PPC Iklan Blogger Indonesia

Minggu, 13 Maret 2011

Dhani Vs Maia: Perbedaan Ideologi?


Hehehe… pas baca judul ini, kayaknya kamu langsung mikir dan bilang, “Wah, STUDIA berubah jadi bulletin gossip tak ubahnya dengan infotainment�. Eits…tunggu dulu. Don’t judge a book by its cover, jangan menuduh dulu sebelum baca sampai tuntas. Sengaja judulnya dibikin begitu supaya kamu tertarik untuk mengambil dan membaca STUDIA edisi ini.
Sebelum mulai membahas, ada dua alasan mengapa topik selebritis bisa menjadi bahasan STUDIA kali ini. Yang pertama, karena dalam masalah ini Dhani menyinggung kosakata ideologi, sampai-sampai professor dalam kuliah saya membahasnya dengan menunjukkan apa itu makna ideologi. Khawatir semakin banyak orang rancu memaknai ideologi, maka penting sekali topik ini diangkat. Bukan pada masalah ruwetnya rumah tangga mereka, tapi lebih ke makna ideologi.
Yang kedua, adanya permintaan dari pembaca STUDIA yang mampir ke e-mail saya untuk membahas masalah ini karena semakin tak jelasnya mana hak dan mana batil. Kekaguman pada sosok Ahmad Dhani sebagai orang yang sangat islami dan mendukung syariat, bisa mengacaukan makna syariat itu sendiri. Di sinilah bahasan STUDIA akan terfokus yaitu pada ideologi dan syariat. Jangan keder dulu, karena kami akan membahasnya tentu dengan bahasa remaja dong. Lanjuuut!
Ideologi, apaan tuh?Di salah satu tabloid gosip Indonesia, dikutip pernyataan Ahmad Dhani sebagai berikut “Perbedaan saya dan Maia ada pada ideologi kami yang berbeda. Saya ingin Maia menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, sedangkan Maia menuntut persamaan hak.�
Ideologi, satu kata yang saat ini menjadi laris manis bak kacang goreng. Apalagi setelah artis yang mengucapkannya, kosakata ideologi bukan lagi menjadi sesuatu yang berat, serius dan aneh. Lihat aja pasti sebentar lagi teman-teman kamu pada ikut-ikutan menirukan Om Dhani ini. “Aku putus dengan pacarku karena ideologi kami berbeda. Dia minta making love, aku minta cuma kiss aja.�
Nah, yang paling parah kalo temenmu ada yang bilang dia pacaran nggak hot-hot, tapi pacaran yang sesuai syariat aja. Walah…kacau-beliau kalo begini urusannya. Antara yang hak dan yang batil campur aduk kayak susu dicampur air comberan. Emang kamu mau meminumnya? Ih, nggak banget! So, coba kita telusuri yuk.
Ada banyak orang mengaku-ngaku tahu tentang ideologi dan maknanya. Ada juga yang bilang bahwa macam ideologi itu ada ratusan bahkan ribuan di dunia ini. Tapi sebetulnya apa sih ideologi itu? Ideologi adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan kehidupan yang darinya kemudian terpancar peraturan. Maksudnya pemikiran menyeluruh ini adalah pemikiran yang lengkap dan sempurna dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah apa pun itu jenisnya. Intinya, ideologi tuh cara hidup. Itu sebabnya, pemikiran, perasaan, dan perbuatan kita akan mencerminkan ideologi apa yang kita ambil. Kalo pemikiran, perasaan dan perbuatan kita disesuaikan dengan Islam, maka kita udah berideologi Islam.
Sobat, sebuah ideologi pasti mempunyai peraturan untuk menyelesaikan permasalahan yang umum hadir dalam kehidupan. Apa pun masalahnya, ideologi pasti punya solusinya.
Dalam pernikahan misalnya, ideologi Kapitalisme yang mengusung ide feminisme dan kesetaraan gender menganggap menikah itu bukan ibadah. Pernikahan hanya ikatan kontrak sebagaimana kamu jadi kuli di pabrik. Karena kontrak salah satu pihak bisa sewaktu-waktu membatalkannya kalo sudah bosan. Alasan klise sih sudah tak ada kecocokan.
Beda Kapitalisme, beda pula dengan Islam. Tidak ada pacaran dalam konsep Islam karena aktivitasnya yang mendekati zina, bukan berarti Islam tidak punya solusi mengatasi naluri alami antar lawan jenis ini. Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap gentleman, berani bertanggung jawab dan mempunyai komitmen dalam hidup. So, menikah adalah solusinya.
Pernikahan dalam Islam adalah dalam rangka ibadah yang itu ada nilai pahalanya. Laki-laki berposisi sebagai kepala rumah tangga bukan untuk mendholimi dan menyiksa perempuan, melainkan untuk melindungi dan menanggung nafkah serta kebutuhan hidupnya. Perempuan sebagai manajer keluarga bukan berarti lebih rendah dari laki-laki. Tapi lebih sebagai istri dan ibu yang baik bagi anak-anak untuk menghasilkan generasi berkualitas.
Kalo suami meminta istri menutup aurat dan lebih memperhatikan anak-anak dan keluarga, seharusnya bukan karena sok jadi pemimpin rumah tangga. Tapi permintaan ini semata-mata karena Islam telah menggariskannya demikian. Begitu juga istri, tidak harus menunggu diminta oleh suami, ia sendiri sudah harus mengerti hak dan kewajibannya. Ada kalanya istri yang lebih paham Islam, maka ia yang harus menasehati suami. Karena sesungguhnya kehidupan suami istri adalah kehidupan yang penuh persahabatan, bukan permusuhan dan persaingan. Jadi sejak sebelum menikah, seharusnya laki-laki dan perempuan sudah mempunyai bekal mendasar ini. Bukan ribut-ribut kemudian yang menjadikan anak sebagai korban.
Om Dhani, sosok pro syariat?Itu harapan kita semua. Tapi sementara itu coba sedikit kita lihat apa yang telah dilakukannya ketika sebagian dari kita mengidolakannya karena seakan-akan sosok ini pro syariat. Terlepas kasus kaligrafi asma Allah yang dijadikan alas konser dan dinjak-injak beberapa saat lalu, coba lihat juga gaya hidup sehari-harinya sebagai seorang artis dan selebritis.
Hidup di tengah glamour keartisan, campur baur alias ikhtilath laki dan perempuan adalah hal biasa. Cipika-cipiki dengan lawan jenis adalah gaya hidup. Apalagi ketika Om Dhani mencari Dewi-dewi yang notabene peserta audisinya adalah perempuan-perempuan setengah telanjang alias berpakaian sangat minim.
Memang sih, sosok Ahmad Dhani secara sekilas kayak ikhwan banget (hehehe…) Saya ingat waktu masih berpakaian putih abu-abu alias SMA dulu ada teman yang bertanya begini, �Ciri-ciri ikhwan yang sholeh tuh gimana sih?�
Karena masih imut dan polos, saya jawab “Yang punya jenggot dan celananya kayak kebanjiran alias di atas mata kaki.�
Teman saya kontan menjawab, “Wah…Ahmad Dhani memenuhi syarat dong. Asyik nanti aku cari pacar kayak doi aja deh. Terus kakakku yang cowok aku suruh panjangin jenggot, biar kayak ikhwan. Keren dong.�
Waduh…kok jadi begini responnya? Dan mungkin banyak orang di luar sana yang juga salah kaprah tentang ciri-ciri keislaman seseorang. Hanya karena namanya berbau arab terus dianggap yang paling sholeh. Atau hanya karena simbol-simbol tertentu dipakai semisal jenggot buat cowok, maka sudah pasti ia taat syariat. Padahal, belum tentu!
Begitu juga dengan sosok selebritis. Hanya karena ia sering menyebut syariat Islam, tidak lantas ia pro syariat. Hanya karena ingin istri nurut suami, maka syariat dibawa. Tapi dalam masalah lainnya, syariat dicampakkan. Ini khas banget sebagai ciri-ciri sekuler yaitu ketika aturan agama dipakai untuk urusan domestik aja. Urusan publik semisal perdagangan dan politik, balik lagi ke hukum kapitalis yang persis hukum rimba.
Banyak pemberitaan yang menyatakan bahwa Om Dhani ingin rumah tangganya sesuai dengan syariat Islam. Memang sih, siapa juga orang yang nggak pingin rumah tangganya sakinah mawaddah wa rahmah. Dan itu semua cuma bisa didapat bila seluruh anggota keluarga semuanya tunduk pada syariat. Tapi apa iya sih syariat cuma dibutuhkan dalam rumah tangga doang? Gimana dengan yang lainnya kayak kehidupan bisnis, pendidikan, berpolitik, bergaul dengan lawan jenis, memakai pakaian dll? Apa sudah bisa disebut pro syariat hanya dengan sering menyebut-nyebut syariat Islam saja tanpa pengamalan yang benar menurut Islam?
Syariat Islam itu all inSobat, syariat Islam kudu diambil secara keseluruhan alias all in, nggak bisa dan nggak boleh diambil secara parsial alias sebagian aja. Kalo ini yang dilakukan maka fenomena Om Dhani-Tante Maia dan berbagai rumah tangga kacau beliau?  yang dimotori oleh selebritis akan menjadi tren masa kini. Naudzhubillah. Di mulut sih ringan aja bilang sesuai syariat, tapi di kelakuan? Nanti dulu.
Biar aja Allah yang menilai, manusia nggak berhak dong menghakimi. Emang nggak kok, selama itu masalah keimanan yang urusannya memang sama Allah langsung. Tapi keimanan dalam Islam bukan cuma keyakinan dalam hati aja, tapi kudu mewujud dalam perbuatan. Itulah gunanya ada syariat, untuk mengukur apakah keimanan itu cuma asal ngaku atau emang serius dipraktikkan dalam perbuatan supaya bisa dilihat dan diukur.
Dalam perintah menutup aurat misalnya. Mana yang nurut sama syariat mana yang nggak jelas terlihat. Begitu juga dalam pergaulan. Seseorang nggak akan bisa berkelit bahwa ia suci dan alim ketika jelas-jelas ia cipika-cipiki (cium pipi kanan/kiri) dengan lawan jenis. Akan sangat aneh juga bila ia bicara syariat Islam tapi pada saat bersamaan ia memperjuangkan feminisme. Bisa jadi orang seperti ini memang tidak tahu beda syariat Islam dan feminisme. Hanya karena ada beberapa kesamaan, lalu dipukul rata bahwa sudah pasti sama semuanya. Persis dengan ide demokrasi. Hanya karena ada unsur musyawarah di dalamnya, lantas dikira sama dengan Islam yang juga ada unsur musyawarah. Padahal monyet dan manusia sama-sama suka makan pisang. Apa kamu mau disamakan dengan nyemot, eh…monyet? Pasti nggak kan?
Belajar Islam dengan baik dan benar itu penting. Supaya kamu nggak mudah terombang-ambing oleh opini publik tentang hal-hal yang nggak benar. Terus yang utama nih, dengan belajar Islam diharapkan kamu bisa memandang banyak hal dalam hidup ini dengan sudut pandang yang benar pula. Oya, tak ada kebenaran kecuali dalam Islam saja, bukan hanya dalam ibadah ritual semata, tapi juga dalam semua aspek kehidupannya. Cuma Islam yang benar. Yang lain? Buang aja ke tong sampah peradaban!
Sobat, nggak usah deh tersepona, eh terpesona maksudnya, dengan kehidupan selebritis mana pun. Kalo cuma menampilkan simbol Islam tanpa ada isinya, siapa juga yang nggak bisa? Julia Perez aja (itu yang suka tampil di film komedi porno) selalu bilang ahamdulillah dengan kariernya yang melejit sehingga menjadikannya terkenal. Apa lantas kalo sudah begitu, Neng Julia ini bisa disebut alim, sholihah dan menjadi panutan? Naudzhubillah banget tuh. Sori, ini bukan ghibah atau ngegosip, karena kenyataannya udah bisa dilihat banyak orang. Oke?
Terlepas daru itu, kita doakan saja semoga mereka, para selebritis yang suka membawa-bawa syariat Islam, satu ketika nanti dibuka pintu hatinya oleh Allah untuk tobat dan benar-benar berjuang demi penegakkan syariat. Bukan hanya lip service saja atau omong doang.
Sementara itu, perjuangan untuk menegakkan syariat nggak bisa dipisahkan dari ideologi. Syariat Islam tidak mungkin bisa ditegakkan di fondasi yang bernama ideologi Kapitalisme. Syariat islam kudu bin harus tegak di atas fondasi ideologi Islam. Jadi kalo ada yang bilang pro syariat, kudu pro ideologi Islam juga dong. Dan itu nggak boleh setengah-setengah tapi kudu all in diterapkan dalam semua aspek kehidupan. So, jangan salah lagi yah dalam memaknai ideologi dan syariat Islam. Hidup Islam! [ria: riafariana@yahoo.com] (Buletin STUDIA Edisi 341/Tahun ke-8/14 Mei 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

morzing.com dunia humor dan amazing!