Kita diajak untuk menelusuri secara lengkap seluk-beluk kehidupan Nabi saw. di Madinah dengan alur yang sistematis. Dewasa ini belum banyak novel yang menguraikan kehidupan Nabi saw. secara khusus di Madinah dengan lengkap dan kritis seperti halnya dengan novel ini.
Untuk membangun sebuah peradaban, Nabi saw. banyak membangunan fasilitas umum. Misalnya, pusat perekonomian, hutan lindung, kebun, sumur, dan lembah-lembah. Nabi juga mengajarkan kepada masyarakat sekitar untuk hidup bersama tanpa membedakan tingkat dan status sosial.
Aspek tidak kalah penting lainnya adalah ‘pembangunan’ sumber daya manusia. Nabi saw. ingin membangun tatanan masyarakat yang kukuh, memiliki solidaritas kuat dan hubungan sosial yang erat (hlm. 84). Semua aspek pembangunan di Madinah dilandaskan pada nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah.
Untuk memperoleh bangunan masyarakat baru tersebut, Nabi menyususn asas-asas pedoman hidup. Yaitu asas persamaan hak dan kewajiban pada seluruh tingkat masyarakat dan harus dipenuhi oleh setiap individu sesuai kedudukan masing-masing (halaman 87).
Dalam sendi politik, Nabi menyusun asas-asas negara yang akan mengalahkan imperium Romawi. Dalam sendi ekonomi, Nabi menegakkan kejujuran dan ekonomi berbasis kerakyatan. Nabi juga menyusun asas-asas hukum yang adil. Untuk itu Nabi membentuk lembaga, semacam menteri, ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Nabi sendiri sebagai kepala negara di Madinah. Hampir semua peristiwa dan momen-momen bersejarah terekam secara apik dalam novel ini.
Tidak dapat diragukan buku ini memiliki keunggulan yang profetik. Buku ini tidak hanya cocok bagi peminat sastra, tetapi juga relevan bagi penggila sejarah. Walaupun, kekecewaan akan dirasakan oleh para pengagum sastra, karena kita tidak akan menemukan bahasa yang menjulang dengan rangkaian keindahan dan majaz-majaz yang menghiasi. Jadi, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan. Demikian pandangan Ahmad Suhendra atas buku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar