa penasarannya.
Andrian membolak-balik map biru ditangannya. Dengan sedikit ragu ia membuka map itu. Rupanya berisi sepucuk surat dari Deriska.
Andrian mulai membacanya.
“Assalamu’alaikum Wr.Wb. Apa kabar An? Sehat selalu kan? Mudah-mudahan Allah selalu menjagamu untukku.” Andrian tersenyum membaca suratnya. Dia kembali melanjutkan membaca surat itu.
“An, jangan telat makan yah. Kamu makin kurus sekarang, (kamu pasti kaget kenapa aku bisa tahu). Beberapa hari yang lalu aku ke kampus An, aku ada urusan sedikit dengan Pak Kuncoro dan beberapa orang dosen di kampus, dan ga sengaja aku lihat kamu di parkiran. Sayang, sekarang aku sudah gak bisa lagi membawakanmu sari roti, roti favoritmu untuk sarapan.” Andrian tersentak. Rupanya Deriska masih mengingat roti kesukaannya, tepatnya makanan yang sering dikonsumsinya ketika tidak sempat makan siang atau sarapan karena harus langsung mengikuti berbagai kegiatan di Rohis Gadungannya.
“An, kamu inget dulu aku pernah minta apa sama kamu, dan kamu inget dulu terakhir kali sebelum kamu memutuskan komunikasimu sama aku kamu bilang apa ke aku? Dulu kamu pernah bilang, kalau aku gak mau ikut kamu ke komunitasmu, maka aku harus siap kehilanganmu. Padahal sejujurnya aku gak pernah siap kehilangan kamu. Dan kamu ingat waktu itu aku pernah minta apa sama kamu, aku bilang, kembalinya kamu kepada Islam, kepada Sholatmu adalah hadiah terindah untukku. Tapi sepertinya itu semua gak akan pernah bisa aku lihat lagi, An. Aku dengar sekarang kamu punya pacar, padahal dulu aku tahu kamu tidak akan pacaran.”
Dada Andrian sedikit sesak. Ia merasakan ada sesuatu yang akan membuat jiwanya meledak.
“Maafkan aku, An. Maafkan cintaku yang salah. Kamu pikir, untuk apa aku mengikuti setiap aktivitasmu? Apa kamu pikir aku akan mengikuti keislamanmu? Aku akan meninggalkan sholatku? Tidak An, dan berharap tidak akan pernah. Apa kau tahu mengapa aku melakukan itu semua? Karena aku mencintaimu, An. (Maafkan aku ya Allah, karena aku telah mengotori cintaku Pada-Mu).
Tulisan tinta pada paragraf itu nampak luntur. Sepertinya ada air mata yang menitik disana. Dada Andrian sesak tiba-tiba. Mungkinkah? Apakah orang yang dimaksud dalam status terakhir di facebook-nya Deriska adalah dia?
“Aku mencintaimu selama 4 tahun kita sama-sama di Rohis, An. Aku gak pernah ngerasain perhatian seorang ikhwan yang bergitu besar padaku, sampai dia rela meminjamkan jaketnya untuk aku pakai padahal dia sendiri kedinginan, dan kamu mampu melakukan itu waktu kita tafakur alam. Cuma kamu yang ada waktu aku bingung. Dulu…dulu sekali An, dalam solat istikhorohku ada kamu. Makanya disitu aku yakin, kamu adalah jawaban dari Allah untukku. Hingga semua berubah. Hingga mereka semua mengambilmu dari aku, dari Rohis kita dan dari Sholat-mu. Aku benci mereka, An. Aku benci mereka yang merusakmu. Hingga aku harus berani menerima kenyataan bahwa Andrian yang aku kenal sudah mati!”
Airmata Andrian meleleh. Ia begitu cengeng, bahkan begitu bodoh. Dia tak kuasa menahan semua beban di dadanya. Hanya tumpukan debu dan buku-buku Islami yang mampu menggambarkan semua kenangannya bersama Rohis yang dulu.
Dengan berat Andrian melanjutkan mambaca surat Deriska.
“Hatiku kotor sekarang, An. Dadaku sesak menyimpan semua perasaan ini, sendiri dan selama 4 tahun, An. Hingga kemudian Allah berikan sebuah jalan untuk pembersihan hatiku. Pak Kuncoro menawarkan seorang ikhwan yang ingin ta’aruf denganku. Awalnya aku ragu karena aku ingin selalu menunggumu, tapi aku sadar, cinta ini Cuma aku yang punya. Cinta ini hanya aku yang rasa, sementara kamu tidak. Hingga akhirnya aku terima proses ta’aruf itu. Aku hanya ingin membersihkan hatiku, An. Hingga suatu malam, dalam istikhorohku, Allah berikan jawaban yang selalu aku tunggu, sakit memang tapi aku yakin inilah yang terbaik. Bayangan kamu dalam istikhorohku tiba-tiba berkabut, dan wajah lain yang berganti menghiasi mimpiku. Disitu aku yakin, kau memang yang ku inginkan, tapi ternyata bukan kau yang ku butuhkan. Maafkan aku, An. Aku mencintaimu tapi aku lebih mencintai Tuhan-ku. Wassalam’alaikum.wr.wb.

Dengan sisa kekuatan aku menyimpanmu dalam kotak masa laluku.

Deriska.
Kali ini semua beban dan sesak dalam hati Andrian berubah menjadi sebuah penyesalan yang tergambar dari aliran sungai di pipinya. Ia benar-benar menangis. ia menyesali semuanya. Tapi entah apa yang disesalinya. Ia berjalan gontai melewati kerumunan anak-anak yang sedang berkumpul di depan mading. Dari bisik-bisik mereka, Andrian mendengar bahwa Deriska akan menikah minggu depan.
Andrian berlari cepat meninggalkan basement menuju parkiran dan langsung memacu Ninjanya menuju arah gerbang kampus. Ia tancap gas setelah mengembalikan kartu parkir ke petugas satpam yang baru berganti tugas. Tatapan heran mereka mengiringi laju motor Andrian.
Andrian tidak pulang ke rumah. Dia bermalam di cibodas – Puncak. Perjalanan Pamulang–Cibodas membuatnya semakin sesak. Beberapa kali ia hamper menabrak kendaraan di depannya, atau diteriaki “gila” oleh pengguna jalan lainnya karena ia sering menyalip kendaraan yang lain, atau meng-gas motornya dengan kencang.
Sesampainya di bumi perkemahan Cibodas, ia langsung memarkir motornya. Setelah membeli tiket kepada petugas bumi perkemahan ia langsung berlari menembus gelapnya malam rimbunan pepohonan. Dengan perasaan yang tak menentu. Setelah lelah berlari, ia berhenti di tengah-tengah rimbunan pepohonan.
Dulu, ia pernah memberikan jaketnya untuk seorang gadis. Untuk deriska. Kali ini ia benar-benar menyesal. Airmatanya mengair semakin deras. Ia menangis dalam kegelapan malam Cibodas, menyatu dengan desiran angin malam yang menyapu wajahnya.
“Aku mencintaimu, De…lebih mencintaimu dari apa yang kau bayangkan. Aku selalu menyimpanmu disini, De. Disini…tapi kenapa ga pernah ada kesempatan kedua untukku, De? Semua yang aku lakuin ke kamu karena aku sayang kamu de…”. Andrian berteriak keras sambil menepuk dadanya.
Dulu.dulu sekali, persahabatan diantara keduanya telah melahirkan rasa yang tidak seharusnya ada diantara mereka. Hingga sulit sekali mengartikan apakah cinta yang hadir diantara mereka telah menjadi anugerah atau ujian bagi mereka sebagai aktivis Da’wah. Hanya Allah yang tahu seberapa besar Cinta seorang hamba kepada-Nya.[]
Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku.
morzing.com dunia humor dan amazing!