PPC Iklan Blogger Indonesia

Minggu, 19 Juni 2011

SEJARAH AGAMA BUDDHA & ASPEK MISTIKNYA DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Agama Buddha dapat dikatakan sebagai pembaruan agama Hindu dan Buddha artinya 'mereka yang telah bangun.' Buddhisme dirintis Siddharta Gautama, (lahir 563SM) anak raja Kapilavastu dekat perbatasan Nepal. Peristiwa sekitar kelahirannya banyak diisi dengan dongeng. Setelah mendirikan agama ia disebut sebagai Buddha yaitu 'seseorang yang telah mengalami pencerahan' atau 'telah bangun.' Ia mempunyai isteri bernama Gopa dan anak bernama Rahula. Karena kehidupan mewah yang dialaminya tidak mendatangkan kepuasan, dan melihat penderitaan disekitarnya, ia kemudian meninggalkan istana rumahnya, dan keluarganya (isteri dan seorang anak) dan menjadi pengelana. Selama enam tahun ia berkelana mencari arti hidup dan berguru kepada pada orang-orang suci.

Sebelumnya dalam tiga perjalanannya ia menjumpai penderitaan dunia dalam tiga bentuk, yaitu (1) orang tua yang menderita; (2) orang cacat yang kesakitan; dan (3) pengantar jenazah menangis. Dalam perjalanan ke-empat ia bertemu dengan rahib Hindu yang bergembira sekalipun mengemis mencari makan, ini menyebabkan ia berpendapat bahwa kehidupan itu sia-sia. Dibawah dua guru Brahmana ia kemudian mencari melalui jalan Yoga untuk menyatukan Atman dengan Brahman tetapi dianggap tidak membawa kepada pengetahuan.

Sebagai orang yang dilahirkan dalam lingkungan agama Hindu, sekalipun ia berontak terhadap praktek Hinduisme orthodox, ajarannya menerima beberapa pengajaran Hindu seperti soal setiap mahluk hidup mengalami siklus kelahiran dan kematian yang tidak terhingga (reinkarnasi), ajaran tentang Karma (hukum pembalasan), hukum alam sebab dan akibat dimana yang baik hidupnya akan mendapat pahala dan yang tidak baik akan terhukum, bahwa dunia adalah tempat hidup yang penuh dengan penderitaan dan kepedihan dimana orang bijak harus melepaskan diri, dan jalan hikmat terletak pada penguasaan keinginan dan nafsu.

Sekalipun menerima pengajaran Hindu pada umumnya, ia menolak cara-cara yang digunakan dalam agama Hindu untuk mencapai tujuan itu yang penuh dengan usaha menyakiti diri (asketik / bertarak) yang dianggapnya sebagai tidak berguna dan sia-sia. Ia mempelopori 'Jalan Tengah' (middle way) yaitu diantara usaha menjalani kehidupan dengan cara 'menyakiti diri' dan 'pemuasan nafsu diri', suatu usaha menghindari sikap ekstrim dengan cara yang tenang. Buddha juga menolak pembagian kasta India dan memandang semua manusia setara dalam memiliki potensi spiritual.

Ia kemudian pergi ke utara India dan dengan lima pengikut melakukan pertarakan (ascese).
Karena jalan ini juga tidak mendatangkan solusi ia melakukan meditasi dibawah pohon Boddhi dan mencapai pencerahan dan Empat Kebenaran Mulia, dan sejak itu ia dinamakan 'Buddha' atau 'yang telah dibangunkan dan mengalami pencerahan' (the enlightened one). Kemudian bersama ke lima pengikutnya ia berkotbah pertama kali di Benares (Vanarasi). Ia kemudian berkelana ke India bagian Utara sebagai rahib pengemis sambil mengajarkan ajarannya selama sekitar 45 tahun.Di masa tua, ia mengalami sakit keras dan mengajarkan kepada para pengikutnya mengenai 'ketidak tetapan' atau 'perubahan' yang selalu dialami di dunia ini, dan meninggal di Kushinagara pada umur 80 tahun yang dipercayai sebagai telah kembali ke Nirvana yang dipercayai sebagai puncak dari segala sesuatu.



1. KONSEP MENGENAI YANG SUCI


Dalam agama Buddha, konsep tentang yang suci atau ketuhanan tidak ada, yang ada adalah kondisi Nirwana yaitu perhentian terakhir menuju ketiadaan. Agama Buddha memang dipersoalkan hakekatnya sebagai agama, sebab Buddhisme ini praktis didasarkan atas hal-hal yang rasional dan sekalipun juga bersifat transendental, sangat sedikit sekali berurusan dengan yang supranatural, dan konsep ketuhanan juga kabur sehingga dapatlah disebut bahwa Buddhisme adalah agama yang sebenarnya A- Theist (Tidak ber Tuhan dalam pengertian Tuhan Atheisme), namun untuk menghindari kerancuan dan pengidentikkan dengan A-Theisme Komunisme yang berkonotasi negatip 'anti-Tuhan' maka agama Buddha sering disebut sebagai berkeyakinan 'Non-Theist.' Di Indonesia, agama Buddha secara resmi juga menerima konsep kepercayaan akan 'Tuhan Yang Mahaesa' namun pengertiannya adalah 'Tuhan yang SATU itu' (Tuhan mistik tidak berpribadi), dan dalam kasus agama Buddha, Tuhan yang SATU ini dimengerti sebagai situasi ketiadaan.



2. PERNYATAAN YANG SUCI


Ungkapan dari yang suci atau hierophany biasanya dinyatakan dalam keberadaan orang-orang suci, tempat-tempat suci, dan kitab-kitab suci. Dalam Buddhisme kita melihat beberapa hal sebagai berikut:


A Orang-orang Suci

Tidak ada orang suci dalam agama Buddha, ia bukan Tuhan dan juga bukan perantara Tuhan, ia tidak dapat menjadi penebus. Yang lebih dipentingkan bukan orang suci tetapi jalan suci atau Dharma yaitu ide pengajaran yang sifatnya kekal dan tidak pernah berhenti. Semua orang harus menjadi Buddha dan dalam Theravada dianggap ada beberapa Buddha (mula-mula 6 dan kemudian 28) dimana Sidharta Gautama adalah yang utama dan sedang dinantikan Buddha yang akan datang dalam diri Maitreya. Bagi aliran Mahasanghikas diakui bahwa ada banyak sekali Buddha seperti banyaknya pasir di pantai.


B Tempat-tempat Suci

Tidak ada tempat suci khusus bagi agama Buddha kecuali pohon Boddhi yang dianggap keramat, lainnya adalah kuil-kuil dan candi-candi. Di Indonesia kita jumpai banyak candi yang dianggap tempat suci untuk tempat bermeditasi seperti yang terkenal yaitu candi Borobudur.


C. Kitab-kitab Suci

Ajaran Buddha diajarkan dari mulut ke mulut dan di hafalkan, baru dikemudian hari ucapan-ucapan Buddha ditulis oleh para pengikutnya.
Buddha kemudian mengajarkan 4 Kebenaran Mulia, yaitu (1) Penderitaan adalah umum; (2) Penderitaan disebabkan keinginan cinta diri; (3) cara mengatasi penderitaan adalah mengurangi keinginan; (4) Cara untuk mencapai pengurangan keinginan adalah dengan mengikuti jalan tengah, tehnik mana diuraikan dalam 8 Jalan Mulia, yaitu (1) Pengetahuan yang benar; (2) Keputusan yang benar; (3) Perkataan yang benar; (4) Perbuatan yang benar; (5) Kehidupan yang benar; (6) Usaha yang benar; (7) Kesadaran yang benar; dan (8) Pengheningan cipta yang benar. [1]



3. KONSEP MENGENAI MANUSIA


Manusia dalam konsep Buddha adalah Micro Cosmos tetapi berbeda dengan Atman Hindu yang menyatu dalam Brahman semesta, manusia dalam Buddha adalah Atman yang berusaha melepaskan dirinya dari penjara tubuh menuju kepada An-Atman (ketiadaan Atman), dan ini dicapai melalui usaha meditasi menuju pencerahan.



4. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA


Dalam ungkapan beragama Buddha kita melihat hal-hal berikut:


A. Jalan Keselamatan

Tujuan hidup Buddha adalah usaha mendisiplinkan diri dengan cara melakukan amal baik dan ketenangan batin. Jalan keselamatan dalam Buddha adalah pencarian dalam mencapai pengetahuan menuju pencerahan itu. Dan tujuan pencerahan itu bukan menuju tempat tertentu (semacam surga) tetapi suatu keadaan yang disebut Nirwana, keadaan kelepasan menuju status 'tiada'. Kondisi inilah yang disebut menjadi Buddha, dan tugas seorang Buddhis adalah mengajak orang lain untuk menjadi Buddha pula. Dharma sebagai hukum kehidupan lahir dan mati mempercayai bahwa manusia mengalami karma yang baik bila hidup baik dan karma yang jelek bila hidup tidak baik melalui siklus hidup kembali yang disebut reinkarnasi.

Berbeda dengan konsep Atman Hinduisme yang bersiklus hidup secara tetap dan terus menerus tidak berkesudahan, dalam Buddhisme siklus itu menuju kondisi perhentian akhir yang tiada yang disebut Nirwana (An-Atman) yang bisa dicapai dalam hidup ini melalui pencerahan, suatu kondisi perhentian dimana tidak ada lagi keinginan dan penderitaan. Dalam ajaran Theravada hanya yang menjadi Bhiksu yang akan selamat sedangkan dalam aliran Mahayana mereka menunda menjadi Buddha agar dapat menolong sesamanya. Jadi bagi aliran Mahayana seorang Boddhisatwa (mereka yang siap menjadi Buddha) mengajar dan juga bekerja menjadi penyelamat.


B. Komunitas Umat

Selain ke-lima pengikut pertama, ia mengumpulkan umat dalam Sangha dan berbeda dengan agama Hindu, Buddha menolak pembagian kasta. Umat menggunakan ruang-ruang pertemuan yang disebut Vihara. Setelah kematian Buddha timbul pertentangan tentang interpretasi ajaran-ajarannya dan timbul dua aliran utama yaitu aliran Theravada atau Hinayana (kendaraan kecil) yang bersifat konservatif yang menyebar ke selatan seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Srilangka, dan aliran Mahasanghikas atau Mahayana (kendaraan besar) yang bersifat liberal yang menyebar ke utara seperti Tibet, Nepal, Sikkim, Buthan, Vietnam, China, Jepang, Monggolia, Korea dan Manchuria. Aliran Theravada mengacu pada kitab-kitab asli/kuno dan menekankan usaha pribadi dalam mencapai pencerahan, sedangkan aliran Mahayana menganggap bahwa keselamatan bukan untuk diri pribadi tetapi untuk semua orang.


C. Upacara Agama

Aliran Theravada tidak mempunyai upacara kecuali bahwa semua orang harus menjadi bhiksu untuk memperoleh selamat sedangkan dalam aliran Mahayana semua orang adalah Buddha. Theravada lebih memurnikan ajarannya sedangkan Mahayana cenderung bersinkretisasi dengan agama local sehingga timbul banyak aliran dan upacara (Lamaisme di Tibet, Sam Kauw di China, Zen Buddhisme di Jepang dll.)



5. MISTIK BUDDHISME


Bagi seorang Buddhis yang baik yang memperoleh pencerahan, terbukalah Nirwana yaitu tujuan spiritual tertinggi. Nirwana adalah keberadaan tetap dari semua keadaan yang bersifat realitas puncak yang tidak berpribadi, atau bahwa seseorang telah berhenti dari siklus reinkarnasinya. Untuk mengembangkan pengajaran di atas, Buddha mengajarkan bentuk dasar kepercayaan mengenai 'Aku' (Self) yang dikatakan sebagai:

"Aku bukanlah seperti yang dipercayai dalam agama Hindu yang menganggapnya sebagai bagian dari zat mutlak yang disebut sebagai Brahman. Aku adalah tidak tetap dan dibentuk oleh tahap-tahap pemikiran dan materi yang terus menerus berubah. Bila seseorang melepaskan diri dari semua keinginan duniawi, ia sampai pada realisasi yang benar dari' Aku 'nya dan menuju Nirwana."[ 2]


Menurut Buddha, konsep Aku itu berlawanan dengan Atman Hindu yang merupakan bagian dari Brahman, zat semesta itu, karena itu Buddha menyebutnya An-Atman atau An-Atta yang artinya:

"ajaran tentang tidak ada nyawa, tidak ada aku ... Si Aku itu hanya suatu susunan sementara daripada dharma-dharma, yang daripadanya segala yang ada itu tersusun, dan bersifat sementara pula. Semua yang ada itu hanya suatu arus (samtana). Sesuatu atman sesungguhnya tidak ada, dimanapun orang mencarinya. Oleh karena itu sebenarnya orang tidak dapat mengatakannya dengan tepat, bahwa Buddha itu mengajarkan perpindahan jiwa. Aku ini tiada lain daripada suatu kompleks dharma-dharma yang selalu berubah. Demikianlah aku hanyut di dalam arus ketidak-tetapan. Itulah penderitaan manusia ... Makin jauh orang berjalan di jalan kelepasan, makin menjadi teranglah kesadaran bahwa ia tidak mempunyai aku."[ 3]


Dengan konsep An-Attanya, Buddha disebut sebagai pemberita yang termashur tentang ajaran 'tidak ada aku', karenanya ia kemudian dijuluki sebagai 'Anatta vadi' yang berarti pemberita tentang ajaran ketidak-ber-pribadian. Disini juga jelas tentang konsep 'Jalan Tengah' mengenai 'Aku' yaitu ia 'bukan Atman tetapi menuju An-Atman/An-Atta.'


Sekalipun ada konsep meditasi dan semedi baik di agama Hindu maupun Buddha, keduanya berbeda. Bila dalam Hindu kedua disiplin itu digunakan untuk mengusahakan penyatuan Atman dengan Brahman, dalam Buddhisme, baik meditasi maupun samadi digunakan untuk usaha 'meniadakan aku' menuju 'Nirwana' yaitu pemadaman sempurna dari hawa nafsu menuju 'ketiadaan Aku.'

"nirwana adalah terpadamnya skanda-skanda dengan sempurna. Ini berarti berhenti, proses keadaan badani dan rohani kita tidak lagi berjalan terus. Hal ini mulai terjadi pada kematian orang yang suci (Arahat) ... inilah perdamaian, inilah yang luhur, yakni berhentinya segala pembentukan karma, terurainya dasar-dasar keadaan, menjadi keringnya nafsu, penghapusan, pemadaman, nirwana." [ 4]




Jadi, dibandingkan dengan agama Hindu dimana agama Buddha berasal jelas ada perbedaan konsep tentang 'aku' dan secara negatip orang dapat menentukan dua hal tentang hakekat nirwana itu.

"Pertama, nirwana bukanlah, bahwa jiwa kita masuk ke dalam Mahajiwa ... inti ajaran Buddha itu justru terbentuk oleh pandangannya tentang 'anatta.' Kedua, nirwana itu tidak boleh pula disebut pembinasaan, anihilasi. Nirwana adalah berhentinya suatu proses, bukan anihilasi suatu kehidupan." [ 4]



Jadi, dari terang kutipan-kutipan tersebut jelas bahwa yang disebut sebagai 'Aku' atau 'An-Atta' bukanlah kekuatan Mikro-kosmos yang berpotensi kundalini atau prana tetapi suatu 'ketidak-adaan' sesuatu yang 'nihil.' Dan penyangkalan diri dan latihan meditasi maupun samadi disini ditujukan untuk menuju keketidak-adaan itu. Sekalipun demikian, para pengikut Buddha kemudian dari pengalaman mereka menghadapi serangan fisik selama menjalankan misinya, kemudian juga mengajarkan pelatihan kekuatan energi dalam tubuh manusia dan menjadikannya dasar ilmu bela-diri:

"Sang Buddha juga telah mengajarkan latihan pernafasan dan meditasi untuk mengontrol energi yang tersimpan di dalam tubuh." [ 6]



Dapatlah dimaklumi sekarang mengapa Bodidharma (Tat Mo Chowsu) dalam perjalanan ke China membawa silat berlandasakan Buddhisme.

Buddha adalah agama sinkretis yang mempopulerkan ajaran Un 'jalan tengah' yang menuju 'yang SATU' dan menghindarkan ekstrim, itulah sebabnya, khususnya aliran Mahayana dengan mudah berbaur dengan agama-agama lain seperti 'Sam Kauw/Tridharma' dengan Taoisme dan Konhucuisme, dan 'Ch'an atau Zen' dengan Taoisme. Agama Buddha-lah yang kemudian menjadi dasar 'Universalisme' tentang ‘Yang SATU’ itu.


Catatan :
[1] Lihat Henry L. Luce (ed), The World's Great Religions, h. 44, dibawah The Path of Buddhism.
[2] Ibid.
[3] A.G.Honig, Ilmu Agama-I, h.156-157.
[ 4] Ibid, h.159.
[ 5] Ibid, h.160.
[ 6] Thubten Chodron, Tradisi dan Harmoni, Menelusuri Jejak-Jejak Agama Buddha, h.10.



6. ZEN BUDDHISME


Agama Buddha masuk melalui daratan China yang dibawa oleh Bodidharma (Tat Mo Chowsu) dari India pada tahun 552 yang kemudian menyebrang ke kepulauan Jepang. Pada tahun 645, kaisar Jepang Kotoku tertarik akan agama Buddha dan menjadikan Buddhisme sebagai agama negara dan menolak agama Shinto yang semula menjadi agama negara.

Mulai sekitar abad ke-VIII, masuknya pengaruh Buddhisme dari India yang masuk lewat daratan China itu kemudian menyebabkan terjadinya sinkretisme antara agama Buddha dan Shinto, agama asli Jepang yang menyembah Dewa Kami, hal ini disebabkan karena Buddhisme yang juga mempunyai latar belakang kebatinan India, kemudian menganggap dewa Kami Shinto itu sebagai pernyataan Buddha juga. Koeksistensi damai kedua agama ini berlangsung terus sampai zaman Tokugawa hingga kejatuhannya pada tahun 1867 ketika kaisar Meiji kembali menjadikan Shinto sebagai agama negara di atas agama-agama lain.

Shintoisme mengalami kebangunan dengan kembali dijadikannya sebagai agama negara oleh kaisar Meiji, tetapi sekalipun demikian pengaruh Buddhisme sudah sedemikian kuat di Jepang sehingga pada tahun 1877 sekalipun Shinto dianggap sebagai agama negara, Buddhisme tidak lagi dilarang untuk dipercaya oleh orang Jepang.

Untuk bisa mengerti hakekat Zen Buddhisme, kita perlu mengetahui terpecahnya Buddhisme menjadi dua yaitu Hinayana yang menyebar di daerah Selatan (Sri Lanka, Laos, Muanmar, Thailand, Kamboja & Indonesia (borobudur)) dan Mahayana yang menyebar ke Utara dan Timur (China, Jepang dan Korea).

Aliran Hinayana (artinya jalan kecil) yang juga disebut sebagai Theravada, lebih memusatkan ajarannya ke arah keselamatan pribadi (individual), di mana setiap orang perlu mencari jalannya sendiri dalam mencapai pencerahan, tiap individu adalah atman yang mencari jalannya sendiri-sendiri. Sebaliknya, aliran Mahayana (artinya jalan besar) lebih mengarah kepada keselamatan bersama yang bersifat sosial. Setiap orang adalah bagian dari semuanya, karena itu ia sendiri tidak mempunyai pribadi atau juga disebut sebagai anatta (atau an-atman).

Sebagai konsekwensi dari ajaran itu, maka bagi pengikut Hinayana kehidupan biara sebagai biarawan merupakan pusat kegiatan beragama, sedang bagi pengikut Mahayana, kehidupan aktif sebagai awam adalah kegiatan beragama, karena itu aliran Mahayana lebih bersifat misioner, dan aliran inilah yang menjadikan agama Buddha sebagai agama dunia dan menyebar kemana-mana.

Kehidupan aliran mahayana lebih bersifat liberal dan terbuka, dan lebih mudah untuk berpecah-pecah dan melakukan sinkretisasi dengan agama-agama setempat, itulah sebabnya dari aliran Mahayana ini kita melihat bentuk-bentuk yang berbeda baik yang di Tibet, Monggolia, China, Korea, atau Jepang. Hal ini berbeda dengan perkembangan Hinayana yang lebih merupakan agama kesatuan dengan tradisi bersama.

Buddhisme Mahayana sedikitnya terpecah ke dalam lima (5) ajaran utama, yaitu yang menekankan iman, pengajaran, mantra, politik, dan intuisi. Mahayana yang menekankan intuisi inilah yang kita jumpai di Jepang dalam bentuk Zen Buddhisme. Agama inilah yang merupakan sinkretisme agama Tao dan Buddha ketika Bodidharma (Tat Mo Chowsu) pergi ke China (abad ke-VI) dan agama ini kemudian oleh para pengikutnya dibawa menyeberang ke Jepang pada abad ke-XII.

Dalam ajaran Zen, kata-kata dan pikiran itu mempunyai keterbatasan-keterbatasan dalam menyatakan sesuatu, karena itulah maka pengikut Zen menyatakan kebenarannya tidak dengan ungkapan-ungkapan dan argumentasi teologis, tetapi dengan suatu sikap yang transenden. Itulah sebabnya pengikut Zen tidak mementingkan kitab suci, rumusan dogma atau pengakuan percaya. Zen (Ch'an bahasa China atau Dhyana bahasa Sansekerta) sebenarnya berarti duduk, tetapi kemudian diartikan dengan meditasi, yaitu perenungan untuk mencapai pencerahan/penerangan/wahyu itu sendiri.

"Sebagai praktek agama yang pada dasarnya tidak condong kepada kepustakaan, Zen mengajarkan manfaat hubungan langsung dengan batin dan manfaat pencerahan roh-intelektual yang intuitif, yang diperoleh secara perlahan-lahan maupun yang diperoleh seketika, tergantung pada kemampuan tiap individu." [1]




Ada tiga (3) jalan yang biasa ditempuh dalam latihan Zen, yaitu 'Zazen' yang berarti meditasi duduk, yaitu sikap merenung yang mendalam dengan cara diam berjam-jam dan bahkan berhari-hari. Sikap mana dilanjutkan dengan 'Koan' yang berarti konsentrasi akan suatu masalah tertentu, suatu masalah yang sulit yang sebenarnya tidak bisa dijawab, tetapi bisa direnungkan. Sikap mana kemudian dilanjutkan dengan 'Sanzen', yaitu bimbingan mengenai soal-soal meditasi. Bila ketiga jalan ini dapat dijalankan dengan baik, seseorang akan memasuki keadaan pencerahan 'Satori', yaitu suatu situasi santai yang baru sekali ini dirasakan, satori adalah suatu pengalaman intuisi, pengalaman mistik bahwa ia tidak lagi berpribadi (an-atta/an-atman).

"Cara terbaik untuk merasakan Zen yang benar dan mencapai satori adalah dengan meletakkan jasmani dalam keadaan keseimbangan sempurna, sehingga keseimbangannya yang teratur menghilangkan keberadaannya dari batin, seperti gigi tidak akan diperhatikan bila sehat dan seorang teman yang benar-benar berkorban tidak pernah memperhatikan pengorbanannya. Untuk mencapai keadaan yang seimbang ini, kita ikuti aturan hidup fisik tertentu: pertama-tama buatlah postur yang benar, kemudian aturlah nafas dan akhirnya tenangkan batin." [2]




Kekhasan dari Zen Buddhisme dibanding sekte-sekte Buddha lainnya adalah penekanannya pada praktek meditasi sebagai jalan pencerahan, dan untuk mencapai pencerahan itu, seseorang harus melakukan meditasi untuk mencapai jati diri (self) yang terdalam, dan bila ia mencapai pengertian akan kesadaran dirinya itu, berarti ia telah menyatukan diri dengan hakekat semesta atau realitas rohani semesta. Hanya berbeda dengan mistik Hindu dan Tao, Zen menganggap bahwa realita semesta itu keberadaannya berubah menjadi 'tidak ada /tiada'. Dalam mistik India dan China, yang 'ada' menyatu kepada yang 'ADA' (Pan-Theisme), sedangkan dalam Buddhisme termasuk Zen Buddhisme, yang 'tiada' menyatu dengan yang 'TIADA' (A-Theisme).

Zen kemudian berpecah menjadi 5 aliran, dan dua di anataranya yang terkenal adalah aliran Rinzai dan Soto yang pada abad ke-XII beremigrasi dari China ke Jepang. Aliran Soto menekankan pencapaian pencerahan melalui meditasi tenang pengosongan pikiran (kontemplasi), sedangkan aliran Rinzai menekankan pencapaian pencerahan melalui meditasi yang diarahkan kepada aliran tertentu.

Meditasi Zen ini dipraktekkan sebagai usaha penyangkalan diri/pengosongan diri dan pencerahan serta jalan kelepasan/keselamatan dengan usaha sendiri:

"Seperti yang dikatakan Sang Buddha, 'Lakukanlah penyelamatan dirimu sendiri dengan rajin'." [3]
Meditasi Zen juga ditujukan untuk mencapai kedamaian, dan panjang umur, dan kemudian memberi landasan batin untuk pengolahan kekuatan Chi/Ki pada ilmu-ilmu bela-diri China/Jepang. [4]



Catatan :
[color=red][1] Shindai Sekiguchi, Zen Pedoman Bagi Pemula, h.4.
[2] Ibid, h.11.
[3] Ibid, h.88.



7. NICHIREN SHOSHU BUDDHISME


Berbicara mengenai agama Buddha, kita tidak dapat tidak perlu mengetahui pula tentang satu sekte Buddhisme yang militan yang disebut ‘Nichiren Shoshu.’ Sekte ini sebenarnya tumbuh pada abad XIII di Jepang berdasarkan nama pendirinya Nichiren Daishonon (1222-1282). Nichiren mempelajari Buddhisme sejak lama dan terpengaruh pengajaran seorang tokoh Budhhisme bernama Dengyo Daishi yang memperkenalkan ‘Tendai Buddhisme’ masuk ke Jepang pada abad VIII.

Dengyo Daishi mempercayai bahwa kitab suci ‘Lotus Sutra’ adalah kitab suci Buddha yang memuat ajaran-ajaran asli dari Buddha, karena itu, kitab inilah yang dianggap berotoritas, karena itu pulalah aliran ini menjadi sangat eksklusif dan menyalahkan semua aliran Buddhisme di Jepang sebagai salah.

Semula perkembangannya terbatas, apalagi setelah kematian pendirinya yang dihukum mati, namun pada awal abad XX (tepatnya 1930) dua pengikut Nichiren yaitu Magiguchi Tsunesaburo dan Josei Toda membentuk perkumpulan yang dinamakan Soka Gakai (yang artinya masyarakat pencinta nilai). Soka Gakai merupakan gerakan misionari Nicheren yang sangat aktif dan militan dan kemudian menyebar ke seluruh dunia setelah Josei Toda meninggal dunia (1960) dan digantikan oleh Daisaku Ikeda.

Ajaran sentral Nichiren Shoshu berkisar ‘Gohonson’ yaitu peti kayu berwarna hitam yang berisi nama-nama orang penting yang disebutkan dalam Lotus Sutra. Gohonson dijadikan altar dan mezbah pribadi dan dianggap berisi kekuatan semesta yang mengontrol kehidupan para pengikut, dan ada hubungan timbal balik antara kehidupan para pengikut dengan bagaimana mereka memperlakukan Gohonzon.

Ibadat ritual yang dilakukan para pengikut Nichiren Shoshu disebut ‘Gongyo’ yaitu berlutut didepan Gohonzon sambil mengucapkan beberapa ayat Lotus Sutra, meraba tasbih, dan mengucapkan mantra-mantra. Ibadat ritual dipusatkan di kuil pusat di kaki gunung Fuji yang disebut ‘Dai-Gohonzon,’ sedangkan gohonzon-gohonzon pribadi di rumah-rumah para pengikut dianggap penjelmaan kekuatan mistik dari Dai-Gohonzon.

Gerakan Nichiren melalui Soka Gakai juga telah masuk ke Indonesia dan sempat dianggap oleh Walubi (Perwalian Umat Buddha di Indonesia) sebagai bukan beragama Buddha, sebaliknya sekte Nichiren juga menganggap semua aliran Buddha lainnya tidak menjalankan agama Buddha, sekte ini sangat rajin menjalan misi proselitasi dan kegiatan sosial.



7. NICHIREN SHOSHU BUDDHISME


Agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia bersama-sama jauh sebelum abad ke-V dimana sudah ditemukan patung-patung di Sulawesi, Jawa Timur dan Palembang.

Dari abad ke-V-VII ditemukan beberapa prasasti di Kutei (raja Mulawarman) dan Jawa Barat (raja Purnawarman) yang menunjukkan bahwa ada raja-raja yang menggunakan nama Hindu, dan kelihatannya Palembang menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang Buddhis (Hinayana tetapi juga ada yang Mahayana) pada abad ke-VII.

Dari abad ke-VII s/d ke-X pada dinasti raja Mataram Sanjaya (yang Hindu) dan raja Sailendra (yang Buddha) ada beberapa prasasti dan candi peninggalan Hindu dan Buddha Mahayana di Jawa Tengah tetapi rupanya juga ada pencampuran keduanya. Candi yang terkenal adalah Borobudur.

Pada zaman Mojopahit terjadi puncak sinkretisme dimana baik agama Hindu Siwa, Hindu Wisnu dan Buddha Mahayana diikuti bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

morzing.com dunia humor dan amazing!