Sunan Giri nama aslinya Raden Paku, atau Prabu Satmata, dan sering juga disebut Sultan Abdul Fakih. Beliau putra Maulana Ishak yang ditugasi Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Blangbangan. Ia juga bersaudara dengan Sunan Gunung Jati dan dengan Raden Fatah karena isteri mereka bersaudara. Ia belajar agama Islam di pesantren Sunan Ampel dan berteman baik dengan Sunan Bonang.
Sunan Giri dikenal sebagai pejuang Islam yang gigih. Ia menggunakan pesantren dan cara dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam. Para santrinya banyak yang ditugasi untuk berdakwah ke berbagai daerah di luar pulau Jawa, seperti Madura, Bawean, Kangean, Ternate, dan Tidore. Melalui dakwah para santrinya itulah agama Islam semakin menyebar di Nusantara. Sunan Giri wafat pada tahun 1600-an dan dimakamkan di bukit Giri, Gresik.
Menurut Wikipedia, Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu menghanyutkannya ke laut.
Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.
Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya dan Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar