
SURABAYA- Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur menyayangkan pelarangan siswa untuk hormat bendera di dua sekolah dasar di Karanganyar, Jawa Tengah.
Ketua FPI Jawa Timur, Habib Haidar Al-Hamid, mengatakan penghormatan kepada bendera adalah bagian dari rasa cinta Tanah Air.
“Hormat bendera bukan syirik melainkan bagian dari rasa cinta Tanah Air atau hubbul wathon,” ungkap Haidar kepada okezone, Rabu (8/6/2011).
Asalkan, lanjut Haidar, penghormatan dilakukan dengan wajar, tidak menganggap bendera sebagai hal yang layak disembah.
Menurutnya tak hanya bendera saja yang wajib dihormati, hal yang sama juga bisa dilakukan kepada kepala negara, orangtua, serta beberapa simbol-simbol negara. Hal itu tentunya sebagai cermin nasionalisme. “Itu tidak ada salahnya asalkan tidak lebay,” ujarnya.
Dianggap musyrik, jelas Haidar, ialah menuhankan benda. Kalau sekadar menghormati, tidak ada hukum Islam yang melarang. Bahkan, cerminan rasa cinta Tanah Air sangat dianjurkan dalam Islam.
Lebih lanjut Haidar menilai, akhir-akhir ini rasa cinta Tanah Air kian menguat di kalangan bawah. Namun di kalangan atas, rasa nasionalisme semakin terkikis. Terbukti dengan banyaknya kasus-kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat.
“Mereka yang seharusnya melayani rakyat, malah menghabiskan uang rakyat. Kalau sudah demikian di mana rasa nasionalisme para pejabat itu,” tandas pria bersorban ini.
Seperti diberitakan, dua sekolah yang tidak melakukan upacara bendera adalah Sekolah Perguruan Islam SMP Al Islamiyah di Tawangmangu dan SD IST Albani, Matesi, Jawa Tengah.
Pihak Al Irsyad sebagai yayasan pengelola, membantah dicap tidak memiliki rasa nasionalisme. Menurut mereka, rasa nasionalisme tak hanya dinilai dari penghormatan bendera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar