PPC Iklan Blogger Indonesia

Minggu, 10 April 2011

Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia

Wilayah Indonesia sejak zaman dahulu telah dikenal oleh mancanegara sebagai daerah yang subur serta kaya akan potensi alamnya yang dibutuhkan oleh negara-negara lain. Dikarenakan oleh hal tersebut tidaklah mengherankan jika para pedagang-pedagang asing berdatangan ke wilayah-wilayah di nusantara, sehingga dengan berkembangnya perdagangan antar bangsa maka berkembang pula pelabuhan-pelabuhan atau bandar-bandar terutama di daerah-daerah pesisir pulau. Kemajuan dari perdagangan Internasional tersebut menyebabkan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara menjadi kaya dan makmur sehingga seiring dengan hal itu bandar-bandar atau pelabuhan-pelabuhan yang ada pun berkembang menjadi besar. Hal ini menyebabkan lebih banyak lagi para pedagang dari berbagai bangsa berdatangan untuk melakukan transaksi perdagangan dengan penduduk pribumi yang ada di wilayah nusantara. Seiring dengan itu pula terjadi interaksi antara penduduk pribumi dengan para pedagang asing sehingga berpengaruh pula pada budaya lokal.

Dengan semakin mundurnya kekuasan Sriwijaya (sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi) di wilayah nusantara, maka para pedagang muslim yang kemungkinan disertai pula oleh para pendakwah mendapatkan keuntungan dagang juga keuntungan politik. Mereka menjadi pendukung bagi kemunculan kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Kerajaan Samudera Pasai di pesisir timur laut Aceh, tepatnya dekat kota Lhokseumawe atau Aceh Utara pada saat ini. Daerah tersebut yang merupakan kerajaan Islam yang pertama di Indonesia diperkirakan berdiri pada abad ke-13 Masehi. Hal ini mungkin disebabkan oleh hasil islamisasi yang dilakukan oleh para pedagang muslim di daerah-daerah pesisir sejak kedatangan mereka mulai abad ke-7 Masehi. Daerah lain yang diperkirakan masyarakatnya telah memeluk Islam adalah daerah Peurelak, yang diketahui dari berita Marcopolo yang singgah ke daerah tersebut pada sekitar tahun 1292. Berdasarkan berita dari Tome Pires (1512-1515) dalam Suma Oriental-nya dapat diketahui bahwa daerah-daerah pesisir Sumatera Utara dan timur Selat Malaka yaitu mulai Aceh sampai daerah Palembang telah banyak masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi ada pula yang masih belum Islam yaitu daerah Gamispola dan daerah-daerah pedalaman. Islamisasi ke daerah-daerah pedalaman Aceh dan Sumatera Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada sekitar abad ke-16 dan 17 Masehi.

Kedatangan Islam di daerah Jawa tidak diketahui dengan pasti. Bukti sejarah berupa batu nisan Fatimah binti Maimun yang ditemukan di daerah Leran (Gresik) berangka tahun 475 Hijriah (1082 Masehi) mungkin merupakan bukti konkret telah adanya kedatangan Islam di Jawa, walaupun hal itu belum berarti adanya islamisasi yang meluas khususnya di Jawa Timur. Sejak akhir abad ke-11 sampai ke-13 Masehi bukti kepurbakalaan dan berita asing tentang kedatangan Islam di Jawa Timur sangat sedikit. Baru sejak Kerajaan Majapahit mencapai puncak kekuasaannya pada akhir abad ke-13, bukti-bukti islamisasi dapat diketahui lebih banyak dengan ditemukannya batu nisan di Troloyo, Trowulan dan Gresik. Selain itu, berita Ma-huan tahun 1416 menceritakan bahwa orang-orang muslim sudah bertempat tinggal di Gresik, yang membuktikan bahwa baik di pusat Kerajaan Majapahit maupun di daerah pesisir, terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses Islamisasi dan telah terbentuk komunitas muslim.

Perkembangan masyarakat muslim di daerah kerajaan Majapahit dan kota-kota pelabuhannya terkait dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang muslim yang telah mempunyai kekuasaan politik dan ekonomi di Samudera Pasai dan Malaka. Kedatangan Islam di Majapahit belum mempengaruhi bidang politik di Kerajaan-Hindu itu. Hal ini dikarenakan kedua belah pihak masih mementingkan usaha untuk memperoleh keuntungan dagang. Proses islamisasi hingga memunculkan kekuasaan politik seperti kerajaan Demak disebabkan oleh mundurnya kekuasaan Majapahit dikarenakan pemberontakan dan perebutan kekuasaan di keluarga kerajaan. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman maka bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam lainnya seperti Kerajaan Banten di Jawa Barat, kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku dan kerajaan Banjar di Kalimantan.

Dengan demikian bahwa perkembangan agama Islam di Indonesia dimulai dengan cara damai melalui para bangsawan dan juga rakyat pada umumnya melalui kegiatan perdagangan dan para pendakwah, namun apabila situasi politik di kerajaan-kerajaan itu tidak kondusif dikarenakan oleh perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan sehingga menyebabkan kekacauan dan lemahnya pemerintahan, Islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan dan raja-raja yang menghendaki kekuasaan. Mereka menghubungi saudagar-saudagar muslim yang posisi ekonominya kuat karena penguasaan atas pelayaran dan perdagangan. Setelah terwujud kekuasaan Islam, barulah dilancarkan ekspansi ke wilayah kerajaan lain yang bukan kerajaan Islam semata-mata bukan karena masalah agamanya, melainkan karena dorongan politik dan kekuasaan, misal Kerajaan Gowa terhadap kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, Demak dan Banten terhadap Kerajaan-Hindu di Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

morzing.com dunia humor dan amazing!