Zaman jahiliah, pada umumnya masyarakat Toraja, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, menganut
paham animisme. Faham itu mulai berkurang dan hingga sekarang hampir punah setelah masuknya ajaran Agama Kristen. Catatan sejarah sekitar awal tahun 1900 baru dimulai
pekabaran inji di Tana Toraja.
Paham animisme pada hakekatnya percaya adanya Tuhan yang menciptakan manusia termasuk langit dan bumi
beserta segala isinya. Namun dalam kepercayaan cenderung melihat bahwa kebesaran sang pecipta
diwujudkan melalui leluhur yang telah turun-temurun.
Manusia Toraja yang menganut paham animisme cenderung lebih menghormati leluhur yang berada di
segala tempat keramat. Salah satu tempat untuk menghormati leluhur adalah Tongkonan segenap rumpun
keluarga.
Lantas cara menyembah dilakukan dengan menyembeli hewan pilihan seperti ayam, babi dan kerbau. Ketiga jenis
hewan ini dipersembahkan dalam waktu yang berbeda dan itu tergantung dari status sosialnya. Sedangkan yang
bertindak selaku penyambung penyembahan adalah Tominaa (penghulu).
Untuk penyembahan yang menyembeli ayam betina bebulu (rame bahasa Toraja) dilakukan pada malam hari. Itu pun hanya satu ekor, tidak boleh dua karena oleh nenek Todolo menganggap penyembahan tidak ikhlas kalau lebih
dari dua ekor. Itulah namanya ma'karen-ren.
Tempat pelaksanaan di halan rumah sebelah Barat dengan menggunakan tiga batang pohon sejenis tebuh, dan
nasinya seperti buras tanpa santan. Makanan sesajian pun diambil dari semua bagian dengan ukuran kecil-kecil.
Oleh Tominalah yang melakukan penyembahan dengan memanggil arwah semua nenek yang telah meninggal.
Untuk penyembahan yang memotong babi disebut ma'ta'da. Acara ini juga dilakukan sore hari. Dalam
penyembahan ini sejumlah keluarga dipanggil membawa nasi dalam periuk. Tidak boleh ada yang makan duluan sebelum disajikan ke atas para-para yang terbuat dari bambu.
Dalam penyembahan ini juga dilakukan Tominaa. Sama dengan penyembahan malam hari yang hanya memotong
ayam khusus satu keluarga kecil. Sedangkan penyembahan menyembeli babi dihadiri segenap keluarga yang masih satu silsila di rumah tempat menyembah.
Demikian pula dengan menyembeli kerbau diperuntukkan bagi leluhur yang meninggal sebelumnya tanpa
disebelikan apa-apa. Ketika belasan tahun kemudian,oleh keluarga merasa mampu mengadakan kerbau,
dilakukanlah di suatu tempat atau tanah kosong.
Daging kerbau itupun dimasak dalam petung yang namanya pa'piong. Semua rumpun keluarga juga diundang
dan membawa nasih dalam periuk. Nasi itu dikumpul lalu kemudian dibagi kembali bersama daging kepada setiap
orang yang hadir saat itu. Prosesi itulah yang disebut ma'paundi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar