PPC Iklan Blogger Indonesia

Kamis, 03 November 2011

Memburu Aktivis Islam di Asia Tengah

Para aktivis dakwah di Rusia semakin menderita. Gelora semangat untuk menegakkan kemuliaan agama dibalas intimidasi kejam pemerintah Moskow. Isu terorisme pun dituduhkan pada kaum muslimin.
Judul di atas nggak main-main. Di kawasan Asia Tengah seperti Uzbekistan menjadi orang Islam yang istiqamah makin susah. Sebabnya tidak lain pemerintah Rusia dan sekutunya memainkan politik represif terhadap kaum muslimin?  khususnya mereka yang diketahui menjadi penggiat dakwah. Dengan dalih terorisme pemerintah Rusia menggelar operasi penangkapan besar-besaran terhadap para aktivis dakwah di sana. Tindakan serupa juga terjadi di wilayah-wilayah pecahan Uni Soviet. Komunisme tidak saja mewariskan ideologinya tapi juga kekejaman terhadap kaum muslimin.
Padahal, dalam sejarah dunia Islam, Rusia dan wilayah-wilayah bekas pecahannya dikenal sebagai tempat kemunculan berbagai ahli hadits dan fuqaha, ahli filsafat, fisika, matematika dan astronomi. Nama-nama seperti Al Khawarizmi, Al Biruni, Farabi, Abu Ali Ibnu Sina dan pionir hadits terkemuka, Imam Bukhari, adalah keturunan bangsa Uzbekistan yang mengharumkan tanah air mereka ke seluruh dunia. Pemikiran-pemikiran mereka tidak saja mendapat respon yang luar biasa dari kalangan umat Islam, akan tetapi juga dari kalangan Kristiani, Yahudi dan Budha.
Mayoritas umat Muslim di Rusia adalah: 1. Uzbekistan, 2. Tajikistan, 3. Azerbaijan, 4. Georgia and Armenia, 5. Kazakhstan, 6. Kirghizia, 7. Tatar dan Bashkar, 8. Caucasia and 9. Cremia. Jumlah mereka total mencapai 80 juta jiwa.
Sejarah Kebencian
Awal kaum Bolshevik berkuasa di Soviet mereka memberi janji manis pada umat muslim. Tapi di tahun 1920-an, pemerintah sosialisme mulai mencari cara untuk menghancurkan Islam. Mereka terlebih memecah kaum muslimin menjadi kelompok-kelompok kecil agar lebih mudah dikendalikan. Pemerintahan Bolshevik ini juga menguasai lembaga-lembaga keislaman di seluruh Soviet. Hasilnya, seluruh ulama yang duduk di lembaga-lembaga keislaman dikuasai oleh pemerintah. Hanya para ulama yang mendapat persetujuan pemerintah saja yang diizinkan mengajar di tengah-tengah masyarakat dengan kontrol materi yang sangat ketat.
Setelah beberapa tahun pemerintah komunis mulai melakukan intimidasi secara terang-terangan. Zakat dilarang, demikian pula menunaikan ibadah haji dan penggunaan bahasa Arab. Stalin bahkan memerintahkan aparat keamanan untuk mengeksekusi setiap muslim yang memiliki kopian Al Qur’an. Mesjid-mesjid ditutup dan diubah menjadi klub-klub hiburan dan rumah bordil. Selama 74 tahun berkuasa pemerintah sosialis telah mengeksekusi sekitar 50 ribu ulama dan para ustadz, serta menutup 14 ribu mesjid hanya di kawasan Turkistan. Sementara itu kaum muslimin dilabeli ‘Balmeek’, dimana setelah itu ia dapat dibunuh kapan saja.
Akibatnya umat Muslim kian jauh dari ajaran Islam. Banyak muslim di Soviet menjalankannya sholat wajib hanya sekali dalam sehari dari lima waktu yang diwajibkan, ibadah puasa Ramadlan dijalankan kurang dari sebulan, sementara ibadah haji yang memang sudah terlarang tetap dilakukan, tapi bukan ke tanah suci melainkan ke beberapa tempat ‘kramat’ di Soviet.
Dalih Terorisme
Peristiwa serangan 11 September terhadap gedung WTC di AS, yang disusul dengan seruan ‘perang melawan terorisme’, semakin membuat pemerintah Rusia dan negara-negara pecahannya bernafsu memburu para aktivis dakwah. Untuk menangkapi para aktivis dakwah pemerintah Rusia menggunakan cara-cara yang manipulatif. Biasanya korban ditangkap dengan barang bukti bom, senjata, dsb. yang amat diragukan kebenarannya sebagai milik tersangka. Modus penangkapan seperti ini berkembang di mana-mana, di seluruh Rusia dan negara-negara bekas koloninya. Human Rights Watch memperkirakan lebih dari 600 aktivis orang ditangkap karena kegiatan politik, dan sebagian mengalami penyiksaan hingga tewas.
Memang, para aktivis dakwah yang tertangkap mengalami berbagai macam penyiksaan yang brutal. Sejumlah laporan lembaga amnesti internasional bahkan media massa setempat beberapa kali menurunkan laporan-laporan soal penyiksaan yang tidak pantas dilakukan bahkan terhadap hewan sekalipun.
Sebut saja apa yang menimpa Muzavar Avazov (35 tahun). Aktivis dakwah dan ayah empat orang anak ini tewas setelah beberapa hari ditangkap oleh dinas kepolisian Uzbekistan, atau tepatnya pada tanggal 8 Agustus 2002. Human Rights Watch yang melakukan investigasi di Uzbekistan menuturkan bahwa 70 persen tubuh Muzavar mengalami luka bakar serius. Dokter yang memeriksanya menyatakan hal itu tidak mungkin terjadi selain dengan cara merendam korban ke dalam air mendidih. Menurut pengakuan sejumlah tahanan Muzavar disiksa hingga mati karena menolak perintah para algojo penjara Uzbekistan untuk berhenti mengerjakan sholat.
Lain lagi siksaan yang menimpa Abdul Khalil, 28 tahun, yang di tangkap di lembah Ferghana pada bulan Agustus tahun 2001. Pria ini divonis 16 tahun penjara karena “mencoba untuk mengubah struktur konstitusional”. Saat ayahnya melihat untuk pertama kali semenjak hari penangkapannya, ia terbaring di atas usungan di rumah sakit penjara. Kepalanya memar dan lidahnya bengkak. Ia hanya dapat berkata, “lama ditenggelamkan di air”.
Korban lain adalah seorang pengemudi taksi di Tashkent yang juga aktif dalam kegiatan dakwah Islam. Izzatullo Muminov nama pria tersebut. Pada sore hari tanggal 7 Oktober 2002, Muminov belum juga pulang ke rumah seperti biasanya. Baru pada tanggal 9 Oktober jam 1:30 setempat ia menelepon ke rumah dan mengatakan bahwa ia berada kantor polisi Sobir Rakhimov. Ia sempat memberitahu keluarganya untuk tidak perlu cemas karena ia akan segera pulang. Dan ternyata pada hari itu juga Muminov diantar pulang oleh polisi tapi dalam keadaan tak bernyawa. Polisi mengatakan bahwa Muminov tewas setelah gantung diri di dalam selnya.
Pada keluarganya, pihak kepolisian mengatakan bahwa Muminov terlibat perampokan bersama dua orang pria lain. Polisi juga memperlihatkan surat pernyataan kejahatan yang ditandatangani Muminov. Pihak keluarga mengakui bahwa surat itu ditulis oleh Muminov namun mereka menyangkal bahwa tanda tangan pada surat itu adalah buatannya.
Siapapun sulit untuk percaya bahwa Muminov meninggal akibat gantung diri. Sebabnya sekujur tubuh Muminov lebam, kulit di sekitar lehernya sobek, dan pada bagian tubuh yang lain terlihat genangan darah akibat penyiksaan. Rights Human Watch meyakini bahwa Izzatullo Muminov maupun Abdul Khalil adalah korban dinas rahasia Uzbekistan, SNB. Bagi polisi dan dinas intelejen penyiksaan dan pembunuhan adalah “teknik investigasi yang rutin” dilakukan terhadap para aktivis dakwah.
Kebijakan kejam tidak hanya berlaku pada para aktivis dakwah, tapi juga menimpa gerakan HAM yang kritis. Seorang aktivis HAM dari kelompok Human Rights Society of Uzbekistan, Yuldash Rasulov, ditangkap polisi pada tanggal 24 Mei 2002. Rasulov dituduh melakukan rekruitmen para pemuda untuk pelatihan teroris internasional. Sebuah langkah untuk mendiskriditkan gerakan HAM di Uzbekistan.
Dibela AS
Kekejian pemerintah negara-negara sosialis di Asia Tengah memang mendapat kecaman. Human Rights Watch beberapa kali memprotes perlakuan tidak manusiawi rezim Karimov terhadap para tahanan. Mereka menurunkan berbagai tulisan yang mengungkap terjadinya praktek penyiksaan yang amat brutal terhadap tahanan. Media massa pun mengungkap praktik kebinatangan tersebut. Mereka melakukan sejumlah investigasi kepada keluarga korban atau ke dalam penjara.
Ada hasilnya memang. Pada bulan Juni 2003 pemerintah AS dan Uni Eropa mengungkapkan perhatian mereka terhadap kematian sejumlah tahanan di Uzbek. Terakhir menimpa Orif Eshonov pada tanggal 15 Mei 2003. Dalam sebuah pernyataan petugas yang berwenang dari kedubes AS di Tashkent melalui Interfax, Douglas Davidson, ketua utusan misi AS untuk Dewan Tetap Organisasi untuk Keamaan dan Kerjasama Eropa (Permanent Council of the Organization for Security and Cooperation in Europe/OSCE) mengajukan pertanyaan kepada pemerintah Uzbekistan akan komitmen untuk standar kebijakan yang lebih tinggi dalam hak asasi manusia.
Davidson juga mengatakan bahwa pemerintah Karimov harus membuat perkembangan yang lebih cepat dan transparan dalam melaksanakan rekomendasi dari Pimpinan Khusus PBB Anti Kekerasan Theo van Boven, yang telah mengunjungi Uzbekistan di bulan November dan Desember tahun lalu.
Tapi lain di mulut, lain di hati, dan lain di lapangan. AS dan Uni Eropa tidak pernah melakukan tindakan apapun selain mengecam. Ini berbeda misalkan dengan sikap AS terhadap masalah Timor Leste atau pemerintah Myanmar, dimana AS demikian giat mengecam bahkan melakukan ancaman fisik. Ini adalah bukti kampanye �perang terhadap terorisme’ adalah ironis dan sistem internasional telah buta. Bukankah kebijakan keji pemerintahan Rusia dan Karimov juga termasuk kategori �terorisme’, yakni �state terorism’ atau praktik terorisme oleh negara terhadap rakyatnya?
Apa yang diterima oleh Karimov justru penghargaan dan bantuan keunangan. Presiden AS george W Bush telah menjadikan Karimov sebagai sekutu baru di kawasan Kaukasus. Tahun lalu AS telah memberikan dana bantuan sebesar US$ 500. Sebagian dari dana bantuan itu, yakni sebesarUS$ 79 juta dipergunakan untuk membiayai keamanan negeri tersebut alias untuk memburu dan menangkapi para aktivis dakwah Islam.
Kedekatan Bush dengan Karimov sangat nyata. Pada bulan Maret tahun lalu Karimov berkunjung ke Washington. Mereka menandatangani sebuah deklarasi jaminan keamanan dan berjanji untuk lebih memperkuat lagi “materi dan teknik dasar perwakilan pemberdayaan hukum�. Bahkan pada tanggal 2 Mei NATO menyatakan bahwa Uzbekistan dapat dipergunakan sebagai pangkalan militer bagi sekutu untuk menjalankan operasi menjaga perdamaian di Afghanistan. Tapi kedatangan pasukan AS ini menjadikan tindakan brutal rezim Karimov terhadap umat Muslim kian menjadi-jadi. Kini warga harus mengajukan izin jika hendak bepergian ke luar kota, dan pergi ke mesjid kemungkinan besar akan berujung pada penangkapan.
Seorang pejabat senior pemerintahan Barat mengatakan, “Di sini rakyat kurang memiliki kebebasan dibandingkan era Brezhnev (salah seorang pemimpin Soviet dahulu). Ironinya pemerintahan partai Republik AS justru mendukung sisa-sisa pengikut Brezhnev sebagai bagian upaya mereka melawan ekstrimis Islam.�
AS juga mendanai sejumlah kelompok HAM di Uzbekistan. Tahun lalu sumbangan sebesar US$ 26 juta diturunkan sebagai program demokratisasi karena AS menilai Uzbekistan telah “menunjukkan sejumlah langkah positif� dalam penegakkan HAM dan demokrasi.
Sikap AS bertentangan dengan pandangan Human Rights Watch. Matilda Bogner salah seorang aktivis Human Rights Watch berkomentar, “Saya menolak pandangan bahwa telah ada kemajuan yang riil. Tidak ada yang berubah di sini.�
Hakimjon Noredinov, 68, menyetujui pandangan tersebut. Pria ini terjun dalam aktivitas HAM setelah putranya yang tertua, Nozemjon, 33, menjadi korban kebrutalan dinas rahasia Uzbekistan. Putranya disiksa dan ditinggalkan begitu saja dengan tengkorak yang retak oleh para petugas dinas rahasia dengan harapan akan mati. Nozemjon masih hidup tapi sekarang ia dirawat di rumah sakit jiwa karena berteriak-teriak sepanjang malam akibat tulang tengkoraknya menganga setelah penyiksaan tersebut. Noredinov berkata, “Kehidupan rakyat di sini tidak menjadi lebih baik setelah keterlibatan AS. Berkat bantuan AS, Karimov justru menjadi semakin kaya dan berkuasa.�
Allah Sebagai Penolong
Berliku dan berkerikil tajam. Begitulah jalan yang harus ditempuh kaum perjuangan muslim Uzbekistan demi kemuliaan agama. Intimidasi, penangkapan dan penyiksaan nyaris sepanjang hayat dikandung badan. Dari zaman revolusi Bolshevik hingga rezim Karimov, tak ada yang menyisakan harapan akan kemenangan Islam.
Tentu saja karena kemenangan adalah hak prerogatif Allah Swt. Zat yang menurunkan agama ini. Dia telah menjanjikan kemenangan bagi Islam dan para pejuangnya. Baik kemenangan di dunia maupun kemenangan di akhirat. Apa yang kini menimpa para syabab muslim di Uzbekistan adalah satu harga yang harus dibayar oleh mereka dan akan dibeli oleh Allah dengan surgaNya. Pastinya, tidak ada kemenangan dan kenikmatan yang lebih besar selain balasan ridlo dan surga yang Ia janjikan.
Bersabarlah saudara-saudaraku di Uzbekistan! Sesungguhnya Allah bersama kalian dan kita semua! Tunggulah hingga saatnya tiba, saat Allah memenangkan agama ini dan menghinakan lagi meluluhlantakkan kesombongan kaum kuffar! Bagi kalian yang telah syahid menemui Rabb, sampaikan salam padaNya bahwa masih banyak hamba-hambaNya yang meniti jalan perjuangan. Berbahagialah kalian karena akan telah menemui janji-janji kenikmatanNya. Allah Mahatahu akan amal perjuangan kalian.
“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya),”(Al Ahzab [33]:23)

Gerakan Pemuda Mahasiswa Dalam Penindasan SJ-SF dan Jalan keluarnya

Gerakan Pemuda Mahasiswa Dalam Penindasan SJ-SF dan Jalan keluarnya
  1. I.     Pendahuluan
Pemuda adalah salah satu golongan atau sektor yang berjumlah besar dari masyarakat Indonesia. Mereka laki-laki dan perempuan yang berusia muda (15-35 tahun) yang memiliki ciri khusus, yakni tingkat mobilitas yang tinggi, dinamis dan aktif.
Jika dilihat dari aspek usia, mereka berjumlah 82,2 juta lebih (2008) dari jumlah penduduk Indonesia sebesar 228,5 juta lebih yang mengalami kenaikan seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Sejarah menunjukkan peran penting pemuda dalam gerakan pembebasan nasional, Revolusi Agustus 1945, dan Gerakan Mei 1998.
Di bawah sistem penindasan Setengah Jajahan- Setengah Feodal (SJ-SF), masa depan mereka menjadi suram di lapangan  ekonomi, politik dan kebudayaan sehingga tidak memberikan tempat bagi pengembangan diri untuk belajar  dan bekerja yang benar dan terjamin. Kepentingan sosial-ekonomi mereka sangat berkepentingan terhadap tersedianya lapangan pekerjaan dan pendidikan yang patriotis, ilmiah, demokratis, dan kerakyatan.

  1. II.   Problem Umum dan Khusus Pemuda Mahasiswa
    1. A.     Keadaan umum pemuda
Secara umum, krisis umum imperialisme membuat keadaan rakyat di negeri-negeri terjajah/SJ-SF mengalami krisis kronis yang berkepanjangan. Krisis di negara-negara industri kapitalis adalah akibat langsung dan tidak terhindarkan dari kesenjangan ekonomi dunia. Krisis tersebut berbentuk bertumpuknya kelebihan produksi barang-barang hasil industri, khususnya barang-barang teknologi tinggi dan persenjataan, yang tidak terjual seluruhnya di pasar dunia. Krisis ini kemudian disebut sebagai krisis overproduksi  yang melahirkan kesenjangan ekonomi, di mana daya beli masyarakat dunia tidaklah merata, dan kemiskinan yang menjalar di mana-mana.
Besarnya kelebihan produksi di negara-negara industri yang tidak bisa diputar dalam perdagangan menyebabkan lahirnya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami oleh kaum buruh di negeri-negeri imperailis atas nama penghematan. Akan tetapi, usaha penghematan tersebut berujung pada tumpukkan kelebihan barang hasil industri yang tidak terbendung. Keadaan tersebut menyebabkan negara-negara industri imperailis kerap memaksa rakyat di negeri-negeri terjajah dan bergantung untuk membeli kelebihan barang hasil industri negeri-negeri imperialis. Ada tiga kepentingan imperialis terhadap negeri Terjajah/SJ-SF, yaitu: (1) kepentingan untuk menguasai kekayaan alam; (2) kepentingan untuk mengeksploitasi tenaga kerja murah yang berlimpah; (3) kepentingan untuk memasarkan atau membuang kelebihan barang dagangannya. Usaha demikian yang dilakukan untuk  menyelamatkan diri dari krisis ekonomi yang terus-menerus dan usaha itu juga tidak bisa membuat imperialis lepas dari krisisnya.
Kaum kapitalis monopoli atau imperialis mengutak-atik teori dan metode untuk menyelamatkan diri. Untuk itu, mereka meningkatkan intensitas penghisapan terhadap klas buruh dan rakyat pekerja lainnya dan mengembangkan sikap agresi perang dengan kedok “demokrasi”, “tatanan ekonomi yang berkeadilan” dan “hak asasi manusia (HAM)”. Kekuatan produktif terbaik di dunia ini, klas buruh, di negeri-negeri imperialis dan terjajah/SJ-SF mengalami kehancuran  melalui serangkaian PHK, pemotongan upah, dan penambahan jam kerja. Kaum tani semakin kehilangan tanahnya, tercekik riba dan hutang, dan meningkatnya biaya sewa tanah. Sementara itu, borjuasi kecil perkotaan semakin kehilangan uangnya akibat kenaikan harga barang dan pungutan kapitalis birokrat (kabir) setiap hari, sedangkan pelajar dan mahasiswa mengalami masa depan yang suram karena biaya pendidikan yang semakin mahal. 
Di bawah dua sistem penghisapan dan penindasan, pemuda Indonesia memiliki masalah umum yang sama dengan rakyat selain masalah khusus utama, yaitu: Pendidikan dan pekerjaan. Masalah umum dan khusus tersebut hanya didapatkan oleh pemuda dari klas-klas tertindas—seperti: buruh, tani, klas menengah—pengusaha dan pedagang menengah—dan borjuasi kecil lainnya—yang bertentangan dengan kaum muda dari klas berkuasa, yakni: borjuasi besar (komprador) dan tuan tanah. Oleh karena itu, pengertian Pemuda Indonesia dalam perjuangan demokratis nasional saat ini adalah mereka yang tertindas oleh dua sistem penindasan: imperialisme dan feodalisme.
  1. B.      Hancurnya tenaga produktif Indonesia
Begitu besar cita-cita pemuda sehingga mereka berharap bisa mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah atau universitas negeri. Alasan yang dominan atas pilihan tersebut adalah biaya murah yang bisa dijangkau seluruh lapisan klas dan jaminan kualitas pendidikan yang bermutu. Akan tetapi, pemerintah reaksioner ini semakin melepaskan kewajibannya untuk menjamin penyelenggaraan pendidikan yang terjangkau.
Kediktaturan borjuasi besar komprador dan tuan tanah ini lebih memilih memangkas subsidi pada sektor-sektor publik untuk alokasi investasi besar anti rakyat yang menguntungkan imperialis dan kaki tangannya di dalam negeri. Keadaan demikian membuat angka partisipasi sekolah sangat rendah.
Pada tahun 2008, angka partisipasi sekolah usia 16-18 tahun, untuk laki laki tercatat sejumlah  66,31 persen, sementara perempuan sejumlah 56,82 persen. Sementara itu, anak buruh dan kaum tani—di usia sekolah—yang mendapatkan pendidikan hanya sekitar 20 persen dari seluruh peserta pendidikan formal. Karena itu, banyak anak buruh dan kaum tani hanya mampu bersekolah pada level SD dan SMP saja, bahkan yang tidak tamat karena masalah biaya pendidikan yang mahal. Nasib yang sama dirasakan juga oleh pemuda yang berlatarbelakang borjuasi kecil perkotaan seksi bawah.  Akibat dari biaya pendidikan yang tinggi, banyak dari pemuda-pemuda ini tidak sanggup bersekolah, dan kemudian terlibat dalam kegiatan-kegiatan anti-sosial, seperti menggunakan narkoba, terlibat dalam pencurian dan pelacuran, bergabung dengan gang, dan lain-lain.
  1. C.      Problem Khusus pemuda mahasiswa
Pemerintah tuan tanah besar komprador ini berulangkali membuat usaha bagi rakyat agar mudah mendapatkan pendidikan, namun yang terjadi malah sebaliknya, pendidikan semakin menjauh dari rakyat. Banyak program dan aturan yang dikeluarkan, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), dan lain lain, tetapi tidak bisa memecahkan problem secara integral, sehingga tingginya angka putus sekolah dan lemahnya akses terhadap perguruan tinggi tetap menjadi cerita klasik. Kediktaturan ini semakin menunjukkan watak kapitalis birokratnya dengan intensif mencoleng uang subsidi rakyat untuk membiayai krisisnya dan mengeruk uang rakyat sebesar-besarnya melalui penyelenggaraan pendidikan yang mahal untuk meningkatkan kapitalnya. Selain itu, mereka membuat kelembagaan “demokratis” yang hakekatnya palsu—seperti Komite Sekolah, Wali Amanah, dll—dalam memecahkan masalah pendidikan setempat yang ditujukan melegitimasi ketidakmampuan pemerintah dan menyerahkan pemecahannya kepada masyarakat—dengan label partisipasi publik, transparansi dan akuntabilitas. Padahal komposisi lembaga itu dikuasai para kapitalis birokrat dan tuan tanah.
Masalah sosial ini yang tidak akan pernah terpecahkan telah berlangsung lama sejak negeri ini jatuh dalam dominasi imperialisme dan feodalisme. Ciri khusus penindasan setengah feodal yang berbasis sosial adalah pada monopoli tanah oleh tuan tanah dan borjuasi besar komprador, produksi skala besar pada eksploitasi agraria yang berorientasi ekport, dan ekonomi barang dagangan di sektor agraria; membentuk arah orientasi kebudayaan yang melegitimasi penindasan setengah feodal. Di sisi lain, dominasi imperialisme memasuki wilayah penyelenggaraan pendidikan di dalam negeri sebagai sebuah investasi yang menguntungkan bagi borjuasi besar dan kabir.
Pada lapangan kebudayaan ini, pelajar dan mahasiswa diajarkan dan menerima teori-teori lama yang tidak relevan dengan kondisi sosial di negeri ini. Pengetahuan yang ditransformasilan ditujukan menghasilkan para pekerja tidak terampil untuk mengisi industry-industri manufaktur milik imperialis. Di bidang ilmu sosial, pelajar dan mahasiswa diajarkan ilmu menyesuaikan kebutuhan “globalisasi” melalui peningkatkan SDM yang berlimpah dengan slogan ‘keunggulan komparatif’, yakni sumber agraria dan tenaga kerja yang melimpah, kreatifitas dan kewirausahaan, prefesionalitas ala borjuasi. Selain itu, pelajar dan mahasiswa dipaksakan untuk menerima ‘demokrasi’  ala imperialis dan sarana-sarana demokrasi yang terinstitusionalkan sebagai bentuk masyarakat beradab, tanpa mempersoalkan akar krisis yang menyebabkan kehancuran masyarakatnya. Dalam menjawab persoalan kemiskinan, hanya jawaban yang diberikan hanya sebatas aspek solidaritas sosial yang semu; persoalan korupsi yang merajalela disempitkan sebagai masalah ahklak; krisis finansial dibatasi sebagai buah spekulasi yang berlebihan; masalah penyakit sosial disimpulkan sebagai kekeringan iman dan jauh dari ajaran agama.
Salah satu keburukan terbesar yang diajarkan oleh nilai-nilai kapitalis dan feodal adalah pemisahan di antara pengetahuan dan pengalaman praktis. Semua pengetahuan yang disebarluaskan oleh klas penindas mengandung kebohongan yang amat merusak dan munafik, kemudian membentuk gambaran palsu masyarakat kapitalis yang dibesar-besarkan sebagai masyarakat yang sejahtera, demokratis dan berkeadilan.  Dalam sistem pendidikan ini, generasi pemuda dari buruh dan tani tidak mendapatkan pendidikan yang baik dibandingkan mereka yang dididik dalam kepentingan kaum borjuasi besar dan tuan tanah. Pemuda tani dan buruh dilatih dalam cara tertentu untuk menjadi pelayan yang berguna bagi klas penindas sehingga mampu menciptakan keuntungan selama hal tersebut tidak menggangu kedamaian milik imperialis, komprador dan tuan tanah. Dengan demikian, pelajar dan mahasiswa diajarkan untuk menghianati tanah airnya, bersikap anti ilmiah, anti proletariat dan klas pekerja lainnya, serta tidak demokratis.
Pelajar dan mahasiswa tidak akan pernah mendapatkan kebebasan akademik dan hak demokratis lainnya. Situasi krisis yang berwatak kronis di negeri SJ-SF akan membatasi hak demokratis pelajar/mahasiswa. Kekuasaan fasisme akan semakin bertumbuh seiring dengan krisis kronis yang berkepanjangan sehingga hak-hak politik akan semakin dikekang dan ruang demokratis di lembaga pendidikan tidak akan pernah ada. Pihak kapitalis birokrat akan semakin banyak menciptakan aturan yang membatasi hak politik pelajar/mahasiswa dan tidak segan-segan berlaku keras, seperti memberikan sanksi akademik, drop-out (DO), hingga kriminalisasi setiap tuntutan demokratis, kritik, dan aksi massa.
Kita bisa melihat buah dari sistem pendidikan telah banyak melahirkan pengangguran. Dari 110 juta lebih angkatan kerja (data tahun 2008), hanya 5,5 persen lulusan dari perguruan tinggi, SD ke bawah 58 persen, SMP/SMU 37 persen; yang bisa bekerja di segala sektor dengan status pekerja tetap dan serabutan. Sementara itu, pemuda calon pekerja yang berusia 15-24 tahun sebesar 56 persen adalah pengangguran. Pada tahun 2009, tercatat 4,1 juta, atau sekitar 22,2 persen dari 21,2 juta angkatan kerja menganggur (Bappenas). Angka ini dinilai akan terus melonjak seiring dengan krisis global dan masuknya Indonesia dalam sejumlah kesepakatan perdagangan bebas, termasuk China-Asean Free Trade Agreement (ACFTA) yang mulai berlaku tahun 2010.
Pemuda tani dan buruh semakin sulit untuk mempertahankan hidupnya dengan situasi demikian. Mayoritas pemuda di pedesaan terhisap pada relasi setengah feodal yang membutuhkan tenaga kerja murah dan alat kerja terbelakang semata.  Pengetahuan dan kapasitas pekerja—di pedesaan dan perkotaan—dibelengu  oleh alat kerja terbelakang yang tidak membutuhkan pekerja terampil dan pengetahuan. Dengan demikian, lapangan pekerjaan  hanya dapat menampung sedikit tenaga kerja sehingga terjadi persaingan memperebutkan lapangan pekerjaan yang terbatas yang mengakibatkan mereka menjual tenaga dengan harga murah. Banyak pemuda tani pergi ke kota untuk mencari pekerjaan—buruh pabrik atau pekerja serabutan—untuk memperbaiki nasibnya, tetapi banyak dari mereka kembali ke desa akibat PHK, tak ada lapangan pekerjaan, atau usaha dagang kecil-kecilan yang mengalami kebangkrutan. Keadaan demikian menjadikan banyak pemuda desa—laki-laki dan perempuan—mengadu nasib sebagai buruh migran yang jumlahnya telah mencapai 6 juta lebih dan tersebar di berbagai negeri. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja yang tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan tinggi yang bekerja di sektor perkebunan, pertambangan, pekerja rumah tangga, dan pabrik-pabrik.
Penghisapan dan penindasan tersebut menjadikan pemuda tani dan buruh juga mengalami keterbelakangan secara budaya, sama halnya yang dialami pelajar dan mahasiswa. Akan tetapi, keterbelakangan budaya di pedesaan lebih tinggi akibat dominasi politik, ekonomi dan budaya sisa-sisa feodal yang dipertahankan oleh klas-klas reaksi, yakni tuan tanah dan kapitalis birokrat. Untuk menjaga pengaruh dominasi feodalisme, para tuan tanah mempertahankan seperangkat alat kebudayaan yang dibungkus atas nama: “adat dan nilai-nilai luhur nenek moyang” serta agama. 
Dari masalah diatas maka Pemuda Indonesia secara khusus mengalami penindasan dua hal, yaitu :
  1. Lapangan ekonomi; Tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dan tetap sehingga banyak kekuatan produktif pemuda menjadi pengangguran dan sebagian hanya terserap di pekerjaan serabutan.

  1. Lapangan kebudayaan:
a)     Tidak bisa mendapatkan akses pendidikan di setiap level—terutama pemuda yang   berlatar belakang klas keluarga buruh, buruh tani/tani miskin/tani sedang bawah, serta borjuasi kecil perkotaan seksi bawah—karena tingginya biaya pendidikan dan tidak menjangkau ke seluruh rakyat—terutama di perkampungan dan pedalaman desa.
b)      Pendidikan yang berorientasi untuk mengabdi penindasan imperialisme dan feodalisme sehingga berwatak pro imperialis dan tuan tanah, anti ilmiah, anti demokrasi, dan anti massa rakyat. Dengan keadaan demikian, lembaga pendidikan menjadi benteng reaksi yang keras terhadap tuntutan demokratis—seperti: kebebasan akademis, kebebasan berorganisasi, dll.
  1. III.    Orientasi dan Peranan Gerakan Pemuda Mahasiswa Dalam Perjuangan Demokratis Nasional
Dalam tingkat perkembangannya dewasa ini, Perjuangan rakyat Indonesia berwatak demokratis, anti-feodalisme dan nasional, anti-imperialisme. Perjuangan ini bertujuan untuk meruntuhkan kekuasaan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme yang diwujudkan dalam pemerintahan boneka Republik Indonesia, yang pada hakekatnya adalah kekuasaan bersama borjuis besar komprador dan tuan tanah. Perjuangan ini adalah pembebasan nasional melawan dominasi ekonomi, politik, militer, dan budaya imperialisme yang mempunyai misi perjuangan kelas untuk melaksanakan reforma agraria dan pembangunan industri nasional untuk meningkatan kualitas tenaga produktif. Dan reforma agraria adalah hakekat dari perjuangan demokratis nasional yang bertujuan terbentuknya negara yang memiliki tatanan masyarakat, ekonomi dan kebudayaan yang anti feodalisme dan imperialisme
Masalah umum  dan khusus—yakni pendidikan dan pekerjaan—menjadikan gerakan pemuda mahasiswa bertalian erat dengan program perjuangan demokratis nasional. Gerakan pemuda mahasiswa harus mengabdi pada tujuan-tujuan perjuangan bersama klas pokok, yakni buruh dan tani, serta rakyat tertindas lainnya untuk mencapai demokrasi, ekonomi, dan kebudayaan yang berwatak anti imperialisme dan feodalisme. Mahasiswa adalah salah satu sektor yang ditempati oleh pemuda secara umum yang memiliki ciri-ciri khusus: dinamis, aktif, dan mobilitas yang tinggi—di sinilah mahasiswa memiliki andil sebagai pemuda untuk menjadi tulang punggung yang penting dari tenaga penggerak perjuangan dalam membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakan jutaan massa rakyat. Tentunya, segala usaha perjuangan pemuda mahasiswa bersandarkan pada persekutuan pokok buruh dan tani, di bawah kepemimpinan klas buruh. Jika gerakan pemuda mahasiswa menentang persekutuan pokok buruh dan tani dibawah kepemimpinan proletariat maka ia berarti melawan perjuangan demokratis nasional.
Aktivis massa pemuda mahasiswa hanya bisa dibuktikan ketika bersedia mengintegrasikan diri dengan buruh, tani, dan lapisan klas tertindas lainnya. Dengan cara demikian pemuda mahasiswa dapat membajakan daya orientasinya di tengah kepungan tindasan politik, penghisapan ekonomi, dan keterbelakangan budaya yang dipelihara dua sistem penindasan yang telah sekarat. Ia hanya akan maju jika menempa cara belajar yang maju yakni memadukan pengetahuan dan pengalaman praktis dalam perjuangan melalui langgam organisasi yang benar, yaitu: memadukan teori dengan praktek, berhubungan erat dengan massa, dan menjalankan kritik-otokritik. Demikianlah cara yang dapat memajukan aspek kebudayaan pada pemuda mahasiswa yang ditandai sikap patriotik, demokratik dan militan.
Krisis kronis yang makin mendalam secara obyektif membangkitkan protes massa dimana-mana akibat penindasan dan penghidupan massa yang makin merosot. Ada tiga macam bentuk yang berkembang di massa saat ini, yaitu: Pertama, gerundelan; Sebuah sikap protes yang dinyatakan secara spontan melalui celetukan dan pembicaraan lepas mengenai ketidakpuasan atas situasi sosial atau kekuasaan yang tidak pro rakyat. Bentuk ini yang paling dominan berkembang di rakyat. Kedua, aksi massa spontan; Sebuah bentuk kesadaran yang lebih baik dari gerundelan dengan ditandai adanya tindakan yang ditujukan pada sasaran protes atau bersikap membangkang secara massal tetapi aksi tersebut bersifat spontan, tidak terorganisasi, dan terpimpin. Jika aksi massa ini tidak terorganisasi dan terpimpin baik maka perlawanan tersebut tidak akan bisa berkesinambungan dengan program yang tepat. Dampaknya gerakan massa itu akan mudah dipukul, mengalami demoralisasi, atau dimanfaatkan oleh klas reaksi. Ketiga, aksi massa yang terorganisasi; Pada tingkat ini, massa telah terorganisasi dengan dipimpin oleh program perjuangan—yang demokratis atau reformis. Jumlahnya jauh lebih kecil jika dibandingkan dua bentuk sebelumnya. Aksi massa yang terorganisasi ini juga masih dibagi menurut keadaannya, orientasinya, dan program perjuangan.
Sebagai bagian dari massa rakyat, banyak pemuda mahasiswa saat ini juga terlibat dalam aksi-aksi massa yang bersifat spontan atau terorganisasi. Penindasan melahirkan perlawanan yang berbuah munculnya organisasi-organisasi massa (ormas) yang memiliki kaum muda yang besar di kalangan klas buruh, tani, pelajar dan mahasiswa, serta kaum miskin kota. Mereka mengajukan tuntutan-tuntutan demokratis—di kampus-kampus, kampung-kampung di kota, desa, pabrik—akibat keadaan hidup yang makin merosot dan tidak ada jaminan terpenuhinya hak-hak sosial ekonomi dan politik, seperti: mendapatkan pekerjaan yang layak, jaminan untuk bertempat tinggal dan perumahan yang layak, pelayanan dan fasilitas publik yang memadai, pendidikan gratis, penurunan harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi, pendidikan gratis dan mudah diakses, jaminan kesehatan yang murah, kenaikan upah, tuntutan mendapatkan tanah bagi tani, kebebasan berorganisasi dan berpendapat, dll.
Hal tersebut adalah situasi yang mengembirakan dan memberikan massa depan perjuangan demokratis nasional yang pasti akan tumbuh dan meluas membakar kesadaran massa. Seperti pepatah yang mengambarkan keadaan itu: “Sekecil-kecilnya percikan api dapat membakar padang ilalang.”  Keadaan obyektif ini harus dimanfaatkan pemuda mahasiswa sebaik-baiknya untuk mengorganisasikan diri ke dalam ormas demokratis dalam perjuangan legal demokratis dalam menyokong perjuangan reforma agraria. Perjuangan diarahkan secara intensif, militan, dan terorganisasi untuk bisa membangkitkan, menggorganisasikan dan menggerakan pemuda mahasiswa dan massa rakyat tertindas yang luas serta tersebar. Pekerjaan ideologi, politik dan organisasi menjadi kesatuan yang membimbing arah yang tepat sehingga bisa menarik massa luas, merangkul unsur termaju, dan  memblejeti politik klas reaksioner di setiap front perjuangan.
Sejarah telah menunjukkan peran penting pemuda mahasiswa dalam perjuangan massa. Gerakan Mei 1998 yang dimotori mahasiswa berhasil menjatuhkan kediktaturan fasisme Soeharto yang telah berkuasa 30 tahun. Walaupun tuntutan mahasiswa adalah reformasi yang bersifat borjuasi tetapi telah memberikan syarat-syarat bagi tumbuh berkembangnya gerakan proletariat dan klas tertindas lainnya dalam aksi-aksi terbuka dan berani serta munculnya banyak ormas yang tampil terbuka. Gerakan Mei 1998 memang tidak bersandarkan program perjuangan demokratis nasional dan keterlibatan klas-klas pokok, buruh dan tani, sehingga buah kemenangan itu diambil oleh kepemimpinan klik-klik komprador anti Soeharto dan beberapa kelompok reformis. Akan tetapi, ia merupakan buah dari segala perjuangan massa yang dipelopori pemuda mahasiswa selama puluhan tahun melalui aktivitas bawah tanah organisasi-organisasi tingkat kampus dan kota yang selalu menghadapi represi politik. Dari hasil otokritik pemuda dan mahasiswa terhadap kegagalan Gerakan Mei 1998 maka beberapa aktivis pemuda melakukan pembetulan dengan mengintegrasikan dirinya ke massa buruh dan tani untuk membangun kekuatan dari kedua klas pokok tersebut. Hasil pekerjaan itu telah melahirkan ormas-ormas buruh, tani, pemuda/mahasiswa, dan perempuan yang berwatak demokratis-nasional. Hasil tempaan itu telah melahirkan beberapa aktivis massa dari kalangan pemuda/mahasiswa, buruh, tani yang menyatukan diri—di lapangan ideologi, politik dan organisasi—dalam organisasi pelopor yang berideologi klas buruh dan mengobarkan perjuangan demokratik nasional, dan bersandarkan disiplin baja klas buruh.
Demikian juga, peranan pemuda sangat besar dalam gerakan pembebasan nasional pada masa awal abad 20 dengan terbentuknya ormas-ormas (SI, serikat buruh dan tani) dan partai. Sebagian pemuda—intelektual, buruh dan tani—yang ditempa dalam perjuangan revolusioner melawan kolonialisme Belanda membangun organisasi detasemen tertinggi klas buruh, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI), pada 23 Mei 1920. PKI adalah organisasi pertama yang memiliki program perjuangan pembebasan nasional yang konkret dan bersandarkan ideologi klas buruh, dan juga Partai yang pertama kali dan satu-satunya yang memimpin perjuangan rakyat bersenjata nasional (1926) pada masa itu. PKI adalah anak zaman yang lahir dari masa kapitalisme berada pada tahap tertinggi yang sekarat (imperialisme) dan revolusi proletariat dunia yang telah ditandai dengan kemenangan Revolusi Besar Proletariat Oktober di Rusia (1918).
Selain sebagai tenaga muda yang progresif, mereka memiliki peranan penting dalam berkobarnya Revolusi Agustus 1945, baik menjadi anggota dari laskar-laskar rakyat ataupun  organisasi-organisasi massa lainnya—seperti organisasi  massa buruh, dan lainnya. Peranan pemuda dalam sejarah perkembangan Indonesia dari waktu-ke waktu sangat aktif dan menentukan.
Oleh karena itu, gerakan pemuda mahasiswa demokratis harus membangun organisasi pemuda mahasiswa sejati yang mengobarkan perjuangan demokratis di perjuangan legal-demokratis. Dalam perjuangan demokratis nasional di Indonesia, pemuda mahasiswa harus menjadi komponen yang aktif. Gerakan pemuda demokratis adalah gerakan yang berbasiskan oleh aliansi dasar kelas buruh dan kaum tani dengan pimpinan proletariat. Hanya dengan demikian bisa membawa pemuda mahasiswa dan massa rakyat luas keluar dari penghisapan dan penindasan yang menyebabkan krisis kronis yang berkepanjangan di negeri kita.
  1. IV.   Tuntutan Perjuangan dari Gerakan Pemuda Mahasiswa
Secara khusus, tuntutan perjuangan gerakan pemuda mahasiswa adalah memperjuangkan Sistem Pendidikan Nasional yang Ilmiah, Demokratis, dan Mengabdi kepada Rakyat. Pendidikan yang ilmiah bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk memajukan tingkat pemikiran sekaligus kebudayaan rakyat dan bangsa Indonesia sesuai dengan kenyataan kongkret rakyat Indonesia. Pendidikan yang demokratis bertujuan agar seluruh rakyat Indonesia mampu mengakses dan menjangkau pendidikan. Sedangkan pendidikan yang mengabdi kepada rakyat bertujuan memberi kontribusi langsung untuk memajukan kebudayaan nasional dan tenaga produktif rakyat Indonesia. Sehingga pendidikan kemudian tidak lagi mengabdi kepada imperialisme dan kaki tangannya. Untuk mewujudkan semua itu, FMN menjabarkan usaha-usaha perjuangannya dalam sejumlah program, yang meliputi tuntutan atas:
  1. Biaya kuliah murah
  2. Peningkatan fasilitas pendidikan di kampus
  3. Kebebasan berpendapat dan berorganisasi di kampus
  4. Penghentian represifitas terhadap mahasiswa
  5. Pemberantasan segala bentuk pungutan liar di kampus
  6. Pelibatan mahasiswa secara menyeluruh dalam menentukan kebijakan kampus
  7. Transparansi pengelolaan dana operasional kampus
  8. Peningkatan kesejahteraan dosen, karyawan dan guru
  9. Pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia
10.  Lapangan pekerjaan bagi sarjana dan pemuda
11.  Pemberantasan korupsi di dalam dunia pendidikan
12.  Pemberantasan buta huruf, dll.

Sementara secara umum perjuangan gerakan pemuda mahasiswa secara strategis dijabarkan sebagai berikut:
1.)    Ekonomi
  1. Berjuang untuk mendapatkan hak-hak sosial ekonomi di dalam kampus.
  2. Berjuang untuk mendapatkan jaminan pekerjaan yang tetap dan penghidupan yang layak serta melawan segala bentuk diskriminasi—jenis kelamin, ras,  suku bangsa, dan agama—dalam bekerja.
  3. Memperjuangkan perbaikan kondisi kerja dan penghidupan yang layak bagi kelas buruh. Yaitu: menaikkan upah buruh sesuai dengan kondisi ekonomi yang ada, menuntut pelaksanaan 8 jam kerja sehari, dan pemenuhan tunjangan dari keuntungan yang diambil oleh para kapitalis.
  4. Menuntut diselenggarakannya land reform yang sejati dan terlibat aktif dalam perjuangan reforma agraria di pedesaan.
  5. Menuntut segara dilaksanakan pembangunan industri nasional yang selama ini dikuasai oleh imperialis dan borjuis komprador, dan melaksanakan pembangunan industri yang berbasis pada kepentingan nasional.

2.)    Politik

  1. Melawan segala bentuk kebijakan birokrasi di kampus yang tidak berpihak pada mahasiswa
  2. Melawan segala bentuk kebijakan pemerintah reaksioner yang dikuasai oleh diktator bersama borjuis besar dan tuan tanah yang pada hakekatnya boneka imperialis.
  3. Turut serta dalam pembangunan Ormas Rakyat Indonesia yang berwatak demokratis nasional, sebagai front rakyat anti-imperialis dan anti-feodal dengan aliansi dasar buruh-tani di bawah pimpinan proletariat.
  4. Berjuang untuk mendapatkan kesempatan yang luas dalam lapangan politik.

3.)    Budaya

  1. Mendorong terciptanya sistem pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat.
  2. Berjuang mendapatkan kesempatan pendidikan yang terjangkau di setiap level pendidikan bagi seluruh klas tertindas
  3. Mendukung, memprogandakan, dan mengembangkan kebudayaan patriotik, demokratis, ilmiah dan kerakyatan.

Rabu, 02 November 2011

Metode Memaknai Nash Syara’

Terdapat metode tersendiri untuk memberi makna nash-nash syara’ (ayat al-Qur`an dan hadits Nabi). Metode ini digali dari kaidah bahasa Arab dan juga dari nash-nash syara’ itu sendiri. Adapun metode yang digali dari kaidah bahasa Arab, terumuskan dalam kaidah: “al-Ashlu fil kalam al haqiqah, wa laa yushrafu ilal majaaz illa bil qarinah”



Pada dasarnya pembicaraan/ucapan itu harus diartikan lebih dahulu secara makna hakiki (sebenarnya), dan tidak dialihkan kepada makna majazi (kiasan/metaforis) kecuali dengan adanya qarinah (indikasi).” Kata “asad” misalnya, makna hakiki-nya adalah harimau. Tapi dalam kalimat “ra-aytu asadan fil mimbar” (saya melihat “harimau” di atas mimbar) kata “asad” mempunyai makna majazi, yaitu rajulun syujaa’ (lelaki yang gagah berani). Sebab ada qarinah yang mengalihkannya dari makna hakiki menjadi makna majazi, yaitu potongan kalimat “fil mimbar” (di atas mimbar).

Sudah diketahui, tak ada harimau yang bisa bicara di atas mimbar. Maka arti “asad” bukan hewan yang dikenal, tetapi manusia yang sifatnya seperti harimau, yakni gagah berani. Jadi, karena nash-nash syara’ adalah berbahasa Arab, maka terlebih dahulu harus diartikan secara hakiki. Baru bila tidak memungkinkan atau jika ada qarinah, diartikan secara majazi.
Lebih jauh, pemberian makna hakiki mengikuti urutan (tertib) sebagai berikut:
  1. Makna hakiki syar’i, lalu
  2. Makna hakiki urfi, lalu
  3. Makna hakiki lughawi.
Ketiganya adalah makna hakiki. Jika ketiganya tidak atau belum bisa memaknai suatu nash syara’, maka barulah suatu nash syara’ diartikan secara majazi. Makna hakiki syar’i adalah makna hakiki (bukan majazi) yang telah dialihkan dari makna lughawi-nya, dikarenakan nash-nash syara’ telah memberikan tambahan makna yang lebih dari sekadar makna bahasanya. Contohnya adalah kata (lafazh) sholat, shaum, zakat, haji, jihad, islam, iman, dan sebagainya.
Kata sholat secara lughawi (yang diambil dari kamus bahasa Arab) artinya adalah ad du’a (doa). Tapi nash-nash syara’ (khususnya hadits) telah menjelaskan tatacara Nabi sholat, sehingga kita tidak dapat lagi mengartikan nash syara’ yang menyebut “sholat” dengan arti bahasanya (doa), sebab sudah tambahan makna dari sekadar makna bahasanya. Sholat secara syar’i lalu diartikan suatu kumpulan perbuatan dan perkataan (doa) yang diawali takbir dan diakhiri salam. Kata shaum secara bahasa, sebagaimana terdapat dalam kamus bahasa Arab, artinya adalah imsaak (menahan diri). Tapi nash-nash syara’ (al-Qur`an khususnya al-Baqarah: 187) dan juga hadits-hadits nabi memberikan makna tambahan dari kata shaum itu, yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan hal-hal yang membatalkan shaum dari shubuh sampai malam (maghrib) disertai niat. Inilah makna syar’i dari shaum.
Jika suatu kata telah memiliki makna syar’i, maka ia tidak boleh diartikan lagi secara lughawi, kecuali terdapat qarinah yang tidak memungkinkan pemberian makna secara syar’i. Dalam keadaan demikian, kata itu diartikan kembali ke makna asal (secara lughawi). Misalkan kata “sholat” dalam at-Taubah: 103, “wa shalli alayhim” tidak dapat diartikan (sholatlah kamu atas mereka), tetapi (berdoalah kamu untuk mereka). Sebab ayat yang ada tidak sedang menjelaskan masalah sholat (secara syar’i) tetapi pemungutan zakat, yaitu disunnahkan bagi pemungut zakat untuk mendoakan (bukan menyolatkan) para muzakki setelah mengambil zakat dari muzakki.
Adapun makna hakiki urfi adalah makna hakiki (bukan majazi) yang telah menjadi urf (kebiasaan) orang Arab dalam mengartikan suatu kata. Contohnya kata daabbah dan ghaaith. Kata dabbah makna lughawi-nya adalah segala makhluk yang melata di muka bumi (termasuk hewan dan manusia). Namun secara urfi orang Arab lalu menggunakan kata daabbah dalam arti dzawatul arba’ (hewan berkaki empat) seperti sapi, tidak termasuk manusia. Ghaaith arti lugawinya adalah al makanul munkhafidh (tempat yang rendah). Tapi secara urfi lalu digunakan untuk buang air (qadahul hajah).
Jadi dalam makna urfi, makna lughawinya tidak dipakai lagi. Maka dari itu, kata “ghaith” dalam al-Qur`an (al-Baqarah: 43, al-Maidah: 6), tidak diartikan lagi sebagai “tempat yang rendah”, tetapi “buang air”.
Adapun makna hakiki lughawi adalah makna hakiki (bukan majazi) yang menunjuk pada arti asalnya secara bahasa. Contohnya, kata jaa’a (datang), dzahaba (pergi), as samaa’ (langit), al ardh (bumi), dan sebagainya banyak sekali.
Adapun mengapa urutannya harus makna syar’i, baru makna urfi, dan baru makna lughawi, hal ini disebabkan bahwa Rasulullah saw. diutus untuk menjelaskan syariat (li bayan asy syariah). Itu adalah asumsi dasarnya, dalam mengartikan nash-nash syara’. Sebab Allah berfirman: “Dan telah Kami turunkan kepadamu (Muhammad) adz-Dzikra (al-Qur`an) agar kamu menjelaskan apa yang diturunkan kepada mereka.” (QS an-Nahl: 44)
Maka dari itu nash-nash syara’ yang dibawa oleh Muhammad saw., yaitu ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi, wajib diartikan secara syar’i terlebih dahulu (seperti kata sholat). Jika nash-nash syara’ tidak memberikan arti secara syar’i, maka hendaklah diartikan lebih dahulu secara urfi (kalau ada), seperti lafazh ghaaith. Tidak langsung menuju makna lughawi. Karena faktanya penggunaan secara urfi telah mengubah makna dari makna asalnya (lughawi). Jika nash-nash syara’ belum dapat dimaknai secara urfi barulah diartikan secara makna lughawi. Jika ketiga urutan itu belum dapat juga memberikan arti pada suatu nash syara’, barulah diartikan secara majazi, agar suatu nash tidak tersia-siakan.
Demikianlah keterangan yang layak menurut ilmu ushul fiqih, seperti dapat dibaca dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyah Juz III karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kitab Taysir Wushul Ila Al Ushul karya Atha ibnu Kahlil, dan kitab al-Wadhih fi Ushul Fiqih karya Muhammad Husayn Abdullah.
Mengenai pertanyaan tentang lafazh jilbab, mengapa ia diartikan secara lughawi, dan bukannya secara syar’i atau urfi, itu disebabkan karena nash-nash syara’ dalam Qur`an dan Hadits tidak memberikan tambahan makna kepada makna jilbab. Maka makna lughawi-ah yang berlaku. Ini berbeda dengan lafazh jihad, sebab al-Qur`an dan al-Hadits telah memberikan tambahan muatan makna pada kata jihad, sehingga tidak memungkinkan lagi diartikan secara lughawi (bersungguh-sungguh, dan yang semakna), tetapi wajib diartikan sebagai ‘badzlul wus’i fil qital fi sabilillah’ (mengerahkan kesungguhan dalam perang di jalan Allah) ( Hasyiyah Ibnu Abidin).
Hal ini disebabkan nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah telah menggunakan kata jihad dalam arti perang (qital), bukan sekadar bersungguh-sungguh. Misalkan hadits Nabi, ketika para wanita bertanya kepada Nabi: “a alayna jihad? Qaala na’am jihaadun bilaa qitaal.” (“apakah ada kewajiban jihad bagi kami (wanita). Nabi menjawab, “Ya, yaitu jihad yang tanpa peperangan (maksudnya ibadah haji).”
Nabi, dalam hadits tersebut bermaksud menjelaskan kepada para wanita bahwa ada amalan yang bagi wanita sama pahalanya dengan jihad, yaitu ibadah haji. Dalam hadits itu terkandung makna, bahwa pada dasarnya jihad itu adalah dengan qital (perang). Perhatikan sabda Nabi “jihaadun bilaa qitaal” (jihad tanpa perang). Artinya, jihad tanpa perang itu maksudnya ibadah haji (jihad di sini bermakna majazi). Mafhumnya, bahwa pada dasarnya, yaitu jihad yang hakiki, bukan yang majazi, adalah jihad dengan perang (qital).
Inilah salah satu contoh nash syara’ yang memberikan makna jihad dalam arti qital (perang), bukan sekadar makna bahasanya. Dan nash yang lain cukup banyak. Silakan lihat kitab al-Jihad wal Qital fi as-Siyasah asy-Syar’iyah karya Muhammad Khayr Haikal, atau kitab al-Khalash wa Ilhtilafaun Nas karya Muhammad asy-Suwaiki.
Demikianlah sekilas penjelasan saya. Allah memberikan petunjuk kepada para hambanya yang ikhlas dan bertaqwa. [Muhammad Shiddiq Al Jawi]

Ngintip Dunia Intelejen

Dunia ini penuh dengan intelejen. Mulai dari Timur Tengah sampai Barat. Gimana sejarah mereka. Ada juga lho dinas rahasia yang kerja sama dengan organisasi kejahatan. Kok bisa?


Film-film soal spionase selalu ditunggu banyak orang. Selain Mr. Bond yang nongol lagi di Die Another Die bareng agen AS Jinx (Halle Bery), kemarin nongol Triple X yang dibintangi Vin Disel yang jadi agen rahasia Amrik yang nyentrik, terus Spy Game yang dimainin Brad Pitt bareng Robert Redford. Di tivi, dulu ada serial Nikita yang menceritakan aksi para agen rahasia lengkap dengan kehidupan pribadi mereka.
Tapi ngomong-ngomong kayak apa sih dunia intelejen itu? Bener mereka menghalalkan segala cara? Nah, supaya wawasan kamu nambah luas dan nambah waspada, penting banget untuk tahu dunia intelejen.

CIA; Kebanggaan AS
Ini dinas rahasia yang jadi kebanggaan pemerintah AS. CIA adalah akronim dari Central Intelligence Agency. Dibentuk tanggal 18 September 1947 dengan penandatanganan National Security Act (NSA) – badan keamanan nasional AS — oleh Presiden Truman. Waktu itu yang menjadi orang nomor satu di CIA adalah Lt. Gen. Hoyt S. Vandenberg, USA. NSA sendiri sudah berganti nama jadi DCI (Director of Central Intelligence). DCI inilah yang melakukan koordinasi, evaluasi, korelasi dan mengirim para agen-agen CIA termasuk ke luar AS untuk menjaga keamanan nasional. Sekarang, CIA dipegang oleh George J. Tenet.
Pada era perang dingin dengan Uni Soviet, tugas-tugas CIA lebih banyak diarahkan pada?  kontra-intelejen. Kini, CIA juga mulai menangani peredaran drugs, organisasi kejahatan internasional, perdagangan senjata gelap, dan yang paling hangat adalah kontra-teroris. Yang paling akhir ini sedang seru-serunya terutama setelah serangan 11 September 2001 yang menghancurkan gedung WTC.

Layaknya para agen rahasia di film yang memiliki peralatan canggih, CIA juga membekali para agennya dengan berbagai spy-kits. Untuk urusan ini ada Direktorat Sains dan Teknologi. Berbagai peralatan canggih yang pernah dipakai CIA baik pada masa awal kelahirannya sampai era perang dingin disimpan di Museum CIA yang terletak di McLean, negara bagian Virginia. Mulai uang logam satu dolar yang bisa menjadi ‘kontainer’ dokumen dan film, mesin pemecah kode bernama Enigma yang disetting untuk memberikan 150,000,000,000,000,000,000 jawaban (nah lho gimana tuh nyebutnya!), ada mikrodot kamera yang filmnya hanya bisa dibaca di bawah mikroskop. Itu sebagian peralatan intelejen yang dipakai pada tahun 50-60-an.
Salah satu operasi CIA yang berhasil adalah menjatuhkan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Ironinya, Megawati naik menjadi presiden justru didukung AS. That’s politic, baby!
? ?

MI6; Pelindung Inggris
Para penggemar film James Bond pastinya apal dengan nama yang satu ini. Yes, inilah kantornya si agen OO7. Psst, dua angka nol di depan angka 7 itu adalah izin dari MI6 (baca: em ai six) untuk menghabisi lawan-lawan mereka bila dianggap perlu. Apa yang ditampilkan dalam film-film Bond, yang kini udah genap berusia 40 tahun, sebagian adalah benar. Kok bisa? Iya dong, soalnya kreator James Bond, Ian Flemming, adalah mantan agen rahasia MI6. Setelah pensiun, ia lalu bikin novel tentang intrik dunia intelejen dengan tokoh fiktif bernama James Bond. Eh, laku bo!
Sebenarnya Kerajaan Inggris udah punya dinas rahasia yang dibangun oleh Duke of Wellington, Arthur Welleskey. But, untuk mengantisipasi perkembangan politik, militer dunia, serta keamanan Inggris Raya, dibentuklah Secret Intelligence Service atau yang juga dikenal dengan nama MI6 pada tahun 1909. Sebagai direktur ditunjuklah Mansfield George Smith Cumming, atau yang lebih dikenal sebagai “C” (yang dalam film James Bond diplesetkan sebagai ‘M’). Awalnya, keberadaan dinas rahasia ini bener-bener dirahasiakan dari publik, hanya PM Inggris dan pejabat tertentu saja yang mengetahuinya. Pemerintah selalu menyangkal keberadaan mereka walaupun dinas rahasia ini selalu memakai anggaran negara sebesar 70 juga pondsterling tiap tahunnya.
Menurut beberapa sumber, prestasi para agen MI6 ini terbilang cemerlang. Sejumlah operasi intelejen kontra Jerman dan Rusia sukses mereka jalankan pada Perang Dunia I dan II. Terutama pada PD I, saat SIS dipimpin oleh seorang spymaster yang bernama Mansfield George Smith Cumming. Berulangkali mereka berhasil mengalahkan Jerman.
Tapi sepandai-pandai tupai melompat, pasti ada saatnya jatuh. MI6 pernah ‘kecolongan’, mereka tersusupi oleh agen ganda yang bekerja untuk KGB. Peristiwa memalukan yang dikenal sebagai Insiden Venlo melibatkan sekelompok intelejen yang sukses mencuri data-data penting dari SIS. Kelompk yang dikenal sebagai Trinity College ini terdiri dari Anthony Blunt, Guy Burgess, Donald Maclean dan Kim Philby. Selama beberapa dekade mereka berhasil mengelabui kecanggihan dinas rahasia MI6.

