PPC Iklan Blogger Indonesia

Minggu, 19 Juni 2011

SEJARAH AGAMA HINDU ASPEK MISTIKNYA DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Agama India kuno sudah terdeteksi sejak sekitar tahun 3000-BC dan nama Hindu adalah nama India dalam bahasa Persia, dan merupakan agama tradisi budaya yang berkaitan dengan tanah India yang disebut sebagai The Mother India yang lebih merupakan agama yang berorientasi kepada alam dan pertanian dan dapat dikatakan sebagai 'percampuran sekte kultus, kebiasaan, ide-ide dan aspirasi' yang beragam dan bervariasi di sekitar 700.000 desa.

India sebagai sebuah sub-benua saat ini memiliki penduduk sekitar 500 juta dan terdiri dari bangsa Dravida di sebelah selatan yang umumnya hitam dan pendek, bangsa Benggala di bagian timur laut yang coklat, dan bangsa Aria yang keturunan Persia di sebelah utara yang umumnya bertubuh tinggi dan berkulit putih. Agama Hindu yang kuno tidak mempunyai pendiri atau nabi, tidak mempunyai struktur organisasi agama, dan lebih menekankan jalan hidup dan bukan pemikiran. Radhakrishnan mantan presiden India menyebut 'agama Hindu sebagai kebudayaan dan bukan pengakuan iman.'



1. KONSEP MENGENAI YANG SUCI


Dalam agama Hindu yang kuno ada yang percaya tentang apa yang disebut Tuhan ada yang tidak dan umumnya menj adikan kekuatan alam sebagai sesembahan (Manisme & Animisme) dan dengan adanya pengaruh bangsa Aria di Utara (ca.abad ke-XV-BC) yang menghasilkan bahasa Sansekerta berkembanglah dewa-dewi (politheisme) yang merupakan personifikasi kekuatan-kekuatan alam seperti Agni (dewi api), Indra (dewa langit/ perang) dan Varuna (dewa pengatur kosmis), dan memuncak dalam apa yang disebut sebagai Trimurti yaitu dewa Brahman, Shiva dan Wishnu dan para dewinya yaitu Saraswati, Lakhsmi dan Kali/Duga. Dewi Shakti adalah simbol kewanitaan. Di samping dewa-dewi ini dikenal para perantara (avatar) seperti Rama dan Krishna. Para penguasa/raja dianggap sebagai anak dewa. Krishna sering dipersonifikasikan sebagai binatang Sapi (kultus Mother Goddes).

Dengan berkembangnya agama menjadi PantheismelMistisisme (kebatinan) maka konsep dewa-dewi berkembang menjadi konsep Monisme mengenai keberadaan zat yang 'SATU' (The One) yang disebut Brahman yang mendasari semua keberadaan dan keberadaan zat yang satu itu dalam diri manusia sebagai Atman, dan bahwa adanya penyatuan zat manusia Atman dengan Brahman sebagai zat yang satu itu.



2. PERNYATAAN YANG SUCI


Ungkapan dari yang suci atau hierophany dinyatakan dalam keberadaan orang-orang suci, tempat-tempat suci, dan kitab-kitab suci.


A. Orang-orang Suci

Sekalipun semula tidak mempunyai agama terstruktur dengan para imamnya kemudian timbullahlah golongan Rishi (orang-orang suci) dan Sadhu (orang suci pengelana/asketik) yang dianggap menjadi perantara antara dewa-dewi dengan manusia. Mereka memberitakan jalan hidup kekekalan yang disebut sanata dharma. Kemudian timbullah para Imam yang memimpin upacara suci di kuil-kuil dan memuncak pada abad ke-VIII-BC. Pada abd ke-VI-V-BC timbullah pemberontakan akan agama imam dengan berkembangnya agama Upanishad (mistik) seperti Buddhisme dan J ainisme. Hinduisme mengalami kebangkitan kembali sekitar abad ke-III-BC sampai AD-III.


B. Tempat-tempat Suci

Tempat-tempat yang dianggap suci yang terutama adalah sungai Gangga yang airnya dianggap sebagai lambang kehidupan dimana setiap hari orang melakukan mandi suci, demikian juga kota suci Varanashi di tepi sungai Gangga yang dianggap akhir kehidupan dimana yang mati dibakar dan abunya ditaburkan di sungai Gangga dan Alahabad ditepi pertemuan sungai ini dengan sungai Yamuna dimana dalam 12 tahun sekali diadakan festival mandi suci.


C. Kitab-kitab Suci

Agama Hindu kuno tidak memiliki kitab suci tetapi kemudian bangsa Aria yang datang membawa Agama Aria menghasilkan kitab Veda (Vid = pengetahuan) yang kemudian ada yang dinyanyikan (Rig Veda). Veda kemudian diakhiri dengan Vedanta (akhir Veda) dalam bentuk kitab Upanishad dimana berkembang konsep pantheisme/mistisime mengenai hakekat monisme Brahman - Atman. Pada kurun antara abad ke-III-BC sampai AD-III kebangkitan Hinduisme menghasilkan kitab-kitab Sutra yang merupakan perumusan pokok-pokok penting dari Veda dan Upanishad.

Dalam sejarah kekekalan Hindu dalam empat zaman, pada zaman I dunia berada dalam keadaan teratur, pada zaman II keadaan mulai terganggu, pada zaman ini dikenal cerita suci agama yang disebut Ramayana (tentang rama dan Shinta) dan memuncak pada akhir zaman III dimana terjadi perang habis-habisan yang dikisahkan dalam Mahabharata (perang semesta antara kebaikan [pandhawa] dan kejahatan [asthina]). Dialog Arjuna dan Krishna sebelum perang Kurusetra kemudian dinyanyikan dalam bentuk Bhagawat Gita. Zaman IV menggambarkan keadaan kacau yang disebabkan perang Kurusetra yang akhirnya dunia diperbaharui.



3. KONSEP MENGENAI MANUSIA & DUNIA


Manusia dianggap sebagai mahluk bagian alam yang menjadi permainan para dewa-dewi dan kemudian dalam perkembangan agama Hindu menjadi Pantheisme/Mistisime berkembang menjadi konsep Atman (pusat manusia) yang sehakekat dengan Brahman (pusat alam semesta). baik upacara agama atau jalan kebatinan ditujukan untuk menyatukan Atman dengan Brahman.



4. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA


Dalam mengungkapkan rasa keagamaan mereka, agama Hindu (Hinduisme) mengenal juga cara-cara melalui jalan keselamatan, komunitas umat, dan upacara & etik moral beragama yang sangat melekat dalam kehidupan sosial budaya masyarakat.


A. Jalan Keselamatan

Hinduisme mempercayai bahwa kehidupan di dunia merupakan perjalan ziarah yang panjang melalui jalan samsara yang miliaran tahun lamanya melalui siklus roda kehidupan (mandala) dan kelahiran kembali yang disebut sebagai reinkarnasi atau transmigrasi jiwa. Melalui jalan bhakti (devosi), jnana (pengetahuan), dan karma (perbuatan) manusia berusaha melepaskan diri dari siklus karmanya menuju kelepasan yang disebut moksa. Jalan ini juga biasa diisi dengan pertarakan (asketisme) dan penggunaan mantra, dan kemudian setelah adanya Upanishad berkembanglah jalan Yoga (meditasi).

Jalan keselamatan secara umum digambarkan sebagai melalui empat zaman yang pada akhir zaman ke-III disi dengan cerita Mahabharata dan memasuki perang semesta Kuruserta pada zaman ke-empat menuju kehancuran dan kemudian dunia diperbaharui.


B. Komunitas Umat

Umat Hindu identik dengan penduduk India, karena itu kehidupan berkomunitas penduduk juga merupakan kehidupan komunitas umat Hindu. Dalam Veda manusia dibagi empat golongan yaitu Brahmana (imam), Ksatrya (penguasa), Waisha (pengusaha) dan Sudra (rakyat pekerja). Ada juga yang menambahkan dengan kelompok terhina dan tersingkirkan yang disebut Pariah.


C. Upacara a Etika Agama

Tiap hari mandi suci di sungai Gangga dan setiap 12 tahun diadakan festival Kumb Melam di Alahabad yang terletak dipertemuan sungai Gangga dan Jamuna. Mereka yang kaya memilih mati dibakar di Varunasi kota suci ditepi sungai Gangga dan abunya dilarutkan di air sungai Gangga untuk menjalani kehidupannya yang terus menerus sebelum ber-reinkarnasi. kepercayaan akan reinkarnasi menyebabkan orang-orang Hindu umumnya menjadi vegetarian. Etik moral yang dilakukan oleh orang Hindu sangat ketat, khususnya kehidupan pertarakan, tabu-tabu, dan kepercayaan mengenai reinkarnasi yang menyebabkan orang-orang sangat menghormati binatang yang dianggap titisan nenek moyang yang telah meninggal. Sapi adalah binatang suci.



5. MISTIK DI DALAM HINDU: UPANISHAD


Berbeda dengan agama Hindu yang menekankan jalan keselamatan melalui upacara agama ritual dibimbing para Imam, dari Hinduisme yang bersumber tradisi Arya berkembang dua aliran yang menekankan jalan keselamatan melalui usaha pribadi, yaitu J ainisme dan Buddhisme, keduanya bersifat mistik sekalipun tidak identik sama. Keduanya menekankan cara pelepasan diri dari siklus samsara dengan usaha penyadaran diri agar jiwa terlepas dari jasad materinya.
Sekalipun Jainisme dan Buddhisme cukup berpengaruh dalam perkembangan Hinduisme, guru¬guru Hindu yang terkemudian menganggap keduanya sebagai tidak ortodoks. Sebaliknya, ada bentuk lain pengajaran rahasia yang berkembang dikalangan guru-guru tradisi Veda dan ikut memberi bentuk baru pada Hinduisme. Ini kemudian dikenal sebagai Upanishads (upa = dekat, ni = bawah, shad = duduk), karena mereka yang mempelajarinya duduk dibawah dekat guru mereka. Ditemukan sekitar 200 tulisan upanishads.

Guru-guru itu tidak berurusan dengan para dewa atau korban ritual, mereka lebih tertarik untuk menemukan dasar alam semesta (ground of the universe), yaitu Realitas (Brahman) yang ada sebelum semuanya ada. Pada saat yang sama mereka tertarik menggali hakekat kesadaran manusia. Mereka sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang azasi dari 'aku perorangan' (atman) tidak lain adalah realitas yang mendasari kosmos. Beberapa kutipan yang menggambarkan konsep mistik Upanishad itu secara jelas adalah:

"At the heart ofthis phenomenal world, within all its changing forms, dwells the unchanging Lord. So, go beyond the changing, and, enjoying the inner." (Ayat pertama Isha Upanishad)
"The Self is all knowing, it is all-understanding, and to it belongs all glory. It is pure conciousness, dwelling in the heart of all, in the citadel of Brahma. There is no space it does not fill." (Dari Mindaha Upanishad).

"Thou art the Eternal among etemals, the conciousness within all minds, the Unity in diversity, the end of all desiring. Understanding and experience of Thee dissolve all limitations." (Dari Shivatashvatara Upanishad). [1]




Sama halnya dengan Jainisme dan Buddhisme, Upanishad berkepentingan untuk mengatasi perasaan yang asali keberadaan manusia akan kekuatiran dan frustrasi. Mereka juga menyadari gejolak dan hidup yang bersifat sementara, tetapi mereka mencari esensi yang kekal bukan saja dari luar tetapi dari dalam diri mereka. Jalan keselamatan mereka adalah pengetahuan dan penglihatan rohani.

Seperti halnya buku panduan para imam, setiap Upanishad terlampir pada satu dari keempat koleksi nyanyian Veda. Mereka adalah rekaan spekulatif yang digambarkan sebagai perumpamaan untuk mengkomunikasikan pandangan mereka tentang realitas. Setiap buku tentang Hindu mengutip cerita Svetaketu dalam Chandoya Upanishad.

"Svetaketu diminta untuk membelah buah pohon banyan dan disuruh terus membelah sampai tidak terlihat apa-apa. Ayahnya mengingatkannya bahwa yang tiada berasal dari yang tiada bahkan dari yang sangat kecil masih hadir kekuatan yang meresapi seluruh alam semesta dan menjadi dasar semua keberadaan. Percayalah! Ia diingatkan. 'Itu adalah nafas-jiwa (Brahman) yang berada dalam akar semua keberadaan, dan itulah juga apa adarnu, Svetaketu!' 'Itu adalah apa adaMu' mengungkapkan kesatuan aku (jiwa) manusia dengan realitas mutlak. Ia diberitahu pula tentang tidak mungkinnya memisahkan garam dari air asin karena rasa asin itu meresapi keseluruhannya. Dengan cara yang sama, ia dijamin bahwa realitas dalam didalam aku (jiwa) manusia adalah Realitas itu sendiri (Brahman).

Radhakrisnan menekankan sisi subyektip dan obyektip dari Upanishads. Svetasvatara (salah satu dari pembicara), mengatakan, 'gergajilah kebenaran dalam kuasa kontemplasi dan anugerah Allah.' Karena itu, lanjutnya, kebenaran-kebenaran itu harus diperiksa bukan saja dengan pemikiran logis tetapi juga dengan pengalaman pribadi.'

Sekalipun Upanishads berbicara mengenai yang tidak terbatas, ada banyak ungkapan personal yang kemudian dibawa kepada ibadah (bhakti). Diberitahukan bahwa 'Brahman diam didalam dan diluar segala sesuatu yang tidak dilahirkan, murni, lebih besar dari yang terbesar, tanpa nafas, tanpa pikiran' dan namun Brahman 'selalu hadir dihati semuanya sebagai penyelamat semuanya dan tujuan yang mutlak. 'Dalam Brahman berada semua yang bergerak dan bernafas.' Brahman dilihat sebagai 'yang satu yang dipuja.' Untuk 'mengetahui' Brahman adalah untuk menemukan keberadaan seseorang dalam Brahman.


A. YOGA

Cara praktis penyatuan aku (jiwa) atman ke Realitas Brahman ini dilakukan melalui Yoga. Pelaku Yoga biasa disebut yogi. Yoga merupakan salah satu jalan keselamatan dalam Hinduisme, yaitu cara untuk mencapai Moksa atau Kelepasan. Yoga berarti usaha mendisiplin diri untuk 'merealisasikan kehadiran Tuhan dalam diri,' tetapi Yoga dapat juga berarti suatu 'usaha mengatur kekuatan alam dan roh,' dan juga sebagai usaha 'penyatuan diri dengan zat ilahi.'

"Kata 'Yoga' berasal dari bahasa Sansekerta Yuj, yang berarti 'untuk mengaitkan, menggabungkan, mempersatukan,' dan ghan, yang mengacu kepada 'penggabungan atau penyatuan total'. Secara harfiah, definisi yoga adalah untuk 'bergabung dan bersatu secara percuma.' Nah, apa saja yang diusahakan yogi untuk digabungkan dan dipersatukan atau persatuan? Jawabannya terletak pada konsep tiga unsur manusia yang diyakini dalam agama India kuno. Bagi mereka, manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu pikiran, tubuh, dan jiwa. Tujuan akhir seorang siswa yang melakukan praktek yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur tersebut dan mencapai persatuan dengan 'Sang Tuhan' atau 'Pikiran Alam Semesta'." [2]



Sekalipun membangun keluarga dan menikmati kesej ahteraan duniawi dibolehkan dalam agama Hindu, dalam diri banyak orang India:

"Satu-satunya keinginan yang berapi-api adalah melepaskan diri dari dunia dan hanya berfikir untuk menyatu dengan Brahman ... Para yogi menyangkali selera mereka dan beberapa dikatakan dapat menghentikan detak jantungnya selama satu menit dan menahan nafas sampai berjam-jam ... Pada tingkat yang paling tinggi, bila seorang yogi telah melepaskan diri dari semua indera rasanya, ia berada di atas keluarga, kasta, negara, ibadat agama, baik dan jahat, waktu dan ruang, dan di atas diri sendiri karena ia menjadi satu dengan Tuhan." [3]



AG. Honigjuga mengemukakan hal yang sama tentang seorang Yogi dimana dikatakannya bahwa:

"Orang-orang yang menjalankan Yoga (yogi) mula-mula sekali harus belajar mengendalikan diri dengan sempurna, juga di dalam hidupnya sehari-hari yogi harus belajar menunaikan segala kebajikan, misalnya: memantang kesenangan duniawi, berlaku jujur, tidak ceroboh, kemiskinan, kesucian, belajar, dsb. Selanjutnya yogi harus menjauhkan diri dari manusia, banyak berpuasa, dan membuat badannya menjadi baik untuk pemusatan pikiran. Untuk itu ada diperintahkan bermacam-macam sikap duduk (asanas). Sesudah itu ia harus berusaha menguasai dan mengatur jalannya napas. Dalam hal itu ia harus meletakkan tangannya dalam sikap tertentu (mudra). Setelah itu ia harus menunjukkan pikirannya kepada satu hal. Inilah yang disebut meditasi atau perenungan (dhyana), di mana yogi masih selalu berfikir juga. tetapi keadaan yang tertinggi ialah, di mana berfikirpun berhenti dan jiwanya tenggelam di dalam obyek perenungan. Inilah yang disebut samadhi. Karena akhimya yogi itu berhasil melepaskan rohnya dari materi (zat), maka ia tidak lagi terikat kepada hukum-hukum materi, sehingga ia dapat menjalankan usaha-usaha yang luar biasa. Bagi beberapa orang memiliki kekuatan-kekuatan luar biasa itu menjadi pokok tujuan mereka, tetapi sebenarnya di dalam Yoga itu yang menjadi tujuan ialah kelepasan: moksa." [4]



Ada berbagai jalan yang ditempuh dalam Yoga, yaitu (i) Bhakti Yoga dilakukan melalui cinta dan pengabdian; (ii) Karma Yoga dilakukan dengan pengorbanan diri dan perbuatan baik; (iii) J nana Yoga melalui ilmu pengetahuan untuk mengerti kebenaran hidup; (iv) Raja Yoga melalui meditasi mistik (kebatinan) untuk menemukan diri (self) manusia terdalam; dan (v) Hatha Yoga melalui gerak dan hidup (pernafasan). Posisi dan gerak tubuh tertentu dianggap sebagai jalan menuju kesempurnaan pula.

Semua jalan itu ditujukan untuk menuju keadaan bersatunya roh diri manusia (Atman) dengan roh ilahi/roh semesta (Brahman) itu, atau persatuan mikro kosmos dengan sumbernya makro kosmos, yaitu persatuan jiwa manusia dengan jiwa alam sebagai kelepasan. Beberapa cara yang dilakukan dalam Yoga adalah sebagai berikut: (i) Yama, yaitu penyangkalan diri; (ii) Niyama, yaitu tingkah laku moral; (iii) Asanas, yaitu sikap atau postur tubuh; (iv) Pranayama, yaitu pengaturan pernafasan; (v) Pratyahara, yaitu penguasaan indera; (vi) Dharana, yaitu pengaturan fikiran untuk dikonsentrasikan kepada obyek; (vii) Dhyana, yaitu meditasi dalam, dan (viii) Samadhi, yaitu pencapaian kesadaran jati diri tertinggi.

Bila ke-delapan jalan itu telah berhasil dicapai, maka tercapailah pencerahan/ kelepasan/ keselamatan. Dalam praktek Yoga juga dilakukan pengucapan mantra (kata-kata suci/berkhasiat) Om- Ram, dan sasaran dari latihan Yoga adalah untuk membangkitkan Kundalini yaitu kekuatan ilahi yang sedang tidur dalam diri manusia yang berbentuk seperti ular, karena itu disebut juga sebagai Kekuatan Ular.

Dalam Yoga dipercaya bahwa tubuh manusia dibungkus oleh sinar yang disebut sebagai Aura,
dan tubuh manusia dianggap mempunyai 7 Chakra.

"tubuh manusia terdiri atas dua bagian yang terpisah: bagian fisik yang dapat disentuh dan dilihat serta bagian spiritual atau bagian eterik yang tidak tampak. Untuk menjaga kesehatan tubuh yang baik, para murid okultisme bertujuan memapankan aliran energi yang baik antara kedua bagian tersebut. Dalam usaha mencapai tujuan ini, orang diharuskan mengendalikan gerbang-gerbang di antara kedua tubuh ini. Gerbang -gerbang ini disebut chakra. Chakra atau 'roda' ini merupakan sisi -sisi energi yang berputar dan berlokasi di tujuh tempat berbeda di seluruh tubuh manusia." [5]


Melalui latihan postur dan gerak, kekuatan Kundalini dapat dibangunkan dan naik ke otak untuk mencapai Samadhi dan Kebebasan, dan kemudian Y ogi itu akan mendapatkan kekuatan batin dan hidup langgeng selama disukainya.

"Kundalini adalah Kekuatan Ilahi yang sedang tidur, tergulung dalam suatu makhluk, 2 jari di atas lubang pantat dan 2 jari di bawah kemaluan, itulah tempat Muladhara Chakra. Di sini letaknya Devi Kundalini yang luhur. Ia menggulung dirinya tiga setengah kali seperti seekor ular. Karena itu dikatakan "Kekuatan Ular" (Serpent Power). Ia merupakan kekuatan dalam mulut Sushumna Nadi dengan muka ke bawah. Ia merupakan kekuatan alam yang mencipta dan senantiasa ada hubungannya dengan penciptaan ... Bila Kundalini Shakti (kekuatan Kundalini) naik ke atas dan bersatu dengan Siva di Sahasrara Chakra (letaknya di otak) mengakibatkan keadaan Samadhi dan Kebebasan. Kemudian Yogi itu mendapatkan 8 macam Siddhis (kekuatan batin) besar dan 32 macam Siddhis kecil. Ia boleh hidup selama ia suka." [6]



"Bila Sang Kobra mencapai chakra makota, ia akan berhenti dan melingkar di sana. Pada titik ini Anda akan mengalami keadaan mental yang disebut kesadaran kosmos, samadhi, satori atau banyak nama lain yang diberikan orang untuk 'kebahagian sempurna". [7]


Dari kedua kutipan di atas kita dapat melihat bahwa usaha 'membangkitkan Kundali' dalam Yoga bukan sekedar untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan sempurna tetapi juga untuk mencapai keilahian yang penuh dan dapat menentukan kehidupannya sendiri. Yoga adalah jalan keselamatan bersatunya aku (jiwa) manusia (Atman) kepada sumbernya Realistas Brahman.
Postur/sikap tubuh dalam meditasi Yoga yang terkenal berbentuk Lotus (seperti piramid) dan Cobra dan ada gerakan Yoga yang merupakan penyembahan Matahari, seperti yang dengan jelas terlihat dalam gerak Surya Namaskar.

Moderniasi ajaran Hindu, khususnya latihan Yoga juga terjadi pada abad ke-XX, dan salah satunya yang terkenal menamakan dirinya sebagai Transcendental Meditation (TM), yang merupakan moder-nisasi meditasi Hindu yang coba diilmiahkan agar memenuhi gengsi rasionalisme dunia Barat. Maharishi Mahesh Yogi dari India mem-perkenalkan latihan ini di Amerika Serikat pada tahun 1959, dan membentuk organisasi bernama International Meditation Society, dan bahkan begitu meluas sehingga sempat diresmikan prakteknya di sekolah-sekolah karena manfaatnya dalam membantu membebaskan pecandu obat bius, tetapi karena kemudian dapat dibuktikan bahwa TM berbau agama Hindu, maka kegiatannya di sekolah-sekolah umum dibatasi. Maharishi mulai terkenal di tahun 1950-an ketika menjadi guru kebatinan pemusik pop The Beatles.

Daya tarik TM adalah karena tidak menyebut dirinya sebagai aliran agama, dan menawarkan relaksasi badan dan menenangkan pikiran, peningkatan kemampuan mental, dan pengembangan kepribadian, tetapi dalam prakteknya terlihat bahwa TM tidak lain adalah suatu bentuk latihan meditasi Hinduisme termasuk pembacaan ayat-ayat dari Kitab Veda dan Bhagawad Gita, buku-buku suci Hindu, maupun pengucapan mantra-mantra dalam latihan.



6. AGAMA HINDU DI INDONESIA


Hinduisme mulai diperkenalkan ke Indonesia sedini abad-4, dan beberapa dewa-dewi Hindu diadopsi ke dalam kepercayaan rakyat. Yang menarik untuk diamati adalah bahwa beberapa dewa-dewi yang di India, pusat agama Hindu yang kurang mendapat tempat terhormat, di Indonesia bisa menjadi penting setelah mengalami sinkretisasi dengan dewa-dewi tradisi. Syiwa di Indonesia disembah dalam berbagai bentuk, terutama bentuk Mahadewa dengan empat tangan. Di sini kita dapat melihat adanya perubahan peran dan sifat-sifat dewa-dewi Hindu yang berbeda dengan peran dan sifat-sifat mereka di tanah airnya sendiri India.


A. BRAHMANISME

Hindusime dikenal di Indonesia melalui kontak-kontak dagang dengan India dan jejak-jejaknya dikenal di Kalimantan Timur (Kutai, abad - 4), Bali dan Jawa Barat (Purnawarman, abad - 5). Para raja di daerah-daerah itu mulai memasukkan unsur-unsur Hindu misalnya dalam istana, bahkan lingkunga istana mulai memasukkan para brahman untuk memimpin upacara-upacara agama. Lama kelamaan, dengan dukungan kerajaan, agama Hindu itu mulai mempengaruhi kerajaan-kerajaan pedalaman di Jawa Tengah sekitar abad-abad - 8-9 (Candi Dieng [750] & Prambanan [856]), dan di Jawa Timur pada abad - 10 dan memuncak pada kerajaan Majapahit di abad - 14 yang kemudian memasukkan Hinduisme ke Bali. Para Brahman dan rahib India berdatangan.

Pengaruh Buddhisme juga masuk ke Sumatera Selatan dimana pada abad -7 kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Buddhis yang terkenal. Baik agama Hindu maupun Buddhis sesuai semangat sinkretisme di Indonesia bercampur dan sejak itu terjadi pergerakan para imam, rahib dan pengelana, dari Jawa dan Sumatera dan pusat-pusat kerajaan Hindu dan Buddha lainnya.

Para Brahman berperan memimpin upacara kerajaan yang sudah terpengaruh agama Hindu. Para Brahman itu juga rnendapat tugas untuk menjaga hubungan para raja dengan nenek moyang mereka agar memperoleh kekuatan, dan mengkaitkan tahta mereka dengan dewa-dewi Hindu dan Buddha. Beberapa imam Hindu dan Buddha rnemiliki kedudukan tinggi di istana dan sering mewakili para raja dalarn memutuskan kasus-kasus pengadilan. Mereka menggunakan kitab hukum India tetapi menyesuaikan dengan adat-istiadat dan situasi lokal.

Penyesuaian model dan selera India ke dalam kebutuhan lokal menjadi tanda yang jelas pada budaya klasik di kerajaan-kerajaan Jawa. Atribut dan nama-nama dewa-dewi Hindu diberikan kepada roh-roh setempat. Roh padi dicampurkan dengan isteri Wisnu menjadi Dewi Sri, dewi kemakmuran. Roh-roh penunggu gunung yang dipercayai penduduk Jawa bercampur dengan konsep Hindu mengenai pusat dunia dan menjadikan Gunung Meru sebagai tempat kediaman para dewa-dewi.

Buku-buku undang-undang, filsafat, dan upacara India dipelajari dan diberikan penafsiran dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Cerita-cerita kepahlawanan (epik) India yang besar juga diberi jubah Jawa, seperti Mahabarata sudah diterjemahkan dari bahasa Sansekerta pada abad - 10. Mitologi yang kaya itu mempengaruhi lagu-lagu istana (kakawin) dan wayang jawa (wayang purwa).


Agama Rakyat

Di luar para Brahman di istana, tinggal para pertapa hutan dimana para asketik dan mistik melakukan sihir, astrologi, pengusiran roh jahat, dan mencari kesaktian supra-natural. Disamping itu, bagi rakyat jelata juga terbuka kesempatan melakukan upacara kepada dewa-dewi, memberikan sesajen pada para brahman, terutama pada bulan purnama, mengucapkan sumpah dan melakukan upacara -upacara tertentu untuk mencapai keselamatan.

Upacara yang terkenal adalah upacara malam dewa Syiwa. Upacara ini mulai dipopulerkan di India pada abad - 15, dan kemudian menyebar ke Jawa dan Bali. Mereka yang bergadang semalam suntuk pada malam tanpa bulan dan mengurapi lingga-Syiwa dengan air suci dan dedaunan, akan memperoleh kehidupan sesudah mati yang cerah bersama dewa syiwa. Begitu kuatnya upacara itu sehingga dipercayai dapat menghapuskan dosa yang paling besar pun. Dosa bukan saja karena perbuatan jahat, tapi juga pekerjaan kotor, status sosial yang rendah, dan sifat pribadi yang jelek ikut berperan. Pemburu yang miskin, karena perannya dalam menghilangkan nyawa binatang akan mengalami nasib yang jelek. Sekali pun pemburu itu melakukan perbuatan baik, namun statusnya sebagai pemburu merugikan dia, tetapi bila ia melakukan upacara yang paling suci, itu dapat menyucikan dia dari dosa.

Masyarakat dianggap terdiri dari kelas-kelas, Brahman, Ksatria, Waisya, dan Sudra, dan ditambah kelas chandalas yaitu mereka yang memiliki pekerjaan kotor. Di Jawa dan Bali upacara sosial ini diikuti tetapi perbedaan atas kasta tidak. Waktu dianggap sebagai kekal dan bergerak dalam siklu-siklus yang tidak berkesudahan melalui empat zaman dan sekarang memasuki zaman ke-4 yaitu zaman Kali. Kebenaran harus dilakukan untuk mencapai zaman keemasan.


B. HINDU TENGGER

Menurut legenda Jawa, ketika kerajaan Hindu-Buddha Majapahit ditaklukan kerajaan Islam (1520), keluarga kerajaan Majapahit dan para imam melarikan diri ke Bali dan mewariskan agama Hindu di sana. Rakyat jelata kebanyakan lari ke pegunungan Tengger di Jawa Timur dan bercampur baur dengan penduduk asli Tengger yang menganut agama Jawa, di sini mereka tetap mewarisi tradisi keimaman agama Syiwa zaman Majapahit. Kawah gunung Bromo adalah tempat untuk melakukan upacara kurban bagi agama Tengger.

Berbeda dengan perkembangan di Bali, di Tengger agama rakyat sangat ketat dipengaruhi perkembangan agama Jawa dan Islam di sekelilingnya. Reformasi Hindu pada tahun 1970-an menghidupkan kembali agama Tengger yang mengandung pertentangan agama imam Syiwa dan agama rakyat Jawa. Festival terbesar adalah Karo (keduanya) yang lebih menggambarkan upacara dualisme semesta antara bumi dan langit, tanah dan air, laki dan perempuan, dan Muhammad dan Asyika. Asyika dianggap pendiri agama Tengger dan festival ini dibawah pengaruh Islam menjadi upacara karo, yaitu koeksistensi damai, yang melihatkan agama Islam dan agama Hindu Tengger.

Sejalan dengan kebangunan gerakan Islam pada tahun 1950-an dan 1960-an, di tengger juga dialami kebangunan pembaharuan agama Hindu. Ini terjadi karena pengaruh gerakan kaum muda Hindu Bali (parisadha Bali), kemudian banyak imam agama Tengger belajar ke Bali. Ini menyebabkan terjadi pembaruan agama Hindu Tengger bekerjasama dengan agama Hindu Bali pada tahun 1960-an dan 1970-an.


C. HINDU BALI

Bila Agama Hindu Tengger lebih bercirikan agama rakyat yang menyatu dengan agama Jawa, agama Hindu Bali dibawa oleh para Brahman dan keluarga Raja sehingga lebih kaya dalam upacara-upacara istananya. Namun, agama Hindu Bali juga memiliki banyak variasi di Bali sejalan dengan sinkretisasi dengan kepercayaan tradisi lokal yang berbeda-beda. Agama di sini semula disebut sebagai agama Hindu Bali, namun berbeda dengan agama Hindu yang berasal dari tradisi Veda India, sekte utama di sini menyembah Syiwa dan juga Buddha. Agama ini juga disebut agama Tirta (air) karena umumnya ada upacara-upacara menggunakan air suci. Sekarang nama resmi agama ini adalah agama Hindu Dharma.

Agama Hindu Dharma adalah agama upacara, umat pada umumnya tidak berbicara mengenai teologi namun setia menjalankan upacara agama sesuai petunjuk para imam. Kepercayaan akan kehidupan reinkarnasi itu disertai upacara nga ben (pembakaran mayat keluarga kaya). Mereka yang terpelajar mencari pengertian mengenai dewa-dewi lokal dan ikatannya dengan sesama dewa. Sebagai contoh dewa Batara di danau batur adalah saudara dewa Batara di gunung Agung, padahal keduanya berasal dari dewa-dewi Jawa kuno. Untuk menjaga Bali, Dewa Jawa (Sang Hyang Pasupati) mengirimkan 7 anak-anaknya ke Bali yang kemudian menjadi dewa-dewi lokal.


Agama Upacara

Penyebaran agama disamping melalui para imam (ajaran Veda) juga dengan kuat ditanamkan melalui upacara dan tari-tarian, khususnya yang bertemakan Mahabarata dan Ramayana, juga babad (sejarah tradisi) dan tutu/satua (sejarah yang diucapkan turun-temurun). Dewa utama di Bali adalah Trimurti Veda, yaitu Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara) dan Syiwa (perusak). Tiap keluarga Bali memiliki kuil (sangga) beruang tiga untuk menyembah Trimurti dan roh-roh nenek-moyang. Di tingkat desa, desa adat memiliki tiga kuil (pura - tiga kayangan), yaitu pura Desa, Puseh, dan Dalem yang dipersembahkan kepada Brahma, Wisnu dan Syiwa bersama-sama. Disamping itu ada pura yang bersifat regional yang disebut 'tempat suci dunia' (kahyangan jagad), seperti pura Besakih, Batur, Lempuyang Luhur, Gua Lawah, Uluwatu, Batukara, Pusering Jagad, Pulaki, Tanah Lot, dan Sakenan. Dari seluruh pura ini, pura Besakih di lereng gunung Agung adalah yang terbesar.

Kuil-kuil diisi Meru (pagoda) yang biasanya beratap ganjil jumlahnya dan maksimum sebanyak 11 buah dan biasanya digunakan untuk menghormati dewa-dewi atau nenek-moyang tertentu.

Agama Hindu Bali adalah agama upacara dimana agama dituturkan dari generasi-ke-generasi yang diperkuat dengan persembahan kepada dewa-dewi setiap hari, dan khususnya pada hari-hari tertentu ada persembahan untuk mengingat hari raya tertentu, dan juga untuk pergi ke kuil secara berkala. Setiap perayaan penting selalu didahului upacara agama untuk mengusir roh-roh jahat. Demikian juga, bencana alam (termasuk pengeboman di legian-Kuta) harus disucikan dengan upacara doa.

Hindu Bali menyembah dewa tertinggi yang disebut Sang Hyang Widi sebagai manifestasi dewa matahari Syiwa Raditya.



Catatan :
[1] Eerdsmans' Hanbook to The World's Religions, hlm. 179.
[2] Leo F. L:udzia, Tenaga Hidup, hlm.36.
[3] Henry R. Luce, The World's Great Religions, hlm.26.
[4] A. G. Honig Jr., Ilmu Agama I, hlm.102.
[5] Ludzia, Op.Cit., Hlm 48.
[6] Swami Sivananda, Yoga Asanas, h.142-143.
[7] Ludzia, Op. Cit., h.50-51.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

morzing.com dunia humor dan amazing!