PPC Iklan Blogger Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue di Indonesia


Nyamuk Aedes Aegypti 

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah lama dikenal di Indonesia dan seluruh propinsi di Indonesia telah melaporkan adanya penderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini juga banyak dikenal karena banyak menimbulkan wabah dan kematian. Ada banyak faktor yang berhubungan maupun mempengaruhi penyakit Demam Berdarah Dengue. Disamping itu pelayanan kesehatan dituntut untuk membuat diagnosa dini dan penatalaksanaan yang seksama karena menentukan kecepatan kesembuhan pasien dan lama tinggal di rumah sakit.

Bab I. Pendahuluan
- Virus Dengue
- Cara penularan
- Epidemiologi
- Patogenesis
- Strategi pengobatan
Bab II. Pengenalan Penyakit Demam Dengue (DD dan Demam Berdarah Dengue (DBD)
- Spektrum klinis
- Demam Berdarah Dengue (DBD)
- Laboratorium
- Sindroma Syok Dengue (SSD)

Bab IV. Tatalaksana
- Demam Dengue
- Demam Berdarah Dengue
- Koreksi gangguan metabolik dan elektrolit
- Tatalaksana Ensefalopati Dengue
- Tatalaksana DBD pada dewasa
  • Protokol 1 Pasien Tersangka DBD
  • Protokol 2 DBD Tanpa perdarahan masif dan syok
  • Protokol 3 DBD dengan perdarahan spontan dan masif, tanpa syok
  • Protokol 4 DBD dengan syok dan perdarahan spontan
  • Protokol 5 DBD Dewasa dengan syok tanpa perdarahan
Bab V. Tatalaksana Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (KLB-DBD) di Rumah Sakit
- Persiapan Menghadapi KLB
- Ruangan
- Wewenang Penentuan KLB
- Alur Pasien
- Instalasi Rawat Inap
- Evaluasi dan Pelaporan

Senin, 21 Januari 2013

'Jangan Duduk di Ranjang Pasien Saat Menjenguk ke Rumah Sakit'

Jakarta, Saat menjenguk keluarga atau teman di rumah sakit, tak jarang orang akan duduk di ranjang pasien. Meski pasien tak keberatan dan mengizinkannya, sebaiknya Anda tidak melakukan hal tersebut. Mengapa demikian?

"Jangan sekali-kali kalau jenguk pasien di rumah sakit Anda duduk di ranjangnya," tegas Dr Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) dalam acara konferensi pers 'Simposium Ilmiah Teknologi Mutakhir sebagai Perlindungan dari Kuman', di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (10/1/2013).

Menurut Dr Robert, rumah sakit adalah sarangnya penyakit. Duduk di ranjang pasien di rumah sakit sama artinya membuka peluang untuk tertular atau menularkan kuman penyakit.

Meski penyakit pasien yang dijenguk tidaklah menular, namun kontak fisik jarak dekat dan bersentuhan langsung dengan peralatan di rumah sakit akan mempermudah transmisi kuman yang menyebabkan infeksi nosokomial, yakni infeksi yang terjadi akibat interaksi yang berlangsung di rumah sakit.

"Pertama nularin ke kita (pengunjung atau penjenguk) dan kedua membuat pasien tidak nyaman," tambah Dr Robert.

Rumah sakit merupakan breeding ground atau tempat berkembang biaknya kuman. Penularan kuman terjadi melalui cara:

1. Interaksi langsung maupun tidak langsung yang terjadi di rumah sakit, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu kepada pasien lainnya, pasien kepada orang yang berkunjung.

2. Penularan melalui udara, misalnya saat bersin, batuk dan berbicara. Kontak jarak dekat antara kurang dari 60 cm-1 m dapat mempermudah transmisi ini.

3. Penularan melalui inhalasi, di mana bakteri ukuran kurang dari 5 mm dapat bertahan hidup di udara dalam jangka waktu panjang dan berpindah dengan jarak yang jauh.

Untuk mencegah infeksi nosokomial, pengunjung sebaiknya selalu memperhatikan kebersihan tangan. Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pencuci tangan berbasis alkohol sebelum masuk dan keluar rumah sakit.

Selain itu, bila kondisi tubuh sedang tidak fit, misal sedang flu atau batuk, sebaiknya tidak mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk keluarga atau teman. Tidak hanya akan menularkan penyakit ke orang lain, tapi daya tahan tubuh yang sedang tidak fit juga memungkinkan Anda tertular infeksi lain di rumah sakit.(mer/vit)
 
sumber: health.detik.com

Minggu, 06 Januari 2013

Minumlah Cukup Air dan Dapatkan 5 Manfaat Sehat Ini

Jakarta, Jangan malas minum air ya, sebab banyak minum bisa memberi Anda berbagai manfaat kesehatan. Minumlah paling sedikit 8 gelas dalam sehari. Air tidak hanya akan membersihkan tubuh Anda dari dalam tetapi juga akan membuat kulit dan rambut lebih sehat.

Dikutip dari Times of India, Selasa (19/2/2013), berikut ini beberapa manfaat sehat yang bisa Anda peroleh dengan minum cukup air:

1. Menghindarkan Anda dari Berat Badan Berlebih

Minum banyak air tidak akan membuat tubuh menjadi gemuk. Justru Anda akan makan dalam jumlah yang lebih sedikit karena air telah memenuhi perut Anda.

2. Membersihkan Tubuh

Langsung minum air putih setelah bangun tidur di pagi hari akan membantu membersihkan usus Anda. Dengan begitu, usus Anda lebih siap mengambil semua nutrisi yang Anda konsumsi sepanjang hari.

3. Membuat Sel-sel Baru

Tubuh Anda membuat sel-sel baru setiap hari dan air yang Anda minum bisa membantu produksi sel-sel baru. Hal ini juga memungkinkan otot-otot Anda untuk tumbuh lebih cepat setelah berolahraga.

4. Meningkatkan Metabolisme

Air bisa meningkatkan metabolisme. Jadi minumlah 2 gelas air di pagi hari sebelum Anda beraktivitas agar metabolisme tubuh berjalan lebih baik.

5. Menyembuhkan Sakit Kepala dan Infeksi

Saat sakit, Anda perlu lebih banyak minun. Sebab air tidak hanya bermanfaat melawan infeksi namun juga membuat Anda cepat sembuh. 

Sakit kepala terkadang diakibatkan karena tubuh kekurangan cairan, nah minum cukup air akan membantu Anda pulih kembali. Karena itu kapan pun Anda merasa tidak enak badan, minumlah satu atau dua gelas air sebelum minum obat.(vit/up)
 
sumber: health.detik.com

Jumat, 21 Desember 2012

Cukup Telan Kapsul Endoskopi untuk Lihat Saluran Pencernaan

Singapura, Cara endoskopi yang selama ini dilakukan adalah dengan memasukkan selang yang dilengkapi kamera melalui mulut untuk melihat kondisi saluran pencernaan. Tapi kini endoskopi bisa dilakukan dengan cara menelan kapsul yang berisi kamera.

Video Capsule Endoscopy ini menggunakan kamera wireless kecil untuk melihat saluran pencernaan. Kamera ini dimasukkan ke dalam kapsul seukuran vitamin yang masuk ke mulut dengan cara ditelan.

Kapsul berisi kamera ini akan jalan di sepanjang saluran pencernaan dan mengambil ribuan gambar yang langsung ditransmisikan ke sebuah recorder yang dipakai di pinggang atau bahu.

"Kapsul ini berukuran 24 mm dan bisa menghasilkan 60 ribu gambar," ujar Dr Yim Heng Boon, ahli gastroenterologi dari Mount Elizabeth Novena Hospital dalam acara media familiarization di Mount Elizabeth Novena Hospital Singapura, Selasa (29/1/2013).

Dr Yim menuturkan kapsul kamera ini membantu dokter karena bisa melihat saluran pencernaan hingga usus kecil. Area ini biasanya sulit dijangkau dengan menggunakan endoskopi konvensional.

Penggunaan kapul endoskopi ini untuk membantu diagnosis atau sebagai treatment untuk obscure gastrointestinal bleeding, inflammation bowel disease, kanker, penyakit celiac dan juga polip.

Setelah selesai, kapsul endoskopi ini akan keluar dari tubuh saat buang air besar keesokan harinya atau beberapa hari kemudian. Prosedur ini terbilang aman untuk orang dewasa maupun anak-anak yang sudah bisa mengonsumsi kapsul.

"Beberapa tahun lalu (kapsul) perlu dikeluarkan dari tubuh, tapi kini bisa keluar sendiri dan bahannya aman, tidak masalah bagi tubuh," ujar Dr Yim yang pernah menjadi Deputi Kepala Departemen Gatroenterologi and Hepatology di Tan Tovk Seng Hospital.

Umumnya seseorang sudah bisa beraktivitas secara normal setelah prosedur kapsul endoskopi ini. Tapi jika akan melakukan pekerjaan atau olahraga berat sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.(ver/vit)
 
sumber: health.detik.com

Selasa, 11 Desember 2012

Penyebab Sinus dan Polip Akhirnya Terkuak

Jakarta, Penyakit sinus dan polip yang sudah kronis bisa membuat penderita menjadi sulit bernapas dan mengganggu aktivitasnya. Kini peneliti dari Amerika telah berhasil mengidentifikasi protein yang menyebabkan seseorang terkena polip dan sinus.

Protein yang berhasil diidentifikasi ini telah menyebabkan 15 sampai 30 persen orang terkena polip dan sinus kronis. Kondisi yang ditimbulkan ini merupakan salah satu kasus sinusitis yang paling serius karena menyebabkan iritasi yang terus menerus serta terjadinya pembengkakan di saluran pernapasan.

Polip biasanya terbentuk akibat pertumbuhan jaringan sinus yang tidak sehat di dalam hidung, sehingga bisa menghambat bagian-bagian tertentu dan membuat seseorang sulit bernapas melalui hidung. Sedangkan sinus terjadi akibat adanya infeksi atau peradangan pada salah satu saluran sinus di hidung. Penyakit ini sering menyebabkan rasa sakit, bengkak dan infeksi.

"Tipe penyakit ini biasanya tidak halus, sehingga seseorang bisa dengan mudah mengenalinya. Umumnya penderita bernapas dengan mulut, berbicara dengan suara sengau, sering kali terkena flu dan terkadang wajahnya membengkak," ujar Dr Jean Kim, seorang asisten profesor di departemen THT dan alergi di Johns Hopkins University School of Medicine, seperti dikutip dari Health, Selasa (24/11/2009). 

Kim dan rekannya menganalisis jaringan-jaringan sinus dari pasien yang memiliki penyakit sinus dan polip. Hasil dari analisis ini didapatkan bahwa terdapat sebuah protein yang dikenal dengan nama vascular endothelial growth factor (VEGF).

Protein VEGF ini diketahui bisa merangsang pertumbuhan pembuluh darah sehingga menyebabkan sel tumbuh secara berlebihan (overgrowth) yang nantinya bisa memicu timbulnya polip atau sinus di saluran hidung tersebut.

Pembedahan atau operasi sampai saat ini masih menjadi pengobatan yang umum dilakukan, tapi terkadang polip bisa tumbuh kembali meskipun operasi sudah dilakukan. Sementara itu pengobatan steroid oral hanya membantu mengatasi masalah dalam waktu sementara saja dan diketahui memiliki beberapa efek samping.

"Dengan ditemukannya protein ini, diharapkan pada masa mendatang ditemukan cara pengobatan dengan menggunakan semprot hidung yang mengandung anti-VEGF di dalamnya dan mengurangi efek samping yang ada," ungkap Kim.(ver/ir)
 
sumber: health.detik.com

Jumat, 29 Juli 2011

Manfaat daun pepaya

pepaya banyak tumbuh di sekitar kita. tapi sudahkah anda tahu manfaat daun pepaya?, apa sajakah manfaat yang bisa kita gunakan?. banyak yang belum tahu manfaat daun pepaya tapi mungkin juga ada yang tahu. manfaat daun pepaya ternyata tidak hanya sebagai sayur atau sekedar pelengkap lalapan dan urap. ada beberapa manfaat yang harus anda tahu. adapun beberapa manfaatnya adalah:
- sebagai penghilang jerawat
bagi wanita yang peduli penampilan jerawat tentu mengganggu penampilan. adanya jerawat bisa membuat anda kurang percaya diri. dengan daun pepaya kita bisa membuat masker daun pepaya untuk mengurangi jerawat anda. cara membuat masker daun pepaya sangat mudah anda praktekan dirumah. ambil 2-3 lembar daun pepaya yang sudah tua jemur hingga agak kering dan tumbuk hingga halus. tambahkan 2 sendok air untuk mengencerkan masker daun pepaya, kemudian usapkan ke bagian muka yang berjerawat secara teratur secara rutin.
- memperlancar pencernaan
masalah pencernaan memang menganggu tapi dengan daun pepaya anda bisa mengantisipasinya. daun pepaya memiliki senyawa kimia karpain yang membunuh mikroorganisme yang mengganggu pencernaan. untuk itu bagi yang memiliki masalah pencernaan konsumsi daun pepaya dapat mengurannginya.
- nyeri haid
pada masa PMS (pra menstruasi syndrome) wanita sering merasa kurang nyaman dan sakit pada bagian perut, pinggang, paha dan lain sebagainya. pada jaman dahulu, orang sering menggunakan daun pepaya untuk mengobati nyeri haid. caranya cukup ambil 1 lembar daun pepaya tambahnkan asam jawa dan garam kemudian rebus dengan segelas air. setelah mendidih dinginkan kemudian minum.
- anti kangker
daun pepaya memiliki milky latex (getah putih seperti susu) terutama pada batangnya. walaupun belum ada penelitian lebih lanjut, akan tetapi milky latek ini baru dikembangkan sebagi anti kangker.
- demam berdarah
ambil daun pepaya sebanyak lima lembar rebus dengan setengah liter air dan diamkan hingga tinggal seperempatnya baru kemudian diminum hangat-hangat. walaupun belum ada penelitian lebih lanjut dengan ini bisa di jadikan sebagai pertolongan pertama

Rabu, 27 Juli 2011

Penyuluhan Gizi

Banyaknya kejadian balita yang menderita gizi buruk akhir-akhir ini adalah salah satu cerminan lemahnya infrastruktur kesehatan, pangan dan gizi; serta terjadinya kesenjangan, ketidakadilan, kemiskinan, kebijakan ekonomi dan politik sehingga dengan banyaknya kasus gizi buruk dapat menurunkan citra bangsa Indonesia dimata dunia, dimana kasus gizi buruk yang muncul merupakan fenomena gunung es yang memerlukan penanganan serius. Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan anak, dapat menyebabkan stunting (postur tubuh kecil pendek). Jika gizi buruk terjadi pada masa golden period perkembangan otak pada usia 0-3 tahun, kondisi ini akan irreversible yaitu sulit untuk dapat pulih kembali. Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan menurunnya prestasi akademik. Riskesdas (2007) Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6,2%. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10,1% - 15,0%, dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15,0% (UNHCR). Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13,6%. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Bahkan, dari 33 provinsi, 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori kritis (prevalensi kurus >15%), 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%). Gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas SDM, seperti diuraikan Jalal dan Atmojo (1998) untuk menciptakan SDM berkualitas banyak faktor yang harus diperhatikan, antara lain faktor gizi, kesehatan, pendidikan, informasi teknologi dan jasa pelayanan lainnya.
Posyandu dan puskesmas sebagai ujung tombak dalam melakukan deteksi dini dan pelayanan pertama menjadi vital dalam pencegahan kasus gizi buruk saat ini. Dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu, hambatan yang sering terjadi adalah lemahnya KIE yang merupakan salah satu tumpuan dalam program gizi di posyandu (Kodyat, Razak, dan Minarto 1998 dalam Haikal 1999). Penyuluhan gizi di Posyandu belum dapat dilaksanakan kader dengan baik, karena kualitas kader masih rendah, tingkat pendidikan relative rendah. Tingkat

keberhasilan Posyandu dalam perbaikan gizi balita sangat tergantung dari kualitas dan kuantitas pengelolaan Posyandu, serta partisipasi masyarakat (Haikal, 1999) Dari Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan gizi perlu diberikan kepada semua lapisan masyarakat terutama ibu yang memiliki anak balita agar bisa membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi anak yang sehat dan cerdas, serta kader posyandu mereka adalah ujung tombak dalam keberlangsungan program-program yang di laksanakan. Dengan demikian perlu dilakukkan pendidikan gizi bagi ibu balita dan kader posyandu untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan serta status gizi balita.

Rabu, 13 Juli 2011

Depresi Pasca Melahirkan Setelah Persalinan Caesar


Depresi pasca melahirkan merupakan gangguan perasaan yang terjadi pada perempuan terkait dengan kelahiran anak. Kondisi ini lebih berat daripada baby blues karena bisa terjadi selama berbulan-bulan setelah kelahiran.

Diperkirakan 15-20 persen perempuan melahirkan mengalami depresi. Namun kondisi ini lebih banyak dialami wanita yang melahirkan lewat operasi caesar. Ibu yang mengalami depresi dihinggapi perasaan marah, tertekan, bersalah, bingung, waswas, kesal, murung, dan khawatir.

Para ahli menduga depresi pasca melahirkan dipicu oleh lamanya waktu pemulihan pasca operasi. Selain itu operasi caesar yang terjadwal juga meningkatkan risiko depresi.

Penelitian terbaru itu dilakukan tim dari Universitas National Yang-Ming, Taiwan terhadap lebih dari 10.000 ibu. Mereka menemukan di negara itu para ibu yang melahirkan secara alamia lebih jarang yang menderita depresi pasca persalinan. Risiko depresi juga 48 persen lebih tinggi pada ibu yang memang memilih persalinan dengan operasi dibanding yang dibedah karena alasan medis.

Para ibu yang menderita depresi pada umumnya tidak menyadari kondisinya. Namun biasanya mereka menjadi sangat gelisah dan pencemas. Depresi pasca melahirkan seharusnya segera ditangani karena bila dibiarkan berlarut-larut bisa memengaruhi hubungan ibu dengan anak serta suami.

Proses Persalinan Bisa Bikin Trauma


Proses persalinan ternyata bisa menimbulkan trauma seperti halnya bencana alam, peperangan atau tindak kekerasan. Jika tidak cepat ditangani kondisi kejiwaan ini bisa menyebabkan gangguan stres pasca trauma (PTSD).

Stres pasca trauma salah satunya dialami oleh Lucy Lord (23) pasca melahirkan putra pertamanya Oliver. Ia mengalami proses persalian yang berat karena mengalami pre-eklampsia.

Selain itu ia juga mengalami perdarahan dan kehilangan dua liter darah karena plasenta janin tidak bisa dikeluarkan. Beruntung Oliber lahir dalam kondisi sehat dengan berat sekitar 3,6 kg.

Ia harus tinggal di rumah sakit selama seminggu untuk perawatan. Namun beberapa minggu setelah persalinan ia sering merasa cemas, takut mati dan mengalami serangan panik. Oleh dokter ia didiagnosa menderita PTSD.

PTSD umumnya terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan trauma berat yang mengancam secara fisik dan jiwanya. Biasanya berkaitan dengan orang yang selamat dari bencana atau peperangan. Namun PTSD yang disebabkan karena proses persalinan sangat jarang.

Di Inggris diperkirakan 50.000 para ibu habis melahirkan menderita PTSD setiap tahunnya, tetapi banyak yang tak terdiagnosa. Hasil penelitian terbaru menyebutkan PTSD mungkin semakin meningkat karena sepertiga ibu baru mengatakan proses persalinan "menyeramkan".

"Para ibu baru itu mengkhawatirkan hidup mereka atau bayinya," kata profesor Debra Creedy, psikolog dari Australia yang mensurvai 1000 ibu baru. "Trauma pasca persalinan bisa berdampak panjang pada perempuan," katanya.

Meski PTSD pasaca persalinan mirip dengan depresi pasca persalinan namun sebenarnya itu adalah kondisi yang berbeda. Gejala depresi pasca persalinan sama dengan penyakit depresi. Dalam kasus yang berat si ibu bisa melukai bayinya atau bersikap obsesif pada kesehatan bayinya.

Sementara itu dalam stres pasca trauma, biasanya pasien akan mengalami serangan panik, mimpi buruk, mengalami flashback, serta kesedihan.

Maureen Treadwell, pendiri Birth Trauma Association meyakini jumlah wanita yang menderita PTSD terus meningkat. Salah satu pemicunya adalah tekanan sosial dan fisik pada calon ibu.

"Studi menunjukkan bayi yang lahir saat ini semakin besar sehingga berakibat pada sulitnya proses persalinan. Para ibu juga semakin gemuk sehingga risiko menderita komplikasi persalinan semakin tinggi," kata Treadwell.

Ia menambahkan kegemukan juga beresiko tinggi menderita diabetes yang bisa meningkatkan risiko komplikasi.

Faktor pemicu lainnya menurut Treadwell adalah usia ibu. "Kebanyakan wanita kini memilih menjadi ibu di usia matang saat hidupnya sudah mapan," katanya.

Harapan yang tidak realistis, seperti setiap ibu pasti bisa mengurus bayinya atau bisa kembali langsing dalam waktu singkat, juga bisa menimbulkan tekanan tersendiri dan memicu gangguan emosional.

Gangguan emosional yang tidak tertangani tersebut bisa mengendap lama dan mengganggu relasinya dengan orang lain. "Mereka bisa menjadi gampang marah dan cemas tanpa menyadari penyebabnya," kata Dr.Susan Ayers, psikolog.

PTSD juga akan mengganggu pola asuh ibu terhadap anaknya. "Beberapa ibu menjadi over-protektif dan cemas berlebihan pada anaknya. Ada juga ibu yang mengatakan tidak punya perasaan apa pun pada anaknya," kata Ayers.

Bayi yang terpapar hormon stres dalam jumlah tinggi saat di kandungan biasanya akan memiliki perilaku agresif atau pencemas.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Health, Ayers mengatakan perempuan yang menerima sedikit dukungan dari tenaga kesehatan selama dan setelah proses persalinan beresiko tinggi menderita PTSD, terlebih jika proses persalinannya berat.

Kebanyakan wanita yang menderita PTSD tidak memerluka pengobatan karena kondisi ini akan membaik sendiri. Tetapi jika gejala PTSD mengganggu kehidupan sehari-hari, maka dokter akan memberikan terapi yang sesuai, misalnya konseling.

Lesbian Bisa Dicegah, tapi Tak Bisa Diubah


Orientasi seksual lebih besar dipengaruhi lingkungan, meskipun setiap orang memiliki gen feminin dan maskulin dalam dirinya. Dengan kata lain, pengaruh lingkungan lebih hebat dari gen, termasuk mengenai kecenderungan orientasi seksualnya. Heteroseksual bisa berubah menjadi homoseksual, atau sebaliknya. Dan, setiap orang memiliki potensi menyukai sesama jenis, lesbi atau gay.

"Meskipun pola asuh dan lingkungan mendorong heteroseksual, namun perubahan yang terus berjalan sampai dewasa bisa mengubah orientasi seksual seseorang. Apalagi mereka yang tidak dibekali pembentukan diri, karakter, pendidikan agama, dan moralitas dari orangtuanya," papar psikolog klinis Lita Gading kepada Kompas Female.

Menurut Lita, proses orientasi seksual dipengaruhi banyak faktor. Gen porsinya sangat kecil, katanya. Lingkungan internal dan eksternal lebih dominan, termasuk pola asuh, trauma, pencarian figur ayah atau ibu saat kecil hingga remaja, dan perhatian orangtua pada fase pertumbuhan dari anak hingga remaja. Kemampuan dan perhatian orangtua dalam memberikan arahan dan bimbingan fungsional perbedaan jenis kelamin juga menjadi faktor lain yang memengaruhi.

"Saat remaja adalah fase laten. Anak sudah mengenal seks tetapi tidak untuk menyalurkan secara biologis. Jika masa laten ini tidak didampingi orangtua dengan baik, orientasi anak bisa berubah. Anak bingung jika tidak diarahkan. Apalagi masa usia 15 tahun misalnya, sudah muncul ketertarikan terhadap lawan jenis," jelasnya.

Preventif lebih efektif
Saat remaja hilang arah, tanpa adanya figur orangtua sebagai tempat berbagi dan bertanya, orientasi seksual bisa saja berubah. Usia remaja sangat sensitif. Bagaimanapun remaja masih labil dan bisa terpengaruh lingkungan untuk memilih menjadi heteroseksual atau homoseksual.

"Karenanya remaja harus terus-menerus didampingi orangtuanya. Berikan kebebasan, namun tetap dampingi. Orangtua harus memosisikan diri sebagai teman, harus tahu perkembangan jaman sekarang dan jangan merasa paling benar," saran Lita.

Pola asuh yang tepat akan membantu remaja mengindentifikasi dirinya. Sementara pola asuh yang keliru membuat remaja mencari pengakuan diri di luar rumah, di lingkungan yang membuatnya nyaman. Trauma di masa kecil, termasuk karena kekerasan seksual atau fisik juga bisa memengaruhi pembentukan karakter remaja.

Hubungan lesbian siswi SMP di Depok, Jawa Barat, berinisial Tn (15) dengan Sj (26) yang tidak lain guru taekwondonya, adalah salah satu realitas sosial yang menunjukkan tingginya pengaruh lingkungan.

"Lingkungan terdekat sangat memengaruhi. Apalagi jika remaja memiliki perasaan, persepsi, dan keinginan yang sama dengan orang yang disukainya. Kesamaan ini bisa terbangun karena adanya kedekatan, sering bertemu, atau menjadikan gurunya sebagai tempat curhat. Selain juga karena adanya chemistry," jelas Lita, menganalisa realitas sosial ini.

Olahraga taekwondo memiliki kecenderungan orang yang kuat dan melindungi, serta memicu adrenalin. Sosok seperti ini bisa didapatkan Tn dari Sj.

"Anak merasa terlindungi," tambahnya, sekaligus menegaskan bertemunya si anak dalam lingkungan berorientasi seksual homoseks (guru yang lesbi) inilah yang membentuk orientasi seksual anak berubah.

Jika sudah merasa nyaman, anak pun memilih homoseksual sebagai orientasi seksualnya. Kalau sudah seperti ini, kemungkinan untuk berubah sangat kecil, kata Lita.

Sulit mengubah orientasi seksual
Masih menurut Lita, penelitian Asosiasi Psikiatri Amerika menunjukkan terapi yang dilakukan untuk orientasi seksual masih minim. Sekalipun ada, tingkat keberhasilannya kecil.

"Orientasi seksual terbanyak (dalam homoseksual) adalah lesbian. Penyebabnya karena sifat trenyuh hatinya, simpati, dan empati, lebih condong ke wanita," kata Lita.

Terapi hanya sedikit membantu seseorang untuk mengubah orientasi seksualnya. Semuanya harus kembali kepada kesadaran atau keinginan individu. Selain juga cara penanganan orangtua yang seharusnya tak bisa memaksa.

"Kalau sudah terjadi orangtua harus menerima selain juga berusaha untuk mengembalikan ke heteroseksual. Bagaimanapun orangtua harus menyadari bahwa ini adalah akibat kesalahan pola asuhnya," tegas Lita.

Orangtualah yang patut disalahkan jika lesbian terjadi pada remaja. Karena anak masih berada dalam koridor pola asuh orangtuanya, tandasnya.

MUI: Homoseksual Melanggar HAM


JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentang penyelenggaraan Q! Film Festival yang digelar di Jakarta sejak 24 September-3 Oktober 2010 nanti karena dinilai mengampanyekan gaya hidup kaum lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT).

"Islam dan nilai budaya bangsa Indonesia sangat menentang adanya pemuatan film bertema seks yang menyimpang dalam bentuk homoseksual dan lesbianisme. Selain itu, ini sangat bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM) karena pada dasarnya HAM diciptakan Allah dengan fitrah berpasang-pasangan dengan dasar perkawinan yang sah. Perkawinan sejenis hukumnya haram," tegas Ketua MUI KH Ma'ruf Amin kepada para wartawan di kantor MUI, Jakarta, Kamis (30/9/2010).

Pada kesempatan tersebut, MUI juga meminta Lembaga Sensor Film (LSF) untuk menolak pemutaran film yang di dalamnya memuat kehidupan LGBT. "Selanjutnya, LSF, dalam melakukan seleksi dan sensor film, memerhatikan nilai agama Islam dan berbagai agama lain yang senantiasa menjunjung tinggi kearifan dan martabat kemanusiaan sebagai fitrah manusia," katanya.

Namun, MUI juga mengecam kelompok-kelompok yang bermain hakim sendiri dan melakukan tindakan kekerasan dalam menyalurkan ekspresinya. "MUI prihatin atas berkembangnya berbagai konflik terbuka di masyarakat dengan melakukan kekerasan dalam berbagai bentuknya. Untuk itu, maka pemerintah bersama kekuatan dan komponen masyarakat harus melakukan pembinaan," katanya.

Pria Homoseksual Lebih Rentan Kanker


Kompas.com - Pria penyuka sesama jenis diketahui lebih rentan menderita kanker dibandingkan dengan pria yang heteroseksual. Kesimpulan itu didapatkan berdasarkan hasil penelitian terhadap 120.000 orang di California, Amerika Serikat.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Cancer ini dilakukan berdasarkan survei California Health Interview yang dilakukan tahun 2001, 2003 dan 2005. Sekitar 3.690 pria dan 7.252 wanita yang diinterview pernah didiagnosa kanker dalam hidupnya.

Dari total 122.345 responden yang disurvei, 1.493 pria dan 918 wanita menyatakan dirinya penyuka sesama jenis dan 1.116 wanita adalah biseksual. Pria gay dua kali lebih besar berpotensi untuk didiagnosa kanker. Sementara wanita yang lesbian pada umumnya memiliki kesehatan yang buruk.

Dr.Ulrike Boehmer, dari Boston University School of Public Health, mengatakan sebenarnya sulit menyimpulkan kaum homoseksual lebih beresiko kanker karena alasan di balik tingginya insiden kanker sangat rumit.

"Kebanyakan pria gay yang disurvei adalah orang-orang yang sembuh dari kanker atau survivor sehingga ini tidak mewakili kasus kanker sesungguhnya. Harus ada studi lanjutan untuk memastikan bahwa kaum homoseksual memang beresiko menderita tumor dan punya angka survival yang tinggi," kata Boehmer.

Ia mengatakan, jika kasus kanker dipersempit pada tingginya kejadian kanker anal pada kaum homoseksual dan infeksi HIV, hal itu masih mungkin. Faktor lain yang meningkatkan risiko kanker adalah Human Papilloma Virus yang bisa memicu kanker anal.

"Seperti diketahui infeksi HIV menyebabkan beberapa jenis kanker. Dan pria yang homoseksual berpotensi tinggi terkena HIV dibanding dengan pria yang heteroseksual," katanya.

Kaitan antara kecenderungan seks dan status kesehatan paling nyata terlihat pada wanita yang lesbian dan biseksual karena mayoritas memiliki status kesehatan yang buruk.

Dr.Boehmer mengatakan wanita lesbian dan biseksual pada umumnya lebih stres dibanding wanita heteroseksual. "Secara psikologis mereka lebih tertekan akibat perlakuan diskriminasi, kekerasan dan juga prasanga lingkungan sekitarnya," katanya.

Bicara Seks pada Anak


Untuk urusan seks, anak bisa mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja. Walaupun mereka terlihat tidak peduli, tidak berarti mereka tidak bingung dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Lantas, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap? Kuis ini bisa jadi panduan Anda.

1. Anda sedang menonton televisi dengan si kecil yang berusia 6 tahun. Tiba-tiba muncul iklan yang memperlihatkan sepasang pria dan wanita berpakaian sensual di tempat tidur. Hal ini menggugah rasa ingin tahu anak. Anda:
a. Segera mengganti saluran teve sebelum dia mengajukan pertanyaan yang memalukan.
b. Mengatakan betapa tidak bertanggungjawabnya televisi dengan memunculkan adegan seperti itu pada sore hari.
c. Bertanya kepada anak, bagaimana pendapatnya mengenai adegan yang baru saja Anda berdua lihat.

Jawaban yang tepat: C
Memang betul, hal ini memalukan sekaligus memprihatinkan. Namun inilah yang disebut oleh para pendidik seks sebagai "saat yang tepat untuk mengajarkan", yaitu kesempatan untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran anak dan mengarahkannya ke arah yang benar.
Tidak perlu memberikan reaksi yang terlalu cepat atau sama sekali memadamkan reaksi si kecil. Memindahkan saluran? Jangan lupa, anak Anda akan selalu dapat melihat adegan syur di layar televisi pada saat Anda tidak ada. Oleh karena itu, ambil kesempatan ini untuk membahas apa yang Anda berdua lihat.

2. Si kecil yang baru berusia 4 tahun melihat seorang wanita hamil dan bertanya pada Anda, bagaimana wanita tersebut dapat hamil. Anda mengatakan:
a. Tuhan memberinya seorang bayi baru.
b. Wanita tersebut hamil karena dia berhubungan seks dengan seorang pria.
c. Bahwa sperma seorang pria bersatu dengan telur wanita tersebut dan menimbulkan kehidupan (lalu tunggu dan lihat apakah si kecil mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikutnya).

Jawaban yang tepat: C
Aturan main dalam mengatasi pertanyaan yang sulit dari anak yang masih kecil adalah dengan memberikan jawaban yang sesederhana mungkin, lalu lihat pertanyaan berikut yang diajukannya. Orangtua cenderung memberi penjelasan yang berlebihan kepada anak-anak dan kenyataannya anak-anak tidak selalu ingin tahu. Bisa jadi, keterangan yang diberikan tidak atau belum mampu untuk dimengerti oleh mereka.

3. Anak Anda yang berusia 15 tahun mendengar masalah perselingkuhan dipergunjingkan. Anak Anda bertanya, "Mengapa orang-orang sangat mempermasalahkannya?" Reaksi Anda:
a. Merasa terganggu dan menjelaskan konsep mengenai pelecehan seksual.
b. Merasa terganggu dan menjelaskan kepadanya mengenai masalah kesetiaan, pelecehan seksual, dan mengapa seorang atasan tidak boleh berhubungan seks dengan pegawai/bawahannya.
c. Bertanya kepadanya, mengapa dia menganggap hal tersebut merupakan hal yang sepele, baru kemudian Anda kemukakan pendapat Anda mengenai nilai-nilai perkawinan dan menjelaskan kepadanya mengapa Anda memiliki dia.

Jawaban yang tepat: C
Walaupun Anda sangat ingin menjelaskan kepadanya tentang nilai-nilai perkawinan, kesetiaan, pelecehan seksual, dan hubungan yang wajar antara atasan dan pegawainya, adalah lebih penting bagi Anda untuk mengetahui, mengapa menurut pendapatnya hal tersebut merupakan hal sepele. Jangan hentikan diskusi hanya dengan anggapan pemikiran Anda yang benar.

4. Anda melihat anak Anda yang berusia 13 tahun sedang men-download gambar porno dari internet. Yang Anda lakukan:
a. Menghormati keleluasaan pribadinya dan berpura-pura tidak melihat apa yang Anda lihat.
b. Duduk dan bertanya kepadanya, apa yang dilihatnya dan mengapa dia tertarik dengan gambar-gambar tersebut.
c. Mematikan komputer dan memindahkan komputer dari kamar tidurnya.

Jawaban yang tepat: B
Jangan menghindar untuk membahas apa yang Anda lihat atau mematikan/memindahkan komputer. Sebaliknya, bicarakan dan hindari sikap menghakimi. Anda perlu tahu mengapa dia tertarik dengan gambar-gambar tersebut. Mungkin sebagai ABG alias anak baru gede, dia baru mulai tertarik pada lawan jenisnya. Tetapi bila gambar-gambar yang dilihatnya merupakan gambar-gambar yang sangat mengganggu moralitas, Anda sangat perlu membahasnya dengan serius atau bila perlu membawanya kepada psikiater atau psikolog.

5. Tiba-tiba saja, entah tahu dari mana, si kecil bertanya apa arti "oral seks". Jawaban Anda:
a. "Kata-kata tersebut merupakan istilah yang menjijikkan. Jangan pernah diucapkan lagi."
b. "Istilah yang digunakan untuk kebiasaan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Nanti kalau kamu sudah lebih besar lagi, Ayah/Ibu akan jelaskan lebih detail."
c. "Kata-kata tersebut merupakan istilah kotor untuk tindakan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa." Bila dia terus mencecar, jelaskan padanya bahwa hal itu berarti seseorang yang meletakkan mulutnya pada alat kelamin seseorang.

Jawaban yang tepat: C
Sangat sulit untuk menggambarkan tindakan seksual orang dewasa. Namun bila anak Anda "memaksa", Anda perlu mengatakan apa artinya. Karena bila tidak, dia akan mendapatkan informasi yang salah dari orang lain, entah itu teman, pengasuh, atau sepupunya. Jelaskan padanya dengan seksama apa yang ingin diketahuinya. Katakan hal yang sebenarnya agar dia percaya pada Anda.

6. Anak laki-laki Anda yang belum memasuki usia remaja mengalami beberapa perubahan fisik. Anda:
a. Membelikannya buku yang menjelaskan apa yang terjadi pada tubuhnya.
b. Membelikannya buku yang menjelaskan apa yang terjadi pada tubuhnya, lalu membahasnya bersama dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukannya.
c. Membelikannya buku dan membahas perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan membiarkannya membacanya sendiri.

Jawaban yang tepat: C
Anak Anda yang berusia 11 tahun mungkin masih terlalu muda untuk mau membicarakan masalah pribadinya. Bila dia menolak, biarkan. Tetapi bila dia membaca buku tersebut bersama Anda, pastikan Anda dapat menjawab pertanyaan yang diajukannya.

7. Anak gadis Anda yang berusia 15 tahun bertutur, beberapa teman laki-lakinya menyebut sahabat wanitanya perek. Sahabat wanitanya marah dan bingung harus bersikap bagaimana. Anda:
a. Menerangkan kepadanya apa arti seorang sahabat sejati dan memintanya untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan gosip tidak baik.
b. Cari tahu terlebih dahulu apakah sahabat wanitanya aktif secara seksual sebelum memberinya nasihat.
c. Mengatakan kepadanya mengapa menyebarkan gosip sangat tidak baik dan menyarankan kepadanya untuk tidak terlibat karena akan mengganggu reputasinya.

Jawaban yang tepat: A
Hal ini selain penting untuk mengetahui lebih rinci mengenai sahabat wanitanya, juga merupakan saat yang tepat untuk membicarakan pentingnya arti persahabatan, kehormatan, kepercayaan, dan kesetiaan. Gosip sangat menyakitkan dan merusak reputasi seseorang. Orang tua dapat mengambil kesempatan dalam situasi ini untuk membantu anak-anaknya mengerti mengapa kebiasaan bergosip tidak baik.

8. Anak laki-laki Anda menyebut temannya dengan sebutan banci. Reaksi Anda:
a. Tidak mengatakan apa-apa.
b. Bertanya kepadanya apakah dia mengerti artinya. Bila dia tidak mengerti, Anda memberi penjelasan.
c. Membicarakan mengenai perbedaan, cara menghargai orang lain, dan mengapa istilah tersebut tidak baik.

Jawaban yang tepat: C
Kata-kata dapat menimbulkan kebencian, bahkan kejahatan. Jelaskan pada anak dan biarkan dia berpikir, apa artinya mempermalukan dan bagaimana rasanya dipermalukan.

9. Sepulangnya dari pesta, Anda melihat ada bekas gigitan/ciuman berwarna merah di leher gadis Anda yang berusia 14 tahun. Anda:
a. Tidak mempedulikan.
b. Memanggilnya, mengajaknya duduk bersama, dan dengan marah menanyakan kepadanya apa yang telah terjadi.
c. Mengajaknya bicara mengenai keamanan seksual dan mencari tahu apakah dia memerlukan lebih banyak informasi dan tuntunan dari Anda.

Jawaban yang tepat: C
Tunjukkan pada anak, Anda tahu apa yang terjadi dan bicarakan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seks seperti perasaan, nilai-nilai, kesehatan, dan keamanannya. Bila Anda memberikan respons marah atau tak acuh sama sekali, berarti Anda menutup komunikasi antara Anda dan anak Anda.

Diskusi Seks dengan Anak, Kenapa Tidak?

Bagi sebagian besar orang tua, topik tentang seks mungkin masih terbilang tabu untuk dibicarakan atau dibahas dengan anak-anak. Namun begitu seiring dengan perkembangan usia, anak-anak harus mendapat informasi yang tepat dan akurat mengenai seks, supaya mereka paham dan tak terjebak pada penyimpangan.

Pentingnya komunikasi soal seks ditegaskan lagi oleh para ahli melalui hasil risetnya belum lama ini. Menurut mereka para orang tua seharusnya mempertimbangkan untuk mengajak anak-anaknya berdiskusi beragam aspek tentang seks secara berulang-ulang ketimbang hanya sesekali berkonsultasi serius soal topik umum berkaitan dengan seks atau pubertas. Dengan diskusi yang intens dan frekuensi sering, akan memberi pengaruh positif terhadap cara pandang anak tentang seks.

"Para orang tua yang tidak melakukan pendekatan secara menyeluruh dalam memperluas diskusi dengan anak mereka tentang seks kecenderungannya tidak memiliki pengaruh yang kuat dibandingkan orang tua yang memperkenalkan topik baru soal seks dan kemudian mengembangkannya melalui diskusi berulang kali," ungkap peneliti dalam jurnal Pediatrics.

Melalui riset yang bertajuk "Beyond the 'Big Talk ", peneliti menggunakan survei tertulis kepada 312 anak di wilayah California Selatan berusia 11 hingga 15 tahun. Riset ini mencoba untuk mengungkap seberapa sering selain juga mengintip kegiatan diskusi anak-anak dengan orang tua menyoal seks.

Semakin sering orang tua dan anaknya berbicara dan berdiskusi, semakin dekat pula hubunga batin mereka, tulis peneliti Steven Martino dan timnya dari Rand Corporation.

Keeratan hubungan orang tua dan anak ini juga bermanfaat ketika diskusi mulai meluas atau di luar topik-topik "aman" atau topik yang tidak berhubungan dengan personal seperti pubertas, reproduksi, penyakit menular seksual hingga topik yang lebih pribadi seperti masturbasi atau bagaimana rasanya seks.

Survei ini juga memantau perilaku anak-anak terhadap orang tua mereka selama periode setahun dan ditanyai seberapa sering topik-topik seks didiskusikan.

Dari riset terlihat bahwa para ibu cenderung lebih sering berdiskusi dengan anak-anak soal seks, dan bahkan kecenderungannya dua kali lipat ketimbang ayah.

Sementara itu mengutip hasil sebuah riset lainnya, anak-anak yang mendapat informasi lengkap soal seks dari orang tuanya cenderung menunda hubungan intim. Kalaupun memilih untuk melakukan seks, mereka menggunakan alat kontrasepsi dan menghindari gonta-ganti pasangan.

Nia Ramadhani, Pernah Diajak Ngeseks


Hasil survei yang mengungkapkan fakta bahwa kaum remaja sekarang lebih dini mengenal seks, boleh jadi benar adanya. Setidaknya hal itu tercermin dari pengakuan pesinetron cantik Nia Ramadhani.

“Ketika pacaran, aku pernah diajak berhubungan badan, tetapi aku tidak mau. Aku menganggap orang yang sayang sama aku harus menjaga seluruhnya, dan aku hanya ingin melakukan dengan suami nantinya,” katanya, saat penyuluhan Kesehatan Reproduksi, Anti-Free Sex dan Antinarkoba di Gedung Juang 45, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Penyuluhan itu menjadi bagian tugas baru Nia sebagai Duta Kesehatan Reproduksi. Ia mengaku masih harus terus belajar agar dapat mengajak remaja sebayanya menyadari bahaya seks bebas.

“Mengenai tugas ini, aku merasa pengetahuanku masih kurang. Masih harus belajar. Langkah awal aku menjelaskan pengalamanku saja. Paling tidak membuat mereka tergugah dan mau peduli," papar dara kelahiran 16 April 1990 ini.

Soal narkoba, Nia tidak menutup mata jika kehidupan selebriti memang rentan obat terlarang. Nia yang selalu dikawal ibunya pun pernah ditawari untuk mencicipi narkoba.
“Mereka bilang, itu bisa menghilangkan semua masalah. Tetapi, aku yakin kalau aku turuti pasti salah dan akan menyusahkan diriku maupun orangtuaku meski mereka memberikan kebebasan,” tambahnya, tanpa menyebutkan lebih jelas apa jenis narkoba yang ditawarkan.

Persoalan seks bebas dan narkoba, menurut Nia, sangat dekat dengan remaja yang memiliki rasa keingintahuan yang besar. Karena itu, hati-hati, ya!

Selasa, 12 Juli 2011

Amankah Metode Merangsang Persalinan?


Dengan berbagai alasan, kebanyakan ibu hamil melakukan metode untuk merangsang tubuh menuju persalinan di akhir-akhir masa kehamilan. Metode tersebut, antara lain, melakukan hubungan seks, lebih sering berjalan kaki, mengasup makanan pedas, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, meski sudah cukup bulan, dokter tidak menganjurkan metode-metode untuk merangsang tubuh menuju tahap awal proses kelahiran tersebut. "Meski pada umumnya tidak berbahaya, tetapi metode itu bisa menjadi sesuatu yang tidak terkontrol," kata Jonathan Schaffir, profesor ginekolog dari Ohio State University.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit terhadap 200 ibu yang sudah melahirkan terungkap seluruh ibu tersebut melakukan upaya untuk merangsang persalinan saat janin sudah berusia 37 minggu atau cukup bulan untuk dilahirkan.

Sekitar 85 persen menjawab mereka merangsang persalinan dengan cara lebih sering berjalan kaki, sebanyak 45 persen berhubungan seks, 22 persen mengonsumsi makanan pedas, dan 15 persen menstimulasi puting payudara.

Usia rata-rata wanita yang melakukan metode tersebut adalah 27 tahun, sementara wanita yang berusia di atas 30 tahun cenderung memilih persalinan alami. Para wanita yang tak sabar untuk melahirkan itu juga mayoritas adalah ibu baru.

Schaffir menjelaskan, perangsangan puting payudara memang bisa mempercepat persalinan. Metode tersebut akan membuat tubuh melepaskan hormon oksitosin sehingga memicu kontraksi rahim. "Akan tetapi, metode ini tidak direkomendasikan dan belum terbukti aman," imbuhnya.

Di Indonesia sendiri, beberapa mitos menyebutkan mengonsumsi rumput Fatimah, semacam herbal, bisa mempercepat kontraksi kelahiran.

Gara-Gara Hasrat Seks tak Terbendung

Jangan sekali-kali berbuat mesum saat sedang menjalankan tugas. Jika lagi apes, bisa jadi malah bikin suasana tambah puyeng. Ini yang dialami seorang petugas polisi senior yang bertugas di Ditlantas London Selatan, Inggris. Ia dipecat secara tidak hormat, lantaran kedapatan melakukan hubungan seks dengan kekasih gelapnya saat menjalankan tugas.

Inspektur Masood Khan (41), petugas tersebut, tak membantah perbuatannya. Di hadapan juri sidang, ia mengakui perbuatannya dilakukan lantaran khilaf. Ia juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan menerima pemecatan sebagai konsekuensi atas tindakannya itu.

"Jujur saya khilaf. Tidak seharusnya melakukan hal itu, baik secara moral ataupun profesi. Saya seharusnya tidak pernah melakukannya," katanya.

Pada Juli 2006 kisah itu berawal. Khan, kedapatan tengah bercumbu dengan kekasih gelapnya, di ruang kerjanya di stasiun kereta api Bandara Udara Gatwick.

Diakuinya, perempuan berusia 43 tahun itu adalah kekasih yang selama ini ia kencani di dunia maya. Sialnya, saat percumbuan berlangsung, seorang rekan mengabarinya adanya kejadian darurat. Khan, justru mengabaikan dan menyelesaikan hasratnya yang sudah di ubun-ubun itu.

Menurut Mehmuda Mian Pritchard, Ketua Komisi Independen Pengaduan Kepolisian London, tindakan Khan dianggap telah melanggar kode etik kepolisian.

"Tindak-tanduk Masood Khan tidak sesuai dengan standar yang kami harapkan sebagai petugas senior. Tindakannya telah mencoreng citra. Menjadi contoh yang buruk dan bahan tertawaan," katanya.

Obat Oles Pengeras Penis, Adakah?

Seorang pria usia 42 tahun beristeri 38 tahun, telah menikah selama 15 tahun. Hubungan keduanya baik-baik saja, tidak ada masalah. Meski begitu, kadang-kadang mereka merasakan bosan dan kurang bergairah untuk melakukan hubungan intim.

Suatu hari sang suami mendapat informasi dari seorang teman, bahwa ada obat yang yang bisa membuat suasana berbeda. Jika obat tersebut dioleskan pada kelamin pria, maka kelamin akan menjadi kuat, besar, dan tahan lama saat berhubungan intim.

Sang pria pun tertarik, lalu membelinya melalui teman tersebut. Ketika dicoba, memang sepertinya muncul reaksi seperti yang diceritakan temannya. Namun ketika melakukan hubungan intim, ternyata sang istri berteriak-teriak kesakitan. Dipikirnya karena kelaminnya berubah menjadi sangat besar, tapi tampaknya bukan karena itu, melainkan reaksi alergi terhadap obat tersebut.

Yang ditanyakan:

1. Mengapa timbul reaksi seperti itu pada isterinya? Sedangkan obat oles yang sama tidak menimbulkan reaksi apa pun terhadap isteri temannya.
2. Jika betul bahwa sang isteri alergi terhadap obat oles itu, apakah ada obat jenis lain untuk memperkuat ereksi kelamin pria, yang tidak menimbulkan alergi? 3. Supaya isteri tidak alergi terhadap obat oles buat pria, adakah penangkalnya? Apa yang perlu dilakukan isteri supaya tidak alergi?
4. Adakah latihan atau semacam senam yang dapat dilakukan oleh pria agar kelaminnya bisa kuat dan lama saat ereksi?"

Berikut jawaban Prof. Wimpie Pangkahila, Sp. And * kepada sang pria.

Ada langkah yang kurang tepat telah dilakukan sang pria. Dia menyatakan "kurang bergairah untuk melakukan hubungan intim, tetapi di pihak lain dia menggunakan obat oles agar kelamin menjadi kuat, besar, dan tahan lama".

Padahal kalau memang dorongan seksualnya yang menurun, maka masalah inilah yang harus diatasi, bukan membuat penis menjadi kuat, besar, dan tahan lama. Jadi seharusnya dorongan seksualnya yang diatasi agar menjadi normal kembali. Kalau dorongan seksual normal tetapi ereksi masih juga terganggu, maka gangguan ereksi itulah yang harus diatasi kemudian.

Kerancuan seperti ini banyak terjadi di masyarakat, yang semakin dibuat bingung oleh berbagai informasi yang salah tentang seks, apalagi dihubungkan dengan iklan obat atau ramuan yang dijanjikan dapat mengatasi masalah seksual. Padahal penanganan yang benar telah teresedia dan dapat diperoleh.

Beberapa tahun terakhir ini upaya ilmiah untuk menemukan obat atau cara mengatasi gangguan fungsi seksual, khususnya disfungsi ereksi, tampak semakin efektif. Penelitian yang dilakukan di beberapa negara ditujukan untuk mendapatkan obat atau cara baru mengatasi disfungsi ereksi, yang khasiatnya baik, dengan efek samping ringan atau tidak ada efek samping, mudah dan nyaman digunakan.

Sampai saat ini ada beberapa cara yang diakui oleh para ahli untuk mengatasi disfungsi ereksi, yaitu sex therapy, obat minum, injeksi pada penis, penggunaan melalui saluran kencing, pompa vakum, dan operasi pemasangan prostesis. Pemilihan cara yang tersedia itu, umumnya didasarkan pada kepraktisan penggunaan, khasiat, dan efek samping.

Semakin praktis caranya, semakin disukai dan diminati. Tetapi kalau cara yang praktis tidak berkhasiat atau khasiatnya tidak seperti yang diharapkan, maka akan dicari cara lain yang lebih tidak praktis. Karena itu penelitian kini ditujukan untuk mendapatkan obat atau cara yang lebih praktis lagi, dengan khasiat yang baik dan tanpa efek samping. Cara yang lebih praktis selain obat minum ialah obat oles atau krim.

Sampai saat ini beberapa penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan obat oles yang dapat menimbulkan ereksi. Bahan yang telah digunakan sebagai obat minum atau injeksi, kini sedang diteliti dalam bentuk krim yang dioleskan ke penis. Bahkan di negara tertentu yang peraturan peredaran obatnya sangat longgar, obat oles itu telah diedarkan.

Di Indonesia banyak sekali obat dan ramuan yang beredar, termasuk yang beredar secara gelap. Banyak warga masyarakat yang mudah sekali percaya dengan iklan atau informasi yang salah, khususnya yang menyangkut obat yang berhubungan dengan fungsi seksual. Obat oles termasuk salah satu obat itu.

Di banyak apotik, toko obat, bahkan pedagang kaki lima, dijual obat oles dalam bentuk krim, cairan, dan semprotan yang diiklankan dapat membuat ereksi, menambah ukuran penis, dan menahan ejakulasi. Persis seperti informasi yang diterima oleh Bapak yang menulis surat ini.

Sepintas informasi itu terdengar menjanjikan. Bayangkan, satu obat oles dapat menghasilkan tiga manfaat sekaligus. Luar biasa! Tetapi tentu saja informasi itu tidak benar, yang disampaikan oleh orang yang tidak mengerti, dan hanya ingin menjual saja. Sementara masyarakat juga tidak mengerti dan percaya begitu saja. Bahan yang diperlukan untuk menghasilkan ereksi dan menahan terjadinya ejakulasi tidaklah sama. Apalagi untuk menambah ukuran penis.

Selama ini obat oles dalam bentuk krim, cairan, atau semprotan, yang diiklankan itu pada umumnya mengandung bahan pemati rasa (anaestesi). Bila obat itu dioleskan ke permukaan penis, maka permukaan penis menjadi mati rasa. Dengan mati rasa, diharapkan ejakulasi tidak cepat terjadi.

Padahal, harapan itu tidak pasti terjadi karena ejakulasi yang terlampau cepat tidak selalu disebabkan oleh kepekaan ujung syaraf penis. Bahkan sebaliknya, pengguna bahan mati rasa itu mengeluh karena tidak merasakan apa-apa ketika melakukan hubungan seksual. Bahkan keluhan juga disampaikan oleh sebagian isteri yang suaminya menggunakan bahan itu.

Gangguan Dorongan Seksual
Saya tidak tahu bahan apa yang digunakan oleh Bapak penulis surat ini. Apakah dia menggunakan bahan pemati rasa ataukah bahan untuk menimbulkan ereksi, yang sebenarnya belum beredar secara resmi. Karena itu saya tidak dapat menjelaskan reaksi apa yang terjadi sehingga menimbulkan rasa sakit pada sang isteri. Mungkin saja terjadi reaksi alergi terhadap bahan yang digunakan itu, atau mungkin efek samping bahan itu yang dirasakan oleh isteri.

Sebenarnya pegangan resmi bagi para dokter yang diakui secara internasional untuk mengatasi disfungsi ereksi telah ada. Maka kalau Bapak penulis surat memang mengalami disfungsi ereksi, dia dapat menggunakan cara pengobatan yang ada. Tetapi kalau tidak mengalami disfungsi ereksi, sebenarnya dia tidak memerlukan pengobatan untuk disfungsi ereksi.

Kalau masalahnya adalah kurang bergairah untuk melakukan hubungan intim, seperti yang diutarakan pada awal suratnya, maka itu adalah masalah gangguan dorongan seksual, walaupun juga bisa mengakibatkan disfungsi ereksi. Untuk masalah dorongan seksual, penanganannya berbeda dengan disfungsi ereksi.

Mengenai latihan agar bisa kuat dan lama saat ereksi seperti yang ditanyakan, sebenarnya membingungkan. Kalau yang dimaksud kuat berarti ereksinya baik, maka tidak ada latihan yang pasti dapat memperbaiki ereksi yang terganggu.

Masalahnya, disfungsi ereksi disebabkan oleh banyak hal, dan tidak mungkin bisa diatasi kalau penyebab dasarnya tidak diatasi. Latihan mengencangkan otot sekitar penis (disebut otot dasar panggul), hanya untuk membantu fungsi ereksi. Tapi latihan ini juga bisa meningkatkan kontrol ejakulasi.

* Spesialis andrologi dan seksologi dari Universitas Udayana, Bali

Source: Gaya Hidup Sehat

Senin, 11 Juli 2011

Akupunktur untuk Kurangi Nyeri Persalinan

Bayang-bayang akan rasa nyeri saat persalinan kerap kali menghantui perempuan yang akan melahirkan. Nyeri persalinan dirasakan karena adanya kontraksi rahim yang disebabkan pelebaran mulut rahim dan segmen bawah rahim.

Dengan perkembangan medis, ditemukan berbagai metode pengendalian nyeri, baik farmakologis (dengan obat) maupun nonfarmakologis.

Metode nonfarmakologis dapat dilakukan melalui pendekatan psikologis, seperti hipnoterapi dan pendekatan sensori, seperti akupunktur, serta intervensi bukan manual, seperti hidroterapi.

Kelebihan metode nonfarmakologis, menurut dokter obstetri ginekologi dari Rumah Sakit Umum Daerah Dr Moewardi, Solo, Abdurahman Laqif, tidak perlu menggunakan obat. Adapun mengatasi rasa nyeri secara farmakologis menggunakan obat bisa menimbulkan efek samping berupa dampak jangka panjang pada bayi, pembengkakan kandung kemih ibu, dan waktu persalinan fase kala I (dari nyeri sampai pembukaan lengkap) yang lebih panjang.

Akupunktur (teknik pengobatan dengan tusuk jarum) dapat dimanfaatkan untuk mengurangi rasa nyeri saat persalinan dan memperpendek durasi persalinan.

Menghambat rasa nyeri Ahli anestesiologi, reanimasi, dan akupunktur Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Syarif Sudirman, menuturkan, akupunktur merangsang pelepasan zat kimia, seperti endorfin, enkefalin, dinorfin, serotonin, dan noradrenalin, yang menghambat rasa nyeri dan memberi rasa tenang.

”Akupunktur memberi efek pada titik yang ditusuk jarum berupa pelebaran pembuluh darah sehingga mampu menyerap substansi kimia penyebab nyeri,” kata Syarif yang juga bertugas di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr Soeharso usai Sosialisasi Pemanfaatan Akupunktur dalam Persalinan Bebas Nyeri di Fakultas Kedokteran UNS Solo, Kamis (17/2).

Akupunktur mulai dilakukan saat ibu masuk fase kala I persalinan, yakni saat mulut rahim membuka sepanjang 4 sentimeter. Saat itu dilakukan akupunktur di punggung. Tusuk jarum kembali dilakukan saat masuk kala II (dari pembukaan lengkap sampai janin keluar) yang ditandai dengan adanya kekuatan untuk his (kontraksi) dan mengejan untuk mendorong janin lahir. Akupunktur dilakukan di atas tulang sakrum (bagian paling bawah tulang belakang).

Akupunktur mampu menghambat nyeri yang timbul pada suatu struktur tubuh dengan cara mengirim sensor ke bagian tertentu di saraf tulang belakang. Penusukan jarum pada atau dekat struktur yang nyeri akan memberi efek menghambat rasa nyeri.

”Akupunktur tidak menghilangkan kontraksi yang dibutuhkan saat persalinan. Akupunktur mengurangi nyeri sampai batas yang bisa ditoleransi ibu bersalin. Nyeri persalinan yang merupakan nyeri alami tetap dibutuhkan sebagai tanda dalam proses persalinan,” kata Syarif.

Menurut Syarif, metode akupunktur untuk mengurangi nyeri persalinan belum dipraktikkan di Indonesia. Untuk itu, dia bekerja sama dengan dokter kandungan mengenalkan metode ini kepada para bidan dan akupunkturis di Kota Solo. ”Di Eropa, metode ini sudah lazim digunakan,” katanya.

Metode akupunktur untuk mengurangi nyeri persalinan, Syarif melanjutkan, memerlukan dukungan tim sukses, yakni suami, keluarga, bidan, akupunkturis, dan dokter kandungan sesuai dengan peran masing-masing. Tindakan akupunktur diterapkan dengan syarat persalinan diperkirakan normal, tekanan darah ibu normal, dan posisi kepala bayi lebih dulu pada jalan lahir.

”Berkurangnya nyeri akan menghilangkan hambatan psikologis pada ibu bersalin sehingga proses bersalin sesuai fase ideal,” kata Abdurahman Laqif.

Pendidikan Seks untuk Anak? Segera Berikan!


PERKEMBANGAN teknologi membuat seks tidak dianggap sakral lagi. Penemuan alat kontrasepsi oleh AS kemudian memicu revolusi seks di tahun 1960-an. Paradigma pun berubah. Seks dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Akibatnya pergaulan seks bebas pun marak.

Imbasnya juga dirasakan di Indonesia. Perubahan pandangan terhadap seksualitas terjadi sejak awal tahun 1980-an. Hal ini juga mengakibatkan perubahan dalam perilaku seksual termasuk di kalangan remaja.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan pandangan dan perilaku seksual tersebut. Contohnya, perkembangan iptek seperti internet, semakin longgarnya pengawasan dan perhatian orangtua dan keluarga akibat kesibukan, pola pergaulan yang semakin bebas dan lepas (sementara orangtua mengizinkan), lingkungan yang makin permisif, semakin banyak rangsangan seksual yang berasal dari luar dan fasilitas yang mendukung.

Aborsi Meningkat
Hubungan seksual pun kemudian bukan lagi menjadi sesuatu yang sakral. “Ironisnya, mereka tidak mendapat pendidikan seksual yang benar dan cukup. Bahkan mereka dihambat untuk menerima pendidikan seksual yang benar dan bertanggung jawab,” ujar Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FACCS, dengan nada geram. Sayangnya, reaksi penolakan cukup kuat. Alasannya, antara lain karena pendidikan seks bukan budaya Indonesia, melainkan budaya Barat.

Sebenarnya, saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden, salah satu pernyataannya yang sangat simpatik dan menunjukkan pengetahuan dan wawasan luas ialah “setuju pendidikan seks diberikan di sekolah”. Sayang, kata Prof. Wimpie, setelah Gus Dur lengser, persetujuan dilupakan dan lenyap ditelan waktu.

Tidak aneh bila timbul akibat yang dengan mudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah.

Lalu penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi.

Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan, dari responden pelajar SMP diketahui 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Akibatnya, makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).

Sebagai catatan, angka kejadian aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “Dan 20 persen di antaranya adalah remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini. Tindakan aborsi bisa menimbulkan bahaya, sekalipun dilakukan oleh dokter, meski tidak seberat seperti yang timbul akibat aborsi oleh tenaga tidak profesional.
“Perdarahan dan infeksi setelah aborsi mungkin saja terjadi, seperti juga robekan rahim. Tidak sedikit wanita yang mengalami kemandulan akibat infeksi setelah mengalami aborsi,” tambah Prof. Wimpie.

Informasi Keliru
Untuk itu, lanjut Kepala Bagian Andrologi di FK Universitas Udayana ini, pendidikan seks tidak bisa ditunda lagi. Tak hanya dari orangtua, tetapi juga pendidikan di sekolah. “Harus ada sekolah yang memeloporinya,” katanya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Pelita Harapan, Globe Asia, dan Kemang Village beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia melihat, pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah.

Pendidikan seks sebenarnya berarti pendidikan seksualitas. “Suatu pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas,” tambahnya. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks, yaitu aspek biologik, orientasi, nilai sosiokultur dan moral, serta perilaku.

Sesuai dengan kelompok usia berdasarkan perkembangan hidup manusia, maka pendidikan seks dapat dibagi menjadi pendidikan seks untuk anak prasekolah dan sekolah, pendidikan seks untuk remaja, untuk dewasa pranikah serta menikah.

Pendidikan seks untuk anak-anak bertujuan agar anak mengerti identitas dirinya dan terlindung dari masalah seksual yang dapat berakibat buruk bagi anak. Pendidikan seks untuk anak pra sekolah lebih bersifat pemberian informasi berdasarkan komunikasi yang benar antara orangtua dan anak.

Pendidikan seks untuk remaja bertujuan melindungi remaja dari berbagai akibat buruk karena persepsi dan perilaku seksual yang keliru. Sementara pendidikan seks untuk dewasa bertujuan agar dapat membina kehidupan seksual yang harmonis sebagai pasangan suami istri.

Sejak Bayi
Tanpa orangtua sadari, seksualitas anak berkembang sejak dini. Coba perhatikan bayi. Bayi menyusu karena dia merasa nikmat. Pada masa itu pusat kenikmatan berada di mulut atau oral. Sejalan usia, makin berkembang otot-ototnya sehingga anak senang dipeluk, ditimang. Di masa itu pusat kenikmatan ada di otot. Bila perkembangannya terhambat, mereka akan mengalami masalah seksual.

Namun, banyak orangtua yang tidak sanggup memberikan pendidikan seks di rumah. Alasannya, mereka tidak tahu apa yang harus dan layak disampaikan, mereka tidak tahu bagaimana harus mulai berbicara perihal seks, dan banyak orangtua beranggapan, sesuatu yang berkaitan dengan seks itu porno dan tabu.

Itu sebabnya, saat orangtua ditanya anak tentang seks umumnya tidak dapat berbicara, menjawab dengan marah, mengganggap anak tidak sopan sehingga mematahkan keingintahuan anak tentang seks yang ia rasakan.
Kalau orangtua malu atau tabu dalam memberikan pendidikan seks, bagaimana anak bisa memahami permasalahan itu dengan baik? Anda tentu tidak ingin putra putri yang beranjak remaja mendapat PMS, terinfeksi HIV, atau melakukan hubungan seksual pranikah. Jangan sampai masa depan mereka terenggut karena kehamilan pranikah atau kehamilan yang tidak diinginkan, yang bisa berlanjut pada aborsi, bahkan dapat berujung pada kematian.

Dibarengi Pendidikan Moral
Untuk mencegah dan menanggulangi akibat yang mungkin timbul karena perubahan pandangan dan perilaku seksual remaja, Prof. Wimpie mewanti-wanti orangtua untuk memperhatikan hal-hal berikut:

Perhatian dan pengawasan orangtua harus diberikan secara memadai, termasuk dalam hal seksualitas. Tentu mutlak dituntut contoh nyata orangtua dalam hidup sehari?hari.
Bekali remaja dengan pengetahuan seksualitas yang benar dan bertanggung jawab.
Remaja perlu mendapat pendidikan moral dan agama yang relevan dengan kehidupan mereka.
Ingatlah bahwa seksualitas berkembang sejak masa bayi, bahkan di dalam kandungan. Seharusnya perhatian orangtua tentang seksualitas anaknya sudah diberikan sejak dini, tidak hanya setelah remaja.
Berikan lingkungan yang bersih dari unsur seksual yang bersifat merangsang dan merugikan remaja. Ini tidak mudah karena banyak faktor dan pihak terlibat.
Kegiatan positif perlu disediakan bagi remaja agar mereka terlibat aktif di dalamnya, sehingga tidak larut dalam rangsangan seksual yang merugikan.
Semua pihak yang terlibat dalam penanganan masalah seksual remaja hendaknya meningkatkan tanggung jawabnya, sehingga usaha yang dilakukan tidak malah mendorong remaja untuk makin berani tenggelam dalam aktivitas seksual yang tidak sehat, yang dapat menimbulkan dampak buruk lebih jauh.
Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan aktivitas seksual, usahakan agar menghentikan aktivitas yang membangkitkan dorongan seksual sehingga tidak berlanjut menjadi hubungan seksual.
Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan hubungan seksual, berupayalah untuk menghentikan. Kalau tidak mampu menghentikan, cegah agar tidak terjadi kehamilan dan tidak terjadi penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).
Kalau timbul gangguan atau masalah seksual, yang menyangkut segi biologis, fisiologis, dan psikoseksual, segeralah berkonsultasi dengan tenaga ahli.

Prof. Wimpie memberikan cara sederhana untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak-anak.

Berbicaralah dengan cara yang wajar, seperti berbicara tentang hal yang lain.
Hindari gaya seperti mengajar di sekolah.
Pembicaraan hendaknya tidak hanya terbatas pada fakta biologis, melainkan juga tentang nilai, emosi, dan jiwa.
Jangan khawatir Anda telah menjawab terlalu banyak terhadap pertanyaan anak. Mereka akan selalu bertanya tentang apa yang mereka tidak mengerti.
Anak-anak usia prasekolah juga perlu tahu bagaimana melindungi diri dari penyimpangan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Ini berarti bahwa orangtua harus memberitahu anak bahwa mangatakan "tidak" kepada orang dewasa bukanlah sesuatu yang dilarang.
Jangan menunggu sampai anak mencapai usia belasan tahun untuk berbicara tentang masa pubertas. Mereka harus sudah mengetahui perubahan yang terjadi pada masa sebelumnya.
Berilah suasana dan kesempatan agar anak merasa bebas dan aman mengajukan pertanyaan tentang seksualitas.
Andaikata orangtua tidak dapat menjawab pertanyaan anak, jangan malu mengatakan "tidak tahu". Kemudian mintalah bantuan atau penjelasan dari orang lain yang mengetahui.
Setelah berbicara atau menjawab pertanyaan anak, ujilah apakah jawaban itu memang telah dimengerti. Berilah kesempatan kepada anak untuk menanyakan lagi kalau kemudian muncul pertanyaan baru.
Kehidupan seksual orangtua sangat diperlukan sebagai contoh nyata bagi anak ketika berbicara tentang seksualitas.



Author : Diana Yunita Sari

Source: Gaya Hidup Sehat
morzing.com dunia humor dan amazing!