KGB; Legenda Tua
Kepanjangan dari KGB adalah Komitet Gosudarstvennoi Bezopasnosti, alias Komite Keamanan Negara Pemerintah Soviet. Secara resmi, KGB bertanggung jawab pada Kabinet Soviet. Dalam sejarahnya, KGB adalah bentuk akhir dari dinas keamanan Soviet. Semula lembaga keamanan ini punya nama Vecheka yang eksis dari tahun 1917-1922. Vecheka itu singkatan dari Vserossiiskaya Chrezvychainaya Komissiya po Borbe s Kontrrevolyutsiei i Sabotazhem (weleh, ribet banget bacanya), yang artinya Komisi Khusus Orang Rusia untuk Melawan Kontra-revolusi dan Sabotase. Jelas banget, kalau KGB dijadikan alat oleh pemerintahan komunis untuk mengganyang siapa saja yang anti komunis, termasuk umat Muslim.
Uniknya, KGB terbagi menjadi dua yaitu USSR KGB dan Republican KGB. USSR KGB itu yang menangani seluruh kegiatan KGB di Uni Soviet, sementara Republican KGB bekerja di negara bagian masing-masing. Hubungan keduanya terbilang komplek. Republic KGB bertanggung jawab pada pemerintahan Republik dan pada USSR KGB. Tapi pengawasan seluruh kegiatan KGB ini dilakukan oleh USSR KGB. Bahkan, banyak orang percaya bahwa KGB-lah sebenarnya yang banyak mengendalikan pemerintahan.
Bagaimana kondisi KGB setelah kejatuhan Uni Soviet? Tidak banyak berubah. Bahkan kekuasaan KGB makin menjadi-jadi meski tidak terlihat, sampai-sampai KGB dijuluki “Hantu yang Paling Kuat”. Yang parah, banyak perwira KGB yang terlibat dalam organisasi kriminal di Rusia. Mereka juga menjual berbagai informasi pada para pengusaha, yang sebagian di antara mereka adalah mafia Rusia yang terlibat dalam penjualan senjata di pasar gelap. Inilah yang membuat Rusia terus terpuruk.

Mossad; Kanker Dari Israel
Inilah dinas intelejen yang dianggap menjadi ‘momok’ bagi dunia Islam. Sepak terjang mereka dalam ‘mengacak-acak’ sejumlah negeri Islam membuat Mossad diakui sebagai salah satu dinas intelejen terbaik di dunia. Mossad artinya adalah institut. Lembaga ini bertanggung jawab untuk intelejen, misi penyamaran dan kontra-teroris. Sampai sekarang fokus dari operasi Mossad adalah dunia Arab dan organisasi-organisasi Arab (dan Islam) di seluruh dunia. Mossad juga bertanggung jawab atas pemindahan warga Yahudi keluar dari Siria, Iran dan Ethiopia. Agen-agen Mossad juga aktif dalam pembentukan sejumlah negara komunis di Barat dan PBB.
Mossad dibentuk oleh Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion pada tanggal 1 April 1951, selain intelejen militer dan kontra-intelejen (Shin Beth). Pada pembentukannya Ben-Gurion berkata tujuan pendirian Mossad adalah, “Untuk negara kita yang sejak berdirinya telah berada di bawah ancaman musuh-musuhnya. Konstitusi intelejen adalah garis terdepan pertahanan…kita harus belajar dengan baik cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekeliling kita.”
Mossad berkantor pusat di Tel Aviv. Personil Mossad pada tahun 80-an diperkirakan berjumlah antara 1500 sampai 2000 orang. Direktur Mossad secara tradisional dirahasiakan, tapi pada bulan Maret 1996 Pemerintah Israel mengumumkan pada publik Major General Danny Yatom sebagai direktur Mossad menggantikan Shabtai Shavit yang pensiun di awal tahun 1996.
Mossad diduga bertanggung jawab atas sejumlah operasi intelejen di dunia, khususnya yang terjadi di seputar konflik Timur Tengah. Nggak heran karena mereka telah menempatkan umat muslim dan bangsa Arab sebagai ancaman utama bagi Israel. Gilanya, mereka memiliki satu klab malam di Libanon, The Star. Klab itu kerap menjadi ajang pertemuan para agen-agen Mossad.
Bidikan utama Mossad pastinya para aktivis gerakan Islam. Misalkan sepanjang tahun 70-an, Agen-agen Mossad membunuh para pejuang Islam dari PLO yang terlibat dalam peristiwa September Hitam yang menewaskan sejumlah atlit Israel pada olimpiade di Munchen, Jerman. Mossad juga yang menghancurkan kantor PLO di Tunis pada bulan April 1988, dan membunuh salah satu pejabat penting PLO, Abu Jihad.
Pada bulan Maret 1990 agen Mossad beraksi lagi. Kali ini korbannya adalah seorang ilmuwan asal Kanada Gerald Bull yang merancang Senjata Super untuk Irak. Bull dibunuh di apartemennya di Brussel, Belgia. Pembunuhan ini sukses menghentikan proyek pembuatan senjata tersebut.
Pada tanggal 24 September 1997 agen-agen Mossad berhasil membunuh Khalid Meshaal, salah seorang pimpinan puncak Hamas. Para pembunuh ini masuk ke Yordania dengan menggunakan paspor Kanada, kemudian menyergap Khalid dan menyuntiknya dengan racun yang mematikan.
But, semua operasi yang sukses dijalankan di atas bukanlah garansi kalo agen-agen Yahudi bajingan itu adalah manusia super. Banyak juga kegagalan tugas yang dijalankan para agen Mossad. Yang paling fatal dan memalukan adalah ketidakmampuan mereka mencegah terjadinya pembunuhan PM Yitzhak Rabin. Para agen Mossad kecolongan ketika seorang warga pengikut Yahudi ortodoks, bernama Yigal Amir membawa senjata dan menembak Rabin. Kejadian ini memaksa pemerintah Israel memecat direktur Mossad waktu itu, Shabtai Shavit, digantikan oleh Major Jenderal Danny Yatom.

Spionase A la Islam

Ada nggak sih intelejen dalam Islam. Ada dong! Bahkan Rasulullah saw. sudah melakukannya dari dulu. Nggak percaya? Baca aja


Bahasa Arab-nya spionase adalah tajassus (memata-matai). Ini sudah dilakukan oleh umat Muslim sejak dulu. Rasulullah saw. itu adalah seorang spymaster. Operasi intelejen yang dilakukan Rasulullah saw. dan kaum muslimin tidak saja dalam rangka mencuri informasi, tapi juga mengelabui musuh juga dengan memanipulasi informasi. Dalam Perang Khandaq ada seorang pria bernama Nu’aim bin Mas’ud dari kalangan musyrikin yang memeluk Islam di hadapan Rasulullah saw. Beliau kemudian memerintahkannya untuk kembali ke tengah pasukan musuh untuk memecah belah bala tentara musuh. Sabda Beliau, “Di antara kita, engkau adalah satu-satunya orang yang dapat melaksanakan tugas itu. Bila engkau sanggup, lakukanlah tugas itu untuk menolong kita. Ketahuilah bahwa peperangan sesungguhnya adalah tipu muslihat.”

Nu’aim pergi mendatangi Yahudi Bani Quraidlah dan meyakinkan mereka untuk tidak terlibat dalam peperangan melawan kaum muslimin sebelum mendapat jaminan dari Quraisy berupa beberapa orang terkemuka sebagai sandera, supaya kaum Quraisy tidak mundur dari peperangan meninggalkan mereka sendirian menghadapi kaum muslimin. “Engkau telah memberikan pendapat yang amat baik,” kata para pemimpin Yahudi Bani Quraidlah.

Kemudian Nu’aim mendatangi pemimpin-pemimpin Quraisy. Pada mereka Nu’aim menceritakan kalau Yahudi Bani Quraidlah menarik pasukannya. Mereka juga secara diam-diam telah membuat kesepakatan dengan Muhammad untuk menculik beberapa pemimpin Quraisy dan Ghathafan untuk diserahkan pada Muhammad dan dibunuh. Nu’aim juga berpesan agar mereka tidak menyerahkan seorang pun pada mereka.
Misi Nu’aim berhasil, akhirnya pasukan Yahudi Bani Quraidlah meninggalkan peperangan sehingga kekuatan musuh berkurang.

Bagi khilafah Islamiyyah, spionase ini adalah wajib untuk menjaga stabilitas negara dari rongrongan musuh, kaum kuffar. Akan tetapi negara diharamkan melakukan aktivitas spionase bagi warga negara, baik dari kalangan muslim ataupun kafir dzimmi. Meskipun dengan alasan mencegah terjadinya kejahatan. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.”(Al Hujuurat:12)
Mau jadi agen rahasia Muslim? Tunggu dulu daulah khilafah berdiri. Tapi jangan kayak James Bond yang playboy ya?
morzing.com dunia humor dan amazing